Khutbah Idul Adha 2026 Tema Pengorbanan, Contoh Teks Lengkap untuk Persiapan Sholat Ied 1447 H

Bagikan :
Ilustrasi contoh khutbah Hari Raya Idul Adha 2026 yang bisa dijadikan referensi (AI // Kabar Jawa)

KabarJawa.com – Pada tanggal 27 Mei 2026 mendatang, umat Islam di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia, akan serentak merayakan Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah.

Dan seperti biasanya, akan ada pelaksanaan ibadah Sholat Ied berjamaah yang kemudian disempurnakan dengan penyampaian khutbah oleh khatib.

Bagi Anda yang pada tahun ini kebetulan mendapatkan amanah maupun bertugas untuk menyampaikan khutbah tersebut, maka ada baiknya untuk mempersiapkan materi lebih awal mulai dari sekarang.

Untuk itu, melansir dari laman Majelis Ulama Indonesia (MUI), berikut KabarJawa.com sajikan naskah khutbah Idul Adha lengkap yang bisa Anda jadikan referensi.

Teks Khutbah Idul Adha 1447 H / 2026 yang Lengkap

الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ – الله ُأَكْبَرُ x3

كَبِيْرًا, وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْراً, وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاَ, لاَإِلهَ إِلاَّالله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَرَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَاابَ وَحْدَهُ لَاإِلهَ إِلاَّالله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيّاَهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ.

اَلْحَمْدُ ِللهِ الَّذِيْ جَعَلَ اْلبَيْتَ مَثَابَةً لِلنَّاسِ وَأَمْناً ، وَأَشْهَدُ اَنْ لآ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ جَعَلَ حَجَّ اْلبَيْتَ مِنَ الشَّرِيْعَةِ رُكْناً وَصَرَّفَ وُجُوْهَنَا اِلىَ قِبْلَتِهِ فَكَانَ ذَالِكَ مِنْ نِعْمَةِ اْلعُظْمىَ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ خَيْرَ مَنْ طَافَ بِاْلبَيْتِ اْلعَتِيْقِ ذَاكِرًا أًسْمَآءَ رَبِّهِ اْلحُسْنىَ ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلىَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلىَ آلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَأَتْباَعِهِ اِلىَ يَوْمِ اْلقِيَامَةِ ، أَمَّا بَعْدُ

فَيَآأَيُّهَاالمُؤْمِنُوْنَ وَالمُؤْمِناَتِ أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَاتَّقُوْا الله َحَقَّ تُقاَتِهِ وَلاَتَمُوْتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَاعْلَمُوْا أَنَّ يَوْمَكُمْ هَذَا يَوْمٌ فَضِيْلٌ وَعِيْدٌ شَرِيْفٌ جَلِيْلٌ. قَالَ اللهُ تَعَالى فِيْ كِتَابِهِ الكَرِيْمِ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الَّرجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الَّرحمن الرحيم. إِنّا أَعْطَيْنَاكَ الكَوْثَرَ. فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ. إِنَّ شَانِئَكَ هُوَالأَبْتَرُ

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd..

Kaum Muslimin jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah

Segala puji bagi Dzat yang Mahakuat. Di pagi hari nan cerah saat mentari mulai terik dan harapan yang membuncah, kebesaran Ilahi dikumandangkan di seluruh penjuru dunia.

Umat Islam sejagat berbondong-bondong menuju tempat-tempat suci untuk bersimpuh di hadapan-Nya dalam rangka Hari Raya Idul Adha nan bahagia.

Pada waktu yang bersamaan, kaum Muslimin yang tengah menjalankan ibadah haji, kini tengah melontar Jumrah Aqabah setelah wukuf di Arafah sebagai simbol menundukkan ego dan melawan sifat-sifat syaithaniyah dan hayawaniyah yang ada dalam diri setiap manusia.

Dengan spirit ketundukan dan kepatuhan akan kebesaran-Nya, umat Islam di seluruh penjuru bumi menggemakan takbir dan tahmid yang menggetarkan kalbu emnsyukuri hidayah yang telah diraihnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd

Kaum Muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Idul Adha merupakan hari raya bersejarah untuk mengenang kembali peristiwa pengorbanan Nabi Ibrahim atas putranya, Ismail AS.

Saat Nabi Ibrahim diperintah oleh Allah melalui mimpinya untuk “menyembelih” anaknya yang sangat dicintai, dia menghadapi dua pilihan yaitu mengikuti dorongan perasaan dengan menyelamatkan Ismail, atau mentaati perintah Allah dengan totalitas ketundukan.

Di tengah kebimbangan itu, Ismail menyatakan dengan tegas atas pertanyaan ayahnya, bahwa ia siap dengan sepenuh hati untuk menjalankan perintah Allah SWT. Kemudian, turunlah firman Allah SWT:

وَنَادَيْنَاهُ أَنْ يَا إِبْرَاهِيمُ. قَدْ صَدَّقْتَ الرُّؤْيَا إِنَّا كَذَٰلِكَ نَجْزِي الْمُحْسِنِينَ. إِنَّ هَٰذَا لَهُوَ الْبَلَاءُ الْمُبِينُ. وَفَدَيْنَاهُ بِذِبْحٍ عَظِيمٍ.

“Dan kami panggillah: Wahai Ibrahim, sesungguhnya engkau telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini sebagai ujian yang nyata. Dan kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS As-Shaffat: 104-107).

Ini adalah ujian ketaatan Nabi Ibrahim kepada Allah SWT. Di kemudian hari, pengorbanan ini menjadi anjuran bagi umat Islam untuk menyembelih hewan qurban, di setiap tanggal 10 Dzulhijah dan pada hari tasyrik, yaitu 11, 12, dan 13 Dzulhijjah.

Deskripsi historis ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada Allah SWT dan kerelaan untuk berkorban adalah esensi yang melekat dari ibadah Qurban.

Nilai-nilai tersebut telah diimplementasikan dengan baik oleh Nabi Ibrahim dan ditanamkan kepada anak kesayangannya, Ismail as.

Sikap rela berkorban ini merupakan salah satu karakter keberimanan yang dimunculkan dari kedalaman spiritualitas demi sebuah tujuan tertinggi.

Dalam konteks hubungan sosial, rela berkorban merupakan perwujudan sikap “altruisme”, menjunjung nilai-nilai “mengutamakan orang lain” dari pada diri sendiri.

Yaitu, mengorbankan apa yang kita punya, bahkan yang kita cintai untuk kesejahteraan orang lain.

Jika Nabi Ibrahim as. mengorbankan Ismail, sedangkan para sahabat Rasulullah Muhammad SAW mencontohkan dengan rela mengorbankan segala materi untuk membantu orang lain yang lebih memerlukan, walaupun mereka sendiri masih membutuhkannya. Allah berfirman:

وَيُؤْثِرُوْنَ عَلَى اَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

“…Mereka (kaum Anshar) mengutamakan kepentingan orang lain (kaum Muhajirin) atas diri mereka, meski mereka sendiri masih memerlukannya…” (QS Al-Hasyr: 9).

Ayat ini menunjukkan keberhasilan Rasulullah SAW dalam menanamkan karekater kuat dan memupuk sikap solidaritas kemanusiaan di kalangan para sahabat.

Atas alasan ini, mereka rela mengorbankan apapun yang dimilikinya demi kepentingan yang lebih besar.

Untuk itu, hari raya Idul Adha seharusnya dijadikan momentum untuk penguatan karakter keimanan, memupuk rasa solidaritas yang mampu mewujudkan kesejahteraan sosial yang berkeadilan.

Dalam satu studi tentang “Spending Money on Others”, dalam ulasan Blanding, M (2023) Why giving to others makes us happy.

Working Knowledge, Harvard Business School menyatakan bahwa para peneliti meminta partisipan untuk sekadar mengingat kembali saat mereka dermawan kepada orang lain dan membandingkan perasaan mereka saat mereka memberi kepada orang lain dan saat mengingat mereka menghabiskan uang untuk diri sendiri.

Para peneliti tersebut menemukan bahwa orang tidak mengekspresikan kebahagiaan saat mengingat menghabiskan uang untuk diri sendiri sebanyak dan sebaik saat mereka mengingat tindakan memberi kepada orang lain.

Hasil riset Elizabeth Dunn, pakar psikologi sosial dari University of British Columbia, Vancouver, Kanada, menyimpulkan bahwa semakin besar uang atau harta yang dibelanjakan untuk menolong sesama atau kepentingan orang lain terbukti menambah kebahagiaannya sebagaimana dimuat dalam Jurnal SCIENCE (2008) dengan judul tulisan yang mengejutkan: “Spending Money on Others Promotes Happiness” (Membelanjakan Uang untuk Orang Lain Meningkatkan Kebahagiaan).

Temuan ilmiah tersebut menunjukkan, bahwa yang terpenting bukanlah jumlah uang yang kita miliki, tetapi bagaimana kita membelanjakannya.

Orang yang menyedekahkan uang atau hartanya untuk membantu mereka yang membutuhkan ternyata lebih bahagia daripada mereka yang menghamburkan uang untuk kepuasan diri sendiri.

Logika terbalik yang jamak terjadi justru mengumpulkan harta sebanyak-banyaknya untuk kepentingan pribadi demi mengejar kebahagiaan semu.

Momentum Idul Adha yang menekankan prinsip solidaritas dan soliditas publik jika benar-benar dijadikan landasan untuk membangun negeri dapat dimulai saat ini.

Seberat apapun problem yang dihadapi oleh negara ini, dengan modal semangat pengorbanan dan solidaritas kemanusiaan, niscaya berbagai masalah akan teratasi.

Sebab, rakyat dan para pemimpinnya merasa “berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing”. Langkah ini juga akan mengikis sikap mementingkan diri sendiri dan mencintai harta (hubbud dunya) secara berlebihan.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd

Kaum Muslimin jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah

Berdasarkan paparan di atas, ibadah qurban mempunyai dua nilai: kesalehan spiritual dan kesalehan sosial. Kesalehan spiritual dalam hal ini adalah penyerahan diri kepada Allah SWT dan mengekang egoisme, sebagaimana dicontohkan Nabi Ibrahim.

Sedangkan kesalehan sosial tercermin dari semangat rela mengorbankan diri, seperti dalam diri Ismail. Sikap ini penting untuk diteladani, terutama bagi generasi muda Indonesia.

Ismail adalah figur anak saleh, atau prototipe generasi muda yang baik. Ia berpandangan jauh ke depan atas dasar spiritualitas yang tinggi, berani mengambil sikap di saat situasi yang sulit, rela berkorban, dan berbakti kepada orang tuanya.

Ismail bukanlah pemuda penakut yang mudah putus asa, tapi seorang lelaki muda gentleman yang berani mengambil risiko atas sebuah prinsip yang diyakininya.

Ketika hendak dikorbankan oleh ayahnya tidak ada sedikitpun keraguan dalam hatinya dan berkata:

يَٰأَبَتِ ٱفْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِى إِن شَاءَ ٱللَّهُ مِنَ ٱلصَّٰبِرِينَ

“…Wahai ayahku, jika memang itu perintah Tuhanmu, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, Insyaallah engkau akan menjumpaiku termasuk orang yang sabar.” (QS. As-Shaffat: 102).

Ismail juga dikenal sebagai sosok yang jujur. Dalam surat Maryam ayat 55 dijelaskan bahwa Ismail adalah sosok pemuda yang “shadiqal wa’di”, yaitu jujur dan menepati janji. Imam al-Thabari dalam kitab Jami’ul Bayan menjelaskan bahwa ada dua dimensi kejujuran dalam diri Ismail.

Pertama, kejujuran yang dibangun dalam relasi antar manusia, dan kedua, kejujuran yang bersifat lebih eksklusif antara manusia dengan Tuhannya. Ini adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

Dengan begitu, berbohong adalah termasuk dosa besar (kabura maqtan), sebab ia telah melakukan dua hal yaitu menipu orang lain dan ingkar janji di mata Allah.

Itulah hebatnya Ismail. Andai saja generasi muda Indonesia mampu meneladani Ismail, tentu bangsa ini akan bergerak lebih cepat ke arah yang lebih maju dan sejahtera.

Kesalehan Ismail ini sudah sepatutnya menjadi inspirasi dan teladan bagi generasi muda zaman sekarang. Apalagi, sejak 2012 lalu hingga 2035, Indonesia telah dan akan dibanjiri generasi muda usia produktif, atau yang biasa disebut bonus demografi.

Yaitu, periode jumlah tenaga kerja produktif jauh lebih banyak daripada tenaga non produktif. Puncak bonus demografi adalah antara tahun 2020-2035, di mana jumlah penduduk produktif (usia 15-64) akan jauh lebih besar dari pada usia non produktif (di bawah 15, dan di atas 64).

Ini artinya peranan generasi muda sekarang sangat strategis. Namun, bangsa ini juga tengah dihadapkan pada problematika yang menimpa generasi muda; mulai dari kasus penyalahgunaaa NARKOBA, miras, terorisme, dan kekerasan.

Menurut Indonesia Drugs Report 2022 yang dirilis oleh Pusat Penelitian Data, dan Informasi Badan Narkotika Nasional (Puslitdatin BNN) prevalensi jumlah penduduk usia 15-65 tahun yang terpapar narkoba pada 2021, setidaknya pernah pakai, pada 2021 adalah sejumlah 4,8 juta jiwa.

Menurut data mereka, rentang usia pertama kali dalam menggunakan narkoba adalah pada 17 sampai 19 tahun.

Di sinilah mengapa usia remaja menjadi rentang usia pengguna narkoba terbanyak dan pada usia mereka 35 sampai 44 tahun, ketergantungan ini dapat menjadi tanpa henti.

Selain itu, kekerasan yang melibatkan pemuda juga masih terus menghiasi berita-berita di media massa, seperti bullying, tawuran, dan geng motor.

Hal ini bisa terjadi antara lain dikarenakan cara berfikir yang pendek, tidak mempunyai harapan hidup, serta mementingkan diri sendiri.

Apalagi didasarkan pada sebuah keyakinan yang ingin cepat mendapatkan kesenangan hidup dengan cara mengorbankan diri dan bahkan menyakiti orang lain.

Ini tidak boleh dibiarkan. Bagi orang tua dan juga generasi muda, perlu meneladani kisah keluarga Nabi Ibrahim as, supaya bisa terhindar dari hal-hal negatif.

Sebab, Nabi Ibrahim telah berhasil membangun keluarga dengan karakter pasrah total kepada Allah SWT. dan gigih berjuang untuk meraih apa yang diinginkan dengan kesungguhan tekad dan komitmen ilahiyah.

Dalam istilah agama, hal ini lebih kita kenal sebagai ikhtiar dan tawakkal (i’qil wa tawakkal).

Kedua hal ini tidak dapat dipisahkan, karena merupakan satu-kesatuan yang saling berkaitan dan saling mendukung untuk tercapainya keseimbangan dalam perjalanan kehidupan untuk meraih kebahagiaan dan kesuksesan di dunia dan akhirat.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd

Kaum Muslimin jamaah shalat Idul Adha rahimakumullah

Tidaklah tercapai suatu tujuan ataupun cita-cita dalam kehidupan, melainkan harus didukung oleh ikhtiar atau totalitas usaha dalam meraihnya.

Kita harus berusaha semaksimal mungkin dalam upaya meraih tujuan hidup. Namun tidak instan, perlu usaha keras dan totalitas untuk meraih cita dengan karakterb kuat dan semangat berkorban.

Hal ini tidak akan bermakna, serta seringkali menjadi sia-sia, apabila tidak dibarengi dengan totalitas kepasrahan dan doa kepada Allah SWT.

Tentang kedua prinsip ini, istri Nabi Ibrahim, Hajar telah mengajarkan kepada kita dalam peristiwa Sai. Ia tidak duduk termangu menunggu keajaiban dari langit.

Ia berlari ke sana ke mari, dari satu bukit tandus ke bukit tandus lainnya untuk mencari air. Ia tidak duduk termenung dan menangis tanpa daya dan berputus asa.

Ia gunakan segenap kekuatan kakinya, kehendaknya, dan pikirannya dengan terus mencari, bergerak, dan berjuang tanpa henti.

Kita tahu bahwa Hajar tidak mendapatkan apa yang dicari dari hasil upayanya saat naik ke gunung Shafa dan gunung Marwah, tetapi dari karunia Allah SWT. lewat tendangan kaki balita Nabi Ismail as.

Pencarian air ini melambangkan sebuah proses upaya dengan gigih untuk sebuah tujuan hidup yang lebih baik di muka bumi meskipun kadang mendapatkan bukan dari upayanya tetapi karena karunia Allah SWT.

Sai mengisyaratkan makna perjuangan hidup yang pantang menyerah. Setiap orang harus siap berjuang keras dan pantang menyerah.

Namun demikian, juga selalu disertai dengan kesabaran, keuletan, dan ketaqwaan kepada Allah SWT. Dalam hidup ini, kita haruslah siap menghadapi segala kemungkinannya.

Terkadang kegagalan harus kita alami untuk menjadikan kita semakin kuat. Terkadang juga, keberhasilan datang menghampiri usaha keras.

Tetapi, jangan sampai terjerumus lupa diri kepada Allah, Sang Penentu segala hasil. Ini penting agar kita tidak sombong, angkuh, dan lupa atas keberhasilan tersebut.

Itulah tujuan yang ingin dicapai dengan sikap tawakkal dalam totalitas usaha, sebagaimana dicontohkan Hajar saat mendaki dan menuruni bukit Shafa dan Marwah.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Allahu Akbar Wa lillahil Hamd

Kaum Muslimin jamaah Shalat Idul Adha rahimakumullah

Di akhir khutbah ini, saya ingin memberikan underline bahwa Idul Qurban mengantarkan kita untuk dapat meneladani kisah sukses keluarga Nabi Ibrahim.

Pertama, sosok Nabi Ibrahim, Hajar, dan Nabi Ismail AS mengajarkan kepada kita tentang pentingya ketaatan dan kepatuhan kepada Allah, serta optimisme dalam menjalani hidup.

Ini merupakan pendidikan karakter di lingkungan keluarga yang patut diteladani. Masing-masing anggota keluarga mempunyai karakter kuat yang didasari pada keimanan. Sikap taat kepada Allah, gigih berjuang, dan jujur harus diutamakan dalam mengarungi kehidupan ini.

Kedua, peristiwa qurban mengajarkan kita tentang pentingnya pengorbanan dalam kehidupan sehari-hari untuk memupuk solidaritas kemanusiaan.

Tanpa adanya pengorbanan, manusia akan mementingkan dirinya sendiri, lalu menjadi manusia rakus dan acuh terhadap lingkungan sekitar.

Di hari raya idul Adha kali ini, mari kita kobarkan semangat dan optimisme untuk mewujudkan Indonesia yang lebih baik dengan meneladani totalitas kepasrahan Nabi Ibrahim kepada Allah; kerelaan pengorbanan dan kejujuran Nabi Ismail, serta kegigihan dan ikhtiyar yang dilakukan oleh Hajar.

جَعَلَنَا اللهُ وَإِيَّاكُمْ مِنَ السُّعَدَآءِ المَقْبُوْلِيْنَ وَأَدْخَلَنَا وَإِيَّاكُمْ فِييْ زُمْرَةِ عِباَدِهِ المُتَّقِيْنَ. قَالَ تَعَالى فِي القُرآنِ العَظِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ . قُلْ إِنَّمَا أَنَاْ بَشَرٌ مِثْلُكُمْ يُوْحَى إِلَيَّ أَنَّمَآ إِلهُكُمْ إِلهٌ وَاحِدٌ فَمَنْ كَانَ يَرْجُوْلِقَآءَ رَبَّهِ فَلْيَعْمَلْ عَمَلاً صَالِحًا وَلاَيُشْرِكْ بِعِبَادَةِ رَبِّهِ أَحَدًا

بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ القُرْآنِ العَظِيْمِ وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْههِ مِنَ الآيَاتِ وَالذِّكْرِ الحَكِيْمِ. وَتَقَبَّلَ مِنِّي وَمِننْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمِ. وَقُلْ رَبِّ اغْفِرْ وَارْحَمْ وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ.

Khutbah II

الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر – الله أكبر كَبِيْرًا وَالحَمْدُ لِلّهِ كَثِيْرًا وَسُبْحَانَ اللهِ بُكْرَةً وَأَصِيْلاً لاَ إِلَهَ إِلاّاَلله ُوَحْدَهُ صَدَقَ وَعْدَهُ وَنَصَررَ عَبْدَهُ وَأَعَزَّ جُنْدَهُ وَهَزَمَ الأَحْزَابَ وَحْدَهُ لاَ إِلَهَ إِلاّاَللله ُوَلاَ نَعْبُدُ إِلاَّ إِيَّاهُ مُخْلِصِيْنَ لَهُ الدِّيْنَ وَلَوْكَرِهَ المُشْرِكُوْنَ وَلَوْكَرِهَ الكاَفِرُوْنَ وَلَوْكَرِهَ المُناَفِقُوْنَ.

الحَمْدُ لِلّهِ حَمْداً كَثِيْرًا كَماَ أَمَرَ. وَأَشْهَدُ أَنْ لاَإِلَهَ إِلاَّ الله ُوَحْدَهُ لاَشَرِيْكَ لَهُ إِرْغاَماً لِمَنْ جَحَدَ بِهِ وَكَفَرَ. وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَناَ مُحَمَّدداً عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ سَيِّدُ الخَلَآئِقِ وَالبَشَرِ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ مَصَابِيْحَ الغُرَرِ. أَمَّا بَعْدُ: فَيآأَيُّهاَالحاَضِرُوْنَ. أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ المُتَّقُوْنَ. وَافْعَلُوْاالخَيْرَ وَاجْتَنِبُوْآ عَنِ السَّيِّآتِ.

وَاعْلَمُوْآ أَنَّ الله َأَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ بَدَأَ فِيْهِ بِنَفْسِهِ وَثَنَّابِمَلَآئِكَةِ المُسَبِّحَةِ بِقُدْسِهِ. فَقاَلَ تعالى فِيْ كِتاَبِهِ الكَرِيْمِ أَعُوْذُ باِلله ِمِنَ الشَّيْطاَنِ الرَّجِيْمِ. بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَحِيْمِ. إِنَّ اللهَ وَمَلَآئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيْ يَآأَيُّهاَالَّذِيْنَ آمَنُوْآ صَلُّوْآ عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. فَأَجِيْبُوْآالله َاِلَى مَادَعَاكُمْ وَصَلُّوْآ وَسَلِّمُوْأ عَلَى مَنْ بِهِ هَدَاكُمْ. اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّددِناَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصِحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. وَعَلَى التَّابِعِيْنَ وَتَابِعِيْ التَّابِعِيْنَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. وَارْضَ الله ُعَنَّا وَعَنْهُمْ بِرَحْمَتِكَ يَاأَرْحَمَ الراَحِمِيْنَ.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالمُؤْمِناَتِ وَالمُسْلِمِيْنَ وَالمُسْلِمَاتِ الأَحْييآءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعُ قَرِيْبٌ مُجِيْبٌ الدَّعَوَاتِ. اللَّهُمَّ انْصُررْأُمَّةَ سَيّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللَّهُمَّ اصْلِحْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهُمَّ انْصُرْ أُمَّةَ سَيِّدِناَ مُحَمَّدٍ. اللّهمَّ انْصُرْ مَنْ نَصَرَ الدِّيْنَ. وَاخْذُلْ مَنْ خَذَلَ الدِّيْنَ. وَاجْعَلْ بَلْدَتَناَ إِنْدُوْنِيْسِيَّا هَذِهِ بَلْدَةً تَجْرِيْ فِيْهَا أَحْكاَمُكَ وَسُنَّةُ رَسُوْلِكَ ياَ حَيُّ ياَ قَيُّوْمُ. يآاِلهَناَ وَإِلهَ كُلِّ شَيْئٍ. هَذَا حَالُناَ ياَالله ُلاَيَخْفَى عَلَيْكَ. اللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنّاَ الغَلآءَ وَالبَلآءَ وَالوَبآءَ وَالفَحْشآءَ وَالمُنْكَرَ وَالبَغْيَ وَالسُّيُوفَ المُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَآئِدَ وَالِمحَنَ ماَ ظَهَرَ مِنْهَا وَماَ بَطَنَ مِنْ بَلَدِناَ هَذاَ خاَصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ المُسْلِمِيْنَ عاَمَّةً ياَ رَبَّ العَالمَيْنَ.

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الإِسْلاَمَ وَالمُسْلِمِيْنَ وَأَهْلِكِ الكَفَرَةَ وَالمُبْتَدِعَةِ وَالرَّافِضَةَ وَالمُشْرِكِيْنَ وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّيْنِ. وَاجْعَلِ اللَّهُمَّ وِلاَيَتَنَا فِيْمَنْ خَاافَكَ وَاتَّقَاكَ. رَبَّناَ اغْفِرْ لَناَ وَلِإِخْوَانِناَ الَّذِيْنَ سَبَقُوْناَ بِالإِيمْاَنِ وَلاَ تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِناَ غِلاًّ لِلَّذِيْنَ آمَنُوْا رَبَّناَ اِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيْمٌ. رَبَّناَ آتِناَ فِيْ الدُّنْياَ حَسَنَةً وَفِيْ الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِناَ عَذَابَ النَّارِ وَالحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ العاَلمَيْنَ

Perlu diingat bahwa teks di atas hanyalah contoh, sehingga Anda perlu menyesuaikannya kembali.

Baca juga  Bisa Hidup Mapan? Inilah Weton yang 2026 Diprediksi Paling Kaya

Nah, itulah tadi referensi teks khutbah Idul Adha 2026 / 1447 Hijriah yang lengkap, padat dan bisa Anda jadikan referensi.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Messi memimpin Argentina juara Piala Dunia 2022 setelah menang adu penalti atas Prancis dalam final dramatis di Qatar.
Pada Tahun Berapa Messi Memimpin Argentina Meraih Gelar Piala Dunia?
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional