Kabar Jawa – Rumah tradisional Jawa bukan sekadar bangunan dengan atap berbentuk unik dan dominasi material kayu. Di balik susunan ruangnya, tersimpan cara pandang masyarakat Jawa tentang kehidupan, hubungan sosial, hingga keyakinan yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Salah satu bagian yang menarik untuk dibahas adalah senthong tengah, ruang yang berada di bagian dalam rumah tradisional Jawa. Ruangan ini juga dikenal dengan sebutan krobongan dalam konteks arsitektur dan tradisi tertentu.
Berbeda dari kamar tidur modern yang umumnya dirancang untuk memenuhi kebutuhan penghuninya, senthong tengah memiliki makna simbolis yang lebih dalam.
Dalam sejumlah tradisi Jawa, ruang ini dikaitkan dengan penghormatan terhadap Dewi Sri, sosok yang berhubungan dengan kesuburan dan kemakmuran dalam kepercayaan masyarakat agraris.
Lantas, mengapa sebuah ruang di dalam rumah bisa memiliki kedudukan yang begitu istimewa?
Mengenal Senthong Tengah dalam Rumah Tradisional Jawa
Senthong merupakan bagian dari ruang dalam rumah tradisional Jawa yang umumnya terbagi menjadi tiga bagian, yakni senthong kiwa di sebelah kiri, senthong tengah di bagian tengah, dan senthong tengen di sebelah kanan.
Susunan tersebut dapat dijumpai pada sejumlah rumah tradisional Jawa, khususnya rumah dengan tata ruang yang masih mempertahankan pola arsitektur klasik.
Dalam kajian Muhammad Chawari berjudul Arsitektur Bangunan Rumah Tradisional Jawa: Keberadaan Bangunan Tradisional Jawa di Kampung Kauman, Yogyakarta, susunan ruang rumah tradisional Jawa dijelaskan melalui keberadaan sejumlah unsur, seperti pendopo, pringgitan, dalem, senthong, gadri, dan gandok.
Penelitian tersebut diterbitkan dalam jurnal Berkala Arkeologi, yang dikelola oleh Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa dan Sastra di bawah BRIN.
Kajian tersebut menunjukkan bahwa rumah tradisional Jawa memiliki tata ruang yang tidak terbentuk secara sembarangan, melainkan berkaitan dengan fungsi dan karakter bangunan dalam kehidupan masyarakat.
Pada bagian dalem, senthong menjadi elemen penting yang membentuk susunan ruang di dalam rumah. Posisi senthong tengah yang berada di antara dua ruang lainnya membuatnya memiliki kedudukan tersendiri dalam pemahaman arsitektur tradisional.
Namun, makna senthong tengah tidak cukup dijelaskan hanya melalui letaknya. Dalam tradisi tertentu, ruangan ini juga berkaitan dengan nilai budaya dan kepercayaan yang hidup di tengah masyarakat.
Makna Sakral Senthong Tengah yang Bukan Sekedar Ruang Kosong
Hal yang membuat senthong tengah menarik adalah kedudukannya yang dalam tradisi tertentu tidak semata-mata sebagai ruang untuk aktivitas sehari-hari.
Dalam sejumlah rumah Jawa yang mempertahankan tradisi lama, krobongan dapat menjadi ruang yang dihormati dan dikaitkan dengan simbol kesuburan serta kesejahteraan keluarga. Ruang ini bisa dilengkapi perlengkapan tertentu yang memiliki arti simbolis sesuai tradisi keluarga atau lingkungan budayanya.
Salah satu sosok yang kerap dikaitkan dengan krobongan adalah Dewi Sri. Dalam kepercayaan agraris Jawa, Dewi Sri berhubungan dengan kesuburan, padi, dan kemakmuran. Hubungan tersebut tidak bisa dilepaskan dari kehidupan masyarakat Jawa pada masa ketika pertanian menjadi bagian penting dari penghidupan.
Meski demikian, pemaknaan senthong tengah tidak selalu sama di setiap rumah dan wilayah. Praktik budaya juga dapat mengalami perubahan seiring perkembangan zaman, agama, serta kondisi sosial masyarakat.
Karena itu, senthong tengah lebih tepat dipahami sebagai ruang yang dapat mengandung nilai simbolis dan spiritual dalam tradisi tertentu, bukan sebagai ruangan yang selalu memiliki fungsi identik di seluruh masyarakat Jawa.
Tata Ruang Rumah Jawa Juga Berbicara tentang Privasi
Selain nilai sakral, tata ruang rumah tradisional Jawa juga menarik dilihat dari cara masyarakat mengatur hubungan antara ruang publik dan ruang pribadi.
Pendopo, misalnya, lazim dikenal sebagai area untuk menerima tamu dan melakukan kegiatan sosial. Sementara itu, bagian dalem berada lebih ke dalam sehingga memberikan tingkat privasi yang berbeda.
Pembagian tersebut memperlihatkan bahwa rumah bukan sekadar tempat berlindung, tetapi juga ruang untuk mengatur hubungan antara keluarga dan orang dari luar rumah.
Hal ini sejalan dengan kajian Ary Wahyono berjudul Konsep Privacy Menurut Orang Jawa, Sebagaimana Terlihat dari Tata Ruang Rumah Tradisional Jawa. Artikel yang diterbitkan dalam Jurnal Masyarakat dan Budaya tersebut membahas hubungan antara konsep privasi, sistem ruang rumah tradisional Jawa, dan pandangan hidup masyarakat.
Kajian ini memberikan perspektif bahwa susunan ruang rumah tradisional berkaitan dengan cara masyarakat memahami hubungan sosial dan lingkungan budayanya.
Rumah Tradisional Jawa Menyimpan Cerita tentang Kehidupan Keluarga
Makna sebuah rumah juga dapat dibaca melalui aktivitas orang-orang yang menghuninya.
Penelitian Gerarda Orbita Ida Cahyandari yang diterbitkan dalam Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Universitas Atma Jaya Yogyakarta membahas bagaimana tata ruang dan elemen arsitektur rumah Jawa berkaitan dengan pola aktivitas dalam rumah tangga.
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa rumah tradisional Jawa memiliki makna simbolis dan kultural. Tata ruangnya turut mencerminkan hubungan sosial keluarga serta peran yang berkembang dalam kehidupan rumah tangga.
Bagaimana Nasib Senthong Tengah di Rumah Modern?
Seiring perkembangan zaman, kebutuhan keluarga ikut berubah. Rumah modern umumnya dirancang agar setiap ruang bisa digunakan secara praktis, mulai dari kamar tidur, ruang keluarga, ruang kerja, hingga area penyimpanan.
Kondisi tersebut membuat fungsi ruang dalam rumah tradisional juga berpotensi mengalami perubahan. Sebagian bangunan mempertahankan susunan aslinya untuk menjaga nilai sejarah dan budaya, sedangkan bangunan lain dapat mengalami penyesuaian sesuai kebutuhan penghuni.
Namun, perubahan fungsi tidak serta-merta menghilangkan nilai budaya yang melekat pada arsitektur tradisional. Pemahaman mengenai senthong tengah tetap dapat menjadi pintu masuk untuk mengenali bagaimana masyarakat Jawa dahulu menghubungkan ruang, kehidupan keluarga, dan keyakinan.
Pelestarian rumah tradisional pun tidak hanya berarti menjaga bentuk fisik bangunan. Dokumentasi mengenai fungsi ruang, istilah lokal, dan cerita yang menyertainya juga penting agar makna arsitektur tidak terputus dari generasi berikutnya.
Senthong Tengah, Pengingat bahwa Rumah Punya Makna Lebih Dalam
Senthong tengah memperlihatkan bahwa rumah tradisional Jawa memiliki lapisan makna yang melampaui fungsi praktis sebuah bangunan. Dalam tradisi tertentu, ruang ini dikaitkan dengan kesakralan, simbol kesuburan, dan penghormatan terhadap nilai-nilai kehidupan.
Melalui tata ruangnya, rumah Jawa juga menyimpan cerita mengenai privasi, hubungan sosial, serta aktivitas keluarga yang berkembang dalam masyarakat.
Karena itu, mempelajari senthong tengah bukan hanya soal mengenali bagian-bagian rumah tradisional. Lebih dari itu, pembahasan ini mengajak kita memahami bagaimana arsitektur dapat menjadi bagian dari identitas budaya.
Di tengah perubahan gaya hidup dan desain hunian modern, pengetahuan tentang senthong tengah menjadi pengingat bahwa sebuah ruang tidak selalu dinilai dari seberapa banyak aktivitas yang bisa dilakukan di dalamnya. Dalam tradisi tertentu, ruang juga dapat menyimpan ingatan, keyakinan, dan nilai yang diwariskan dari masa ke masa.