SOLO, Kabar Jawa โ Kalau berbicara tentang wisata di Solo, rasanya kurang lengkap jika hanya membahas kuliner dan tempat nongkrong. Kota yang juga dikenal sebagai Surakarta ini menyimpan jejak sejarah panjang, tradisi Jawa yang masih hidup, hingga kawasan lawas yang menarik untuk dijelajahi.
Solo punya cara tersendiri untuk mempertemukan masa lalu dan masa kini. Di satu sudut, pengunjung bisa menyusuri kompleks keraton yang sarat nilai sejarah. Di sudut lain, ada museum seni dengan karya kontemporer, kampung batik yang masih produktif, serta pasar tradisional yang menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari warga.
Pemerintah Kota Surakarta pun menempatkan budaya dan kearifan lokal sebagai salah satu daya tarik utama pariwisata kota. Keraton, Pura Mangkunegaran, dan Kampung Batik Laweyan menjadi contoh bagaimana warisan budaya tetap hadir di tengah perkembangan kota.
Buat kamu yang ingin mengenal Solo lebih dekat, berikut lima destinasi wisata budaya yang layak masuk daftar perjalanan.
5 Destinasi Wisata Sejarah dan Budaya di Solo Wajib Dikunjungi
1. Keraton Surakarta Hadiningrat, Menyusuri Jejak Kasunanan
Perjalanan mengenal sejarah Solo bisa dimulai dari Keraton Surakarta Hadiningrat, pusat kebudayaan Kasunanan Surakarta yang berkaitan erat dengan perkembangan kota ini.
Sejarah Surakarta sebagai pusat pemerintahan baru berawal pada abad ke-18. Setelah Keraton Kartasura mengalami kerusakan akibat pemberontakan pada 1742, Pakubuwana II memilih Desa Sala sebagai lokasi pusat pemerintahan baru. Pembangunan Keraton Surakarta kemudian dimulai pada 1745.
Berkunjung ke kawasan keraton memberikan kesempatan untuk mengenal lebih jauh tradisi, tata ruang, dan peninggalan budaya Jawa. Kompleksnya juga menjadi pengingat bahwa keraton bukan sekadar bangunan bersejarah, melainkan bagian dari perjalanan panjang kehidupan masyarakat Surakarta.
Bagi pencinta sejarah dan fotografi arsitektur, kawasan ini menarik untuk diamati dari detail bangunan hingga suasana lingkungannya. Namun, tetap perhatikan batas area kunjungan dan aturan yang berlaku karena sebagian ruang memiliki fungsi adat atau tidak dibuka untuk umum.
Sebelum datang, cari informasi terbaru mengenai jam kunjungan, tiket, dan area yang dapat dimasuki agar perjalanan lebih nyaman.
2. Pura Mangkunegaran dan Pracima Tuin, Perpaduan Tradisi dan Gaya Modern
Destinasi berikutnya adalah Pura Mangkunegaran, kompleks bersejarah yang menjadi pusat kebudayaan Kadipaten Mangkunegaran. Tempat ini cocok buat wisatawan yang ingin melihat sisi lain sejarah Solo sekaligus menikmati suasana arsitektur Jawa yang khas.
Kunjungan ke Pura Mangkunegaran dilakukan dengan pendampingan pemandu sesuai ketentuan pengelola. Informasi kunjungan yang dipublikasikan di situs resmi Mangkunegaran mencantumkan sesi tur berkala, aturan berpakaian, serta sejumlah ketentuan ketika memasuki area tertentu. Jadwal dan ketentuan terbaru sebaiknya diperiksa sebelum berangkat.
Tak jauh dari pengalaman mengenal sejarah tersebut, ada Pracima Tuin, taman yang dikembangkan sebagai ruang untuk menghadirkan kebudayaan Jawa dalam format yang lebih dekat dengan masyarakat masa kini.
Pracima Tuin bukan sekadar taman untuk berfoto. Menurut situs resmi Mangkunegaran, kawasan ini juga dimanfaatkan sebagai ruang pengembangan budaya, mulai dari kegiatan kuliner hingga acara dan kolaborasi seni.
Kombinasi antara Pura Mangkunegaran dan Pracima Tuin membuat kunjungan terasa beragam. Pengunjung bisa mengenal sejarah dan tradisi, lalu menikmati suasana taman yang lebih santai. Pastikan mengecek jadwal operasional serta ketentuan reservasi, terutama jika ingin menikmati layanan kuliner atau acara khusus.
3. Museum Tumurun, Menikmati Seni dari Klasik hingga Kontemporer
Solo juga memiliki destinasi untuk wisatawan yang tertarik pada seni rupa, yaitu Museum Tumurun. Museum ini menghadirkan koleksi seni yang mempertemukan karya klasik dan kontemporer dalam satu ruang pamer.
Daya tarik museum bukan hanya pada karya yang dipajang, tetapi juga pada pengalaman mengamati seni dengan sudut pandang yang berbeda. Pengunjung dapat menikmati karya secara lebih dekat dan melihat bagaimana ekspresi artistik berkembang dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Informasi resmi Museum Tumurun menyebutkan bahwa museum berlokasi di Jalan Kebangkitan Nasional No. 2/4, Surakarta. Situsnya mencantumkan jam buka Selasa hingga Minggu, pukul 10.00โ16.00 WIB. Pengunjung juga dianjurkan datang 15 menit lebih awal untuk melakukan konfirmasi kepada petugas.
Karena jadwal pameran, tiket, dan ketentuan kunjungan dapat berubah, cek situs resmi atau akun media sosial museum sebelum datang. Dengan begitu, kamu bisa memastikan pameran yang ingin dilihat sedang berlangsung dan menyesuaikan waktu kunjungan.
Buat yang ingin mengisi perjalanan dengan pengalaman berbeda dari wisata sejarah konvensional, Museum Tumurun bisa menjadi pilihan menarik.
4. Kampung Batik Laweyan, Berburu Batik Sekaligus Menyusuri Kampung Lawas
Kalau ingin melihat bagaimana tradisi tetap menjadi bagian dari kegiatan ekonomi warga, mampirlah ke Kampung Batik Laweyan.
Laweyan dikenal sebagai salah satu sentra batik bersejarah di Solo. Kawasan ini memiliki karakter lingkungan yang khas, dengan gang-gang relatif sempit, rumah-rumah lama, serta usaha batik yang menjadi bagian dari kehidupan masyarakat setempat.
Dokumen kajian Pemerintah Kota Surakarta menyebut Laweyan sebagai sentra industri batik yang telah ada sejak masa Kerajaan Pajang. Kawasan tersebut juga memiliki perpaduan bangunan menjulang dan gang kampung yang membentuk lorong-lorong bersejarah.
Di sini, wisatawan bisa menyusuri kawasan sambil melihat toko batik, mencari motif yang disukai, atau mengenal lebih dekat aktivitas para perajin. Jika ingin membeli batik, luangkan waktu untuk membandingkan motif, bahan, dan teknik pengerjaannya. Kamu juga bisa bertanya kepada penjual mengenai karakter motif atau proses pembuatan kain yang ditawarkan.
Agar kunjungan terasa lebih bermakna, jangan hanya berfokus pada belanja dan foto. Berinteraksi dengan pelaku usaha lokal, menghargai ruang pribadi warga, serta menjaga kebersihan lingkungan merupakan bagian penting dari wisata yang bertanggung jawab.
Kampung Batik Laweyan menunjukkan bahwa warisan budaya tidak selalu tersimpan di museum. Tradisi juga bisa terus hidup melalui keterampilan, usaha, dan keseharian masyarakat.
5. Pasar Gede Hardjonagoro, Menikmati Sejarah Lewat Kuliner Tradisional
Perjalanan budaya di Solo akan terasa kurang lengkap tanpa mampir ke Pasar Gede Hardjonagoro. Pasar tradisional ini bukan hanya tempat berbelanja kebutuhan sehari-hari, tetapi juga salah satu ruang yang menggambarkan kehidupan kota.
Dari sisi arsitektur, Pasar Gede dikenal melalui bangunan bergaya Indisch yang dirancang dengan mempertimbangkan iklim tropis. Kajian Pemerintah Kota Surakarta menyebut bangunan ini sebagai karya arsitek Thomas Karsten yang menyatu dengan tata kota dan berfungsi sebagai pasar tradisional.
Suasana pasar menawarkan pengalaman yang berbeda dibandingkan pusat perbelanjaan modern. Aktivitas pedagang dan pembeli, aneka bahan pangan, serta jajanan tradisional memperlihatkan bagaimana pasar tetap berperan dalam kehidupan masyarakat.
Buat pencinta kuliner, kawasan ini juga menarik untuk berburu makanan dan jajanan khas Solo. Datanglah dengan waktu yang cukup agar bisa berjalan santai, mengamati suasana, dan memilih hidangan sesuai selera.
Tetap perhatikan aktivitas jual beli saat mengambil foto, jangan menghalangi akses pedagang, dan tanyakan harga sebelum membeli. Dengan begitu, pengalaman wisata tetap menyenangkan bagi pengunjung maupun warga yang beraktivitas di pasar.
Menjaga Warisan Budaya, Menjaga Identitas Kota
Lima destinasi tersebut memperlihatkan sisi Solo yang beragam. Keraton Surakarta dan Pura Mangkunegaran mengajak pengunjung mengenal sejarah serta tradisi kerajaan. Museum Tumurun menghadirkan pengalaman menikmati seni, sementara Kampung Batik Laweyan dan Pasar Gede menunjukkan bagaimana budaya hadir dalam kehidupan masyarakat sehari-hari.
Menariknya, warisan budaya tidak hanya bertahan karena bangunan tua atau koleksi bersejarah tetap berdiri. Pelestarian juga membutuhkan dukungan masyarakat, pengrajin, pelaku usaha, pengelola, dan wisatawan.
Saat berkunjung, kita bisa ikut berkontribusi dengan menghormati aturan, membeli produk lokal secara bijak, menjaga kebersihan, dan menghargai kehidupan warga setempat.
Jadi, buat kamu yang berencana liburan ke Solo, jangan hanya datang untuk mengambil foto. Sisihkan waktu untuk mengenal cerita di balik setiap tempat. Sebab, perjalanan yang paling berkesan bukan sekadar tentang tempat yang dikunjungi, tetapi juga tentang warisan budaya yang kita pahami dan ikut jaga.