
Kabar Jawa – Shalat tasbih merupakan amalan sunnah yang dianjurkan pada malam 1 Muharram. Simak keistimewaan, niat, dan tata cara pelaksanaannya untuk menyambut Tahun Baru Islam 1445 Hijriyah.
Menyambut datangnya Tahun Baru Islam 1 Muharram, umat Muslim dianjurkan untuk memperbanyak ibadah dan muhasabah diri.
Salah satu amalan yang memiliki keutamaan besar pada malam pergantian tahun Hijriyah adalah melaksanakan shalat tasbih.
Shalat ini menjadi sarana untuk memohon ampunan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala, serta menjadi langkah awal dalam membuka lembaran baru kehidupan dengan hati yang bersih.
Makna dan Keistimewaan Shalat Tasbih
Shalat tasbih adalah salah satu bentuk ibadah sunnah yang sangat dianjurkan oleh Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Sayidina Ibnu Abbas Radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah pernah menawarkan amalan ini kepada pamannya, Abbas bin Abdul Muthalib. Rasulullah bersabda bahwa shalat ini mampu menghapus dosa-dosa lama maupun yang baru, yang dilakukan secara sadar maupun tidak sengaja, baik yang terang-terangan maupun yang tersembunyi.
Syekh Said bin Muhammad Ba’asyin dalam kitab Busyral Karim menyebut bahwa keutamaan shalat tasbih sangat besar.
Dosa-dosa sebanyak pasir di gurun pun dapat diampuni jika seseorang ikhlas mengerjakannya. Bahkan, menurut Imam Tajuddin As-Subki, meninggalkan shalat tasbih setelah mengetahui keutamaannya merupakan bentuk kelalaian dalam agama.
Niat Shalat Tasbih
Shalat tasbih dapat dilakukan dalam empat rakaat dengan dua kali salam, atau empat rakaat satu kali salam. Berikut adalah bacaan niat shalat tasbih:
- Untuk dua rakaat:
“Ushalli sunnat tasbīhi rak’ataini lillāhi ta’ālā.”
Artinya: Aku berniat shalat sunnah tasbih dua rakaat karena Allah Ta’ala.
- Untuk empat rakaat:
“Ushalli sunnat tasbīhi arba’a rak’ātin lillāhi ta’ālā.”
Artinya: Aku berniat shalat sunnah tasbih empat rakaat karena Allah Ta’ala.
Tata Cara Pelaksanaan Shalat Tasbih
Shalat tasbih secara umum memiliki kesamaan dengan shalat lainnya, namun yang membedakannya adalah penambahan bacaan kalimat tasbih pada setiap gerakan. Kalimat tasbih yang dibaca adalah:
“Subhânallâh, wal hamdu lillâh, wa lâ ilâha illallâh, wallâhu akbar.”
Dalam versi lain ditambahkan: “wa lâ haula wa lâ quwwata illâ billâh.”
Berikut adalah rincian tata cara shalat tasbih:
- Membaca surat Al-Fatihah dan surat pendek pilihan.
- Setelahnya, sebelum rukuk, bacalah kalimat tasbih sebanyak 15 kali.
- Saat rukuk, baca kalimat tasbih 10 kali.
- Setelah bangkit dari rukuk (iktidal), bacalah lagi 10 kali.
- Saat sujud pertama, baca 10 kali.
- Ketika duduk di antara dua sujud, baca 10 kali.
- Sujud kedua, baca 10 kali.
- Setelah duduk dari sujud kedua (sebelum berdiri untuk rakaat berikutnya), baca kembali 10 kali.
Dengan demikian, dalam satu rakaat terdapat 75 kali bacaan tasbih. Jika dilakukan dalam empat rakaat, maka totalnya menjadi 300 kali bacaan tasbih.
Waktu Pelaksanaan dan Anjuran Ulama
Waktu pelaksanaan shalat tasbih sangat fleksibel. Ia dapat dilaksanakan kapan saja, baik di siang maupun malam hari.
Namun, banyak ulama menganjurkan untuk mengerjakannya pada malam hari, terutama malam-malam istimewa seperti malam tahun baru Islam.
KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha, turut menyampaikan bahwa amalan seperti shalat tasbih sangat dianjurkan di malam 1 Muharram.
Hal ini didasari oleh hadits Rasulullah dan penjelasan para ulama dalam kitab-kitab klasik. Gus Baha menyebut bahwa awal dan akhir tahun merupakan waktu yang penuh ampunan dari Allah bagi para hamba-Nya.
Shalat tasbih bukan hanya sekadar ibadah rutin, melainkan bentuk nyata dari introspeksi dan permohonan ampun kepada Sang Pencipta.
Dengan mengerjakannya di malam Tahun Baru Islam, seorang Muslim diharapkan mampu memulai tahun yang baru dengan jiwa yang bersih dan tekad yang kuat untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Sebagai salah satu amalan yang dijanjikan ampunan besar, shalat tasbih menjadi pilihan tepat untuk mengisi malam 1 Muharram. Mari jadikan momen tahun baru Hijriyah ini sebagai langkah awal untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.
***