Kabar Jawa – Pernahkah Anda membayangkan bagaimana suasana riuh pasar tradisional, gaya berpakaian rakyat , hingga cangkruk ngopi warga Jawa pada abad ke-19? Sejarah Nusantara tidak melulu berisi deretan tanggal pertempuran atau nama raja-raja.
Melalui Pameran Virtual Kearsipan Jawa Tengah 2026 bertema “Jawa Tengah dalam Arsip”, masyarakat diajak menyelami kembali lorong waktu untuk mengenal wajah asli kehidupan sosial wong Jawa masa lalu melalui rekaman foto dan dokumen kuno.
Pameran digital dan Diorama Virtual Jawa Tengah (DIVA Jateng) yang digagas Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) ini menyajikan potongan memori kolektif Karesidenan Semarang era 1800โ1900, lengkap dengan rekam jejak perkebunan kopi.
Untuk merekonstruksi kehidupan abad lalu, para peneliti dan masyarakat bergantung pada arsip statis yang tersimpan dengan rapi. Sebagaimana dijelaskan dalam analisis penelitian yang diterbitkan melalui E-Journal Universitas Diponegoro (UNDIP), arsip masa kolonial Belanda yang tersimpan di Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) merupakan rujukan primer yang sangat otentik bagi penulisan sejarah.
Khazanah peninggalan era kolonial tersebut tersimpan dalam berbagai bentuk, mulai dari arsip tekstual berupa laporan administrasi, keputusan pemerintah, hingga peta wilayah kuno. Salah satu koleksinya adalah arsip Tweede Waterstaat Te Semarang yang memuat rincian anggaran pembangunan gedung sekolah dan jalan raya.
Selain dokumen kertas, terdapat pula ribuan roll mikrofilm dan mikrofis yang digunakan untuk menjaga lembaran arsip tua agar tetap lestari. Sementara itu, koleksi visualnya mencakup foto hitam-putih, cetakan kaca, serta album dokumentasi yang merekam berbagai suasana kehidupan pada masa lampau.
Di masa lalu, kamera adalah barang mewah berspesifikasi rumit yang membutuhkan proses cuci-cetak khusus. Meskipun sebagian besar foto awal dibuat oleh pemerintah kolonial atau peneliti Eropa untuk keperluan eksplorasi wilayah, lensa kamera tanpa sengaja merekam realitas polos rakyat.
Foto-foto lama memperlihatkan perempuan yang sibuk menumbuk padi, anak-anak bermain di kali, hingga para buruh pemilah tembakau di wilayah Vorstenlanden.
Dalam sejarah fotografi Nusantara, sosok Kassian Cephas (1844โ1912) memegang peranan yang sangat legendaris. Sebagaimana diulas dalam publikasi riset Museum Ullen Sentalu, Cephas merupakan fotografer pribumi pertama asal Yogyakarta yang berguru pada fotografer Belgia, Isidore van Kinsbergen, sejak dekade 1860-an sebelum mendirikan studionya di Loji Kecil Wetan.
Selain menjadi fotografer resmi Keraton Yogyakarta dan mengabadikan para prajurit bregada, Cephas membuat karya monumental dengan memotret secara lengkap 160 panel relief Karmavibhangga di Candi Borobudur.
Sebagaimana dipaparkan dalam kajian yang diterbitkan melalui Lembaran Sejarah Universitas Gadjah Mada (UGM), berkembangnya studio foto komersial milik fotografer Eropa, Tionghoa, hingga bumiputra pada abad ke-19 telah mengubah fotografi menjadi media pelanggeng kenangan dan potret keanekaragaman lanskap sosial masyarakat.
Potret foto kuno ini juga merekam evolusi budaya berpakaian. Sebagaimana diidentifikasi dalam penelitian yang diterbitkan melalui e-Journal Universitas Pendidikan Indonesia / UNMUL, busana asli yang diturunkan oleh nenek moyang perempuan Jawa pada mulanya adalah kain lilit sebagai bawahan.
Sementara itu, kebaya lahir belakangan sebagai bentuk akulturasi budaya dan ajaran keagamaan yang dibawa oleh para pedagang dari Timur Tengah, Tionghoa, dan Eropa. Lewat foto, kita bisa melihat kontras tajam antara kebaya halus beraksesoris mewah milik kaum ningrat dengan kain lilit sederhana yang dikenakan rakyat biasa.
Aktivitas ekonomi masyarakat Jawa abad ke-19 tidak bisa dilepaskan dari sektor perkebunan dan pertanian. Sejak berlakunya sistem Tanam Paksa (Cultuurstelsel) pada tahun 1830 di bawah Gubernur Jenderal Johannes van den Bosch, penduduk desa diwajibkan menanam komoditas ekspor utama seperti kopi, tebu, dan nila.
Dalam pameran bertajuk “Sak Seruput Sak Cerita: Lelakon Kopi Jawa Tengah ing Arsip” yang dihadirkan ANRI, kopi tidak hanya dilihat sebagai barang dagangan. Budaya ngopi di Jawa telah lama menjadi ruang interaksi sosial tempat warga berkumpul, berdiskusi, dan membicarakan dinamika kehidupan ekonomi maupun kemasyarakatan.
Selain perkebunan kopi dan tembakau, arsip foto juga merekam komoditas unik daerah lainnya. Sebagaimana tercatat dalam laporan pameran sejarah lokal, wilayah Wonogiri di masa lalu rupanya memiliki potensi alam agraris yang sangat cocok untuk budidaya serat nanas, bahkan sempat menjadi salah satu daerah penghasil serat nanas kualitas terbaik di Hindia Belanda.
Dokumen dan foto tempo dulu memperlihatkan betapa besar perubahan kehidupan masyarakat dari masa kolonial hingga sekarang. Dalam bidang pendidikan, misalnya, akses sekolah dahulu masih terbatas dan dibedakan berdasarkan latar belakang. Arsip Tweede Waterstaat mencatat keberadaan sekolah seperti Europeesche Lagere School (ELS) yang diperuntukkan bagi anak-anak Eropa, sementara anak bumiputra umumnya bersekolah di Hollands Inlandsche School (HIS) atau sekolah desa. Kini, kesempatan memperoleh pendidikan telah terbuka lebih luas bagi berbagai lapisan masyarakat.
Perubahan juga terlihat dari gaya berpakaian dan pola interaksi sosial. Kebaya serta kain lilit yang dahulu menjadi busana sehari-hari perempuan kini lebih sering digunakan dalam acara formal atau hadir dalam bentuk pakaian modern. Begitu pula kebiasaan masyarakat yang dahulu banyak berinteraksi langsung di pasar dan ruang publik, sedangkan saat ini komunikasi semakin sering berlangsung melalui layar ponsel.
Perubahan tersebut sekaligus menunjukkan pentingnya menjaga arsip sejarah agar bangsa tidak kehilangan ingatan terhadap masa lalunya. Dokumen dan foto kuno menyimpan jejak perjuangan, kebudayaan, serta identitas lokal yang perlu diwariskan kepada generasi berikutnya. Kajian tim ISI Surakarta yang diterbitkan dalam Diseminasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat juga menyebutkan bahwa pameran foto sejarah dengan teknik storytelling dapat membantu meningkatkan literasi visual dan kesadaran sejarah generasi muda terhadap potensi daerahnya.
Melalui digitalisasi seperti yang dilakukan dalam Pameran Virtual Kearsipan Jawa Tengah dan DIVA Jateng, arsip-arsip lama kini tidak hanya tersimpan di ruang penyimpanan, tetapi juga dapat diakses masyarakat secara lebih luas. Dengan begitu, dokumen dan foto bersejarah bisa menjadi jendela untuk memahami kehidupan masa lalu sekaligus melihat perubahan yang membentuk masyarakat hari ini.