Kabar Jawa – Rumah tradisional Jawa kerap menarik perhatian lewat bentuk atap Joglo, tiang-tiang kayu yang kokoh, hingga ukiran yang menghiasi bagian bangunan.
Namun, ada hal lain yang tak kalah menarik untuk dibicarakan dari rumah tradisional Jawa. Yakni bagaimana susunan ruangnya berkaitan dengan kehidupan sosial dan pembagian peran dalam keluarga.
Jika diperhatikan, rumah Jawa bukan sekadar tempat untuk tidur, memasak, atau menerima tamu. Setiap bagian memiliki fungsi yang berbeda, mulai dari pendopo di area depan hingga ruang dalam yang lebih privat.
Menariknya, tata ruang tersebut juga bisa dibaca melalui perspektif gender. Sejumlah penelitian arsitektur dan budaya menunjukkan bahwa hubungan antara ruang, aktivitas rumah tangga, dan peran sosial merupakan bagian penting dalam memahami rumah tradisional Jawa.
Lantas, apakah susunan rumah Jawa memang memisahkan dunia laki-laki dan perempuan? Atau, justru ada cerita yang lebih kompleks di balik pembagian ruang tersebut?
Rumah Tradisional Jawa Bukan Sekadar Bangunan
Sebelum membahas peran laki-laki dan perempuan, penting untuk memahami bahwa rumah tradisional Jawa memiliki hubungan erat dengan status sosial, aktivitas keluarga, serta nilai budaya masyarakatnya.
Penelitian Gerarda Orbita Ida Cahyandari berjudul Tata Ruang dan Elemen Arsitektur pada Rumah Jawa di Yogyakarta sebagai Wujud Kategori Pola Aktivitas dalam Rumah Tangga membahas hubungan antara elemen arsitektur, klasifikasi sosial, dan aktivitas domestik.
Penelitian yang diterbitkan dalam Jurnal Arsitektur KOMPOSISI Universitas Atma Jaya Yogyakarta tersebut menjelaskan bahwa rumah tradisional Jawa memiliki makna simbolis dan kultural. Aktivitas di dalam rumah turut mencerminkan hubungan sosial dalam keluarga, sedangkan susunan ruang dapat mendukung aktivitas dan peran sosial penghuninya.
Kajian itu juga menyinggung pengaruh sistem keluarga patrilineal terhadap peran domestik dalam masyarakat Jawa.
Temuan tersebut menarik karena memperlihatkan bahwa rumah tradisional tidak bisa hanya dinilai dari bentuk fisiknya. Susunan ruangnya juga menyimpan gambaran mengenai kehidupan masyarakat pada masa tertentu.
Pendopo dan Pringgitan, Ruang untuk Berinteraksi dengan Dunia Luar
Salah satu bagian rumah tradisional Jawa yang paling dikenal adalah pendopo. Bangunan ini umumnya terletak di bagian depan dan memiliki karakter terbuka, sehingga cocok digunakan untuk menerima tamu, mengadakan pertemuan, atau menyelenggarakan kegiatan sosial.
Di bagian yang lebih dalam, terdapat pringgitan yang pada susunan rumah tertentu berfungsi sebagai ruang peralihan antara pendopo dan dalem. Pringgitan juga dikenal memiliki kaitan dengan pertunjukan wayang dalam tradisi rumah Jawa tertentu.
Susunan tersebut menunjukkan adanya perbedaan karakter ruang. Area depan cenderung mengakomodasi interaksi dengan orang luar, sedangkan bagian dalam menyediakan ruang yang lebih privat bagi keluarga.
Dalam perspektif gender, pembagian aktivitas di area depan dan dalam rumah bisa menjadi bahan kajian untuk melihat bagaimana peran sosial laki-laki dan perempuan dibentuk oleh kebiasaan masyarakat.
Namun, penting untuk tidak langsung menyimpulkan bahwa pendopo selalu menjadi wilayah laki-laki. Fungsi ruang dapat berbeda menurut status pemilik, bentuk rumah, tradisi keluarga, dan konteks sosialnya.
Dengan kata lain, pendopo lebih tepat dipahami sebagai ruang sosial yang penggunaannya berkaitan dengan aktivitas dan kebiasaan penghuni, bukan sebagai tempat yang secara mutlak hanya diperuntukkan bagi satu gender.
Ndalem dan Pawon, Ketika Aktivitas Rumah Tangga Menjadi Bagian dari Arsitektur
Beranjak ke bagian dalam rumah, terdapat dalem atau ndalem yang menjadi bagian penting dalam susunan rumah tradisional Jawa. Pada rumah tertentu, area ini menaungi ruang-ruang yang lebih privat, termasuk senthong.
Sementara itu, pawon atau dapur merupakan bagian rumah yang berhubungan langsung dengan kegiatan menyiapkan makanan dan kebutuhan sehari-hari keluarga.
Dalam pembacaan sosial, aktivitas di pawon kerap dikaitkan dengan pekerjaan domestik yang secara tradisional banyak dibebankan kepada perempuan. Akan tetapi, kebiasaan tersebut tidak berarti bahwa seluruh masyarakat Jawa memiliki pembagian kerja yang sama atau bahwa perempuan selalu menjadi satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas dapur.
Penelitian Cahyandari dapat membantu menjelaskan hubungan antara tata ruang dan aktivitas rumah tangga. Kajian tersebut menempatkan elemen arsitektur sebagai bagian dari pola aktivitas serta hubungan sosial keluarga.
Dari sini, pawon bisa dibaca bukan hanya sebagai tempat memasak, tetapi juga sebagai ruang yang memperlihatkan bagaimana pekerjaan sehari-hari berlangsung dan bagaimana tanggung jawab rumah tangga diatur.
Perspektif ini membuat pembahasan rumah tradisional Jawa menjadi lebih menarik. Kita tidak hanya melihat bentuk bangunannya, tetapi juga memperhatikan siapa yang menggunakan ruang tersebut, aktivitas apa yang berlangsung, dan bagaimana kebiasaan itu berkembang.
Benarkah Tata Ruang Rumah Jawa Mencerminkan Perbedaan Peran Gender?
Tata ruang rumah tradisional Jawa memang dapat berkaitan dengan pembagian peran domestik dan sosial, tetapi tidak cukup bukti untuk menyatakan bahwa seluruh ruang dirancang secara mutlak sebagai wilayah laki-laki atau perempuan.
Penelitian Cahyandari menunjukkan adanya hubungan antara sistem keluarga patrilineal, peran domestik, dan karakter ruang dalam rumah Jawa. Namun, penelitian yang sama juga membahas adanya keseimbangan peran domestik dan sosial pada rumah dalam klasifikasi tertentu.
Artinya, hubungan antara arsitektur dan gender tidak selalu sesederhana pembagian ruang depan untuk laki-laki dan ruang belakang untuk perempuan.
Faktor status sosial, pola aktivitas, kondisi keluarga, serta tradisi setempat ikut memengaruhi bagaimana ruang digunakan. Rumah Joglo milik keluarga dengan status sosial tertentu, misalnya, tidak selalu memiliki pola penggunaan ruang yang sama dengan rumah Limasan atau Kampung.
Karena itu, pembacaan gender dalam arsitektur Jawa sebaiknya ditempatkan sebagai kajian tentang hubungan ruang dan kebiasaan sosial, bukan sebagai aturan universal yang berlaku untuk semua rumah.
Ruang Rumah Jawa Juga Berkaitan dengan Pandangan Hidup
Selain aktivitas sehari-hari, tata ruang rumah tradisional Jawa memiliki hubungan dengan pandangan hidup masyarakatnya.
J. Lukito Kartono, dalam tulisan ilmiah Konsep Ruang Tradisional Jawa dalam Konteks Budaya yang diterbitkan dalam jurnal Dimensi Interior, menjelaskan bahwa konsep ruang tradisional Jawa berkaitan dengan keselarasan terhadap lingkungan dan kosmos.
Kajian tersebut juga membahas pusat ruang, hierarki ruang, serta konsep oposisi biner dalam penataan ruang tradisional Jawa.
Oposisi biner secara sederhana merujuk pada pasangan unsur yang dipahami melalui perbedaan atau hubungan yang saling berhadapan, seperti pusat dan pinggiran. Dalam konteks arsitektur, gagasan tersebut membantu menjelaskan bagaimana ruang dapat memiliki kedudukan dan makna yang berbeda.
Meski demikian, konsep tersebut tidak otomatis berarti bahwa semua pasangan ruang berkaitan langsung dengan laki-laki dan perempuan. Hubungan antara kosmologi, gender, dan arsitektur perlu dijelaskan berdasarkan konteks serta bukti penelitian yang spesifik.
Pelajaran untuk Desain Rumah Masa Kini
Pembahasan mengenai rumah tradisional Jawa tetap relevan di tengah perkembangan desain hunian modern. Kini, rumah tidak hanya dirancang berdasarkan luas lahan atau jumlah kamar, tetapi juga berdasarkan kebutuhan penghuni dan cara mereka menjalani aktivitas sehari-hari.
Dari rumah Jawa, ada pelajaran penting yang bisa diambil: tata ruang sebaiknya mendukung hubungan sosial, privasi, dan kebutuhan seluruh anggota keluarga.
Namun, menerapkan nilai arsitektur tradisional tidak berarti harus mempertahankan pembagian peran gender yang kaku. Sebaliknya, prinsip pengaturan ruang dapat diadaptasi agar lebih fleksibel dan sesuai dengan kehidupan keluarga masa kini.
Dapur, misalnya, dapat dirancang agar nyaman digunakan oleh siapa pun. Ruang keluarga juga bisa menjadi tempat berbagi aktivitas, sedangkan area privat tetap memberikan keleluasaan bagi setiap penghuni.
Dengan cara tersebut, warisan arsitektur Jawa dapat dipahami bukan hanya sebagai peninggalan bentuk bangunan, tetapi juga sebagai sumber inspirasi untuk menciptakan hunian yang lebih manusiawi.