
Kabar Jawa– Jika membayangkan peradaban kuno dunia, pikiran kita mungkin langsung tertuju pada reruntuhan Pompeii di Italia atau kompleks Angkor Wat di Kamboja.
Namun, di Indonesia sebenarnya juga ada kawasan metropolitan kuno yang tak kalah mengagumkan, yaitu Situs Cagar Budaya Trowulan.
Terhampar melintasi wilayah Kecamatan Trowulan dan Sooko di Kabupaten Mojokerto hingga mencakup Mojoagung serta Mojowarno di Kabupaten Jombang, situs kepurbakalaan seluas kurang lebih 9 x 11 kmยฒ hingga 100 kmยฒ ini diakui para ilmuwan sebagai satu-satunya peninggalan berbentuk perkotaan (urban site) dari era Hindu-Buddha klasik (abad ke-13 hingga ke-15 M) di Nusantara.
Sebagaimana diulas dalam kajian tata kota yang diterbitkan melalui repositori Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Ampel Surabaya, Trowulan pada masa kejayaannya bernama Wilwatikta dan berfungsi sebagai pusat kekuasaan Imperium Majapahit.
Keberadaan kota ini dicatat secara lugas dalam kitab pujasastra Kakawin Nฤgarakแนtฤgama tulisan Mpu Prapanca pada tahun 1365 M, serta diperkuat oleh catatan perjalanan utusan Tiongkok, Ma Huan (Ying-Yai Sheng-Lan), sewaktu mendampingi Laksamana Cheng Ho.
Secara ekologis dan lanskap, lokasi ibukota ini dipilih dengan perhitungan geografis yang matang. Lokasinya terletak di atas dataran kipas aluvial yang subur di antara hamparan tiga gunung api (Gunung Penanggungan, Welirang, dan Anjasmara) serta dekat dengan urat nadi pelayaran Sungai Brantas.
Majapahit merancang kotanya lengkap dengan jaringan saluran irigasi bawah tanah, waduk penampungan air, hingga benteng bata merah dan hunian berarsitektur terakota yang sangat maju.
Daftar Situs Cagar Budaya di Trowulan
Untuk menyusuri kejayaan tata kota masa lalu Majapahit, berikut adalah 6 peninggalan arkeologis utama di Trowulan yang menyimpan cerita sejarah mendalam.
1. Gapura Bajang Ratu: Gapura Paduraksa Terbesar Tanda Penghormatan Raja Jayanegara
Terletak di Dusun Kraton, Desa Temon, Gapura Bajang Ratu berdiri anggun menjulang setinggi 16,5 meter dengan material utama batu bata merah.
Bangunan ini mengusung tipe paduraksa, yaitu pintu gerbang beratap yang dipenuhi ukiran dan relief rumit bernilai seni tinggi.
Sebagaimana dipaparkan dalam studi arsitektur kuno yang diterbitkan melalui repositori Universitas Indraprasta PGRI Jakarta, nama Bajang Ratu secara harfiah merujuk pada istilah “Raja Cilik” atau bangsawan yang cacat.
Tradisi tutur masyarakat menghubungkan situs ini dengan Raja Jayanegara (raja kedua Majapahit) yang naik takhta dalam usia sangat muda.
Para sejarawan mengidentifikasi struktur ini sebagai pintu masuk menuju bangunan รrenggapura (Sri Ranggapura), yakni kompleks pendarmaan atau suaka spiritual untuk memuliakan arwah Raja Jayanegara pasca kemangkatannya pada tahun 1328 M. Sayap gapura yang lebar melambangkan proses pelepasan jiwa menuju alam kelanggengan.
2. Candi Tikus: Petirtaan Kerajaan dengan Arsitektur Konsep Gunung Mahameru
Di Dusun Dinuk, Desa Temon yang berjarak sekitar 500 meter dari Gapura Bajang Ratu terdapat kompleks pemandian suci (petirtaan) kerajaan yang amat unik bernama Candi Tikus.
Berbeda dari candi pada umumnya yang menjulang ke atas, struktur utama Candi Tikus berada amblas sekitar 3,5 meter di bawah permukaan tanah dengan cekungan kolam bujur sangkar berukuran 22,5 x 22,5 meter.
Seperti dipaparkan dalam penelitian kualitas visual arsitektur dari repositori Universitas Brawijaya, bangunan di tengah kolam ini dirancang secara teras-berundak dengan menara-menara kecil yang tertata konsentris.
Bentuk tata ruang ini merupakan perwujudan simbolis dari Gunung Mahameru, puncak kosmis tempat bersemayamnya para dewa dan sumber air keabadian (amerta).
Selain berfungsi sebagai tempat ritual penyucian para bangsawan, petirtaan ini dulunya terhubung dengan sistem saluran air bawah tanah untuk mengatur distribusi air di sekitar keraton.
Nama “Candi Tikus” sendiri disematkan warga karena saat pertama kali digali pada tahun 1914, gundukan tanah situs ini menjadi sarang pembasmian hama tikus persawahan.
3. Gapura Wringin Lawang: Gerbang Candi Bentar Pembuka Kawasan Pemukiman Utama Majapahit
Bergeser ke Desa Jatipasar, berdiri kokoh Gapura Wringin Lawang, sebuah struktur gerbang tipe candi bentar (pintu gerbang terbelah dua tanpa atap) setinggi kurang lebih 15,5 meter dari susunan bata merah rapat.
Dalam kajian tata ruang kota Majapahit yang dipublikasikan dalam Visual Heritage Journal, Wringin Lawang diperkirakan kuat bertindak sebagai pintu gerbang luar atau akses utama memasuki kawasan pemukiman padat dan kompleks pejabat kerajaan Majapahit.
Nama Wringin Lawang berarti “Pintu Beringin”, mengacu pada keberadaan sepasang pohon beringin rindang yang pernah tumbuh di samping gerbang ini.
Secara filosofis Hindu, wujud gerbang terbelah dua ini melambangkan gerbang penyadaran bagi manusia akan pilihan hidup antara kebaikan dan keburukan sebelum melangkah masuk ke area pemukiman kotaraja.
4. Kolam Segaran: Waduk Kuno Luas 6,5 Hektar untuk Penampungan Air dan Jamuan Tamu Negara
Salah satu bukti paling nyata mutakhirnya teknologi hidrologi Majapahit adalah Kolam Segaran yang berlokasi di Desa Trowulan.
Ditemukan pertama kali oleh arsitek Belanda Ir. Henri Maclaine Pont pada tahun 1926, kolam raksasa ini memiliki panjang 375 meter, lebar 175 meter, serta kedalaman mencapai 2,88 meter dengan tebing pembatas berstrukur benteng bata tebal 1,6 meter.
Sebagaimana dijelaskan dalam kajian sistem pertanian dan irigasi Majapahit yang diterbitkan melalui repositori Universitas Gadjah Mada (Jurnal Janus UGM), waduk buatan seluas 6,5 hektar ini memegang fungsi ganda yang sangat vital:
- Pengendali Mikro Iklim & Reservoir: Berfungsi menampung limpasan air hujan, mencegah banjir, serta menjaga pasokan air dan kelembaban udara kawasan keraton di saat musim kemarau.
- Fasilitas Diplomatik & Rekreasi: Dalam kisah-kisah rakyat dan catatan kuno, kolam penampungan air penyerupa lautan mini (segaran) ini difungsikan sebagai arena rekreasi keluarga istana sekaligus tempat perjamuan megah bagi para duta besar dan tamu asing dari mancanegara.
5. Candi Brahu: Candi Pembeda Berbahan Bata Merah Tempat Pembakaran Jenazah Raja-Raja
Berada di kawasan pemukiman Dukuh Jambumente, Desa Bejijong, Candi Brahu berdiri megah setinggi 22 meter dengan alas bangunan berukuran 18 x 22,5 meter.
Candi bernuansa Buddhis ini dibuat dari susunan bata merah polos tanpa banyak relief rumit di tubuhnya.
Berdasarkan kajian repositori Universitas Negeri Surabaya (UNESA) mengenai cagar budaya Trowulan, Candi Brahu diyakini berusia lebih tua dibandingkan mayoritas candi lain di Trowulan.
Nama “Brahu” dihubungkan dengan sebutan Waharu atau Warahu, yakni nama bangunan suci yang tercantum dalam Prasasti Alasanta gubahan Mpu Sindok dari Kerajaan Mataram Kuno era Jawa Timur berangka tahun 939 M (861 Saka).
Dalam legenda dan tradisi lokal setempat, Candi Brahu dipercaya secara turun-temurun sebagai tempat suci pelaksanaan upacara kremasi atau pembakaran jenazah raja-raja Majapahit, yang diperkuat dengan temuan sisa-sisa arang abu pembakaran di dalam rongga candi.
6. Situs Lantai Pendopo Ageng Trowulan: Struktur Pemukiman dan Alun-Alun Kerajaan
Situs Pendopo Ageng Trowulan yang terletak di Dusun Nglinguk, Desa Trowulan, menandai kawasan pusat pemerintahan dan kegiatan birokrasi Majapahit masa lalu.
Di sekitarnya, para arkeolog menemukan fondasi struktur bata, umpak-umpak batu berukuran raksasa tempat berdirinya tiang kayu (watu umpak), serta struktur lantai bata ubin bermotif segi enam di Situs Sentonorejo.
Merujuk pada telaah Kakawin Nฤgarakแนtฤgama, kawasan ini diidentifikasi sebagai lapangan Wanguntur atau Manguntur yakni alun-alun utama tempat Raja Hayam Wuruk beserta para pembesar istana menyaksikan gladi prajurit, perayaan keagamaan, serta menerima penghadapan rakyat.
Untuk mengenang kebesaran lokasi bersejarah ini, pada rentang tahun 1964โ1973, Kodam V/Brawijaya membangun sebuah pendopo megah berarsitektur joglo Jawa tepat di atas lokasi yang diyakini sebagai bekas pusat keraton tersebut.
Panduan Rute Jelajah Jalur Arkeologi Trowulan
Menjelajahi kawasan cagar budaya Trowulan kini sangat mudah karena letaknya yang strategis di lintasan jalan nasional penghubung SurabayaโMojokertoโJombangโSolo, berjarak sekitar 55โ60 km di sebelah barat daya Kota Surabaya atau sekitar 10โ12 km dari pusat Kota Mojokerto.
Agar perjalanan Anda terstruktur dan efisien dalam menyusuri jejak ibukota Majapahit, berikut rekomendasi rute penjelajahan satu hari yang bisa diikuti:
- Titik Awal (Sisi Timur): Mulailah kunjungan Anda pagi hari di Gapura Wringin Lawang (Desa Jatipasar) sebagai gerbang pembuka utama kawasan kota kuno.
- Kawasan Utara (Kompleks Bangunan Suci): Meluncur ke arah barat daya menuju Candi Brahu dan Candi Gentong di Desa Bejijong untuk menyaksikan kemegahan candi bata merah bernuansa Buddha.
- Pusat Informasi & Rekreasi: Lanjutkan ke Kolam Segaran dan Museum Trowulan (Pusat Informasi Majapahit/PIM) di Desa Trowulan untuk melihat langsung puluhan ribu artefak terakota, patung, dan mata uang kepeng kuno hasil ekskavasi.
- Kompleks Pusat Pemerintahan: Singgah ke Pendopo Ageng Trowulan dan Situs Lantai Segienam Sentonorejo untuk merasakan atmosfer alun-alun dan kawasan kediaman para pejabat Majapahit.
- Titik Akhir (Sisi Selatan): Tutup jelajah sejarah Anda di Candi Tikus dan Gapura Bajang Ratu di Desa Temon saat sore hari, waktu terbaik untuk mengabadikan pencahayaan matahari terbenam di antara petirtaan dan gapura paduraksa megah.