
KabarJawa.com – Menjelang berakhirnya bulan suci Ramadhan 1447 H / 2026, perhatian umat Islam kini tertuju pada perburuan malam Lailatul Qadar.
Salah satu amalan sunah yang paling dianjurkan oleh Rasulullah SAW untuk menyambut malam kemuliaan tersebut adalah dengan melaksanakan iktikaf (berdiam diri di masjid).
Namun, sebenarnya berapa lama durasi minimal iktikaf? Apa saja syarat dan bagaimana tata cara pelaksanaannya yang benar?
Untuk itu, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah penjelasan lengkapnya
Waktu Iktikaf Menurut Ulama
Iktikaf merupakan ibadah yang memiliki fleksibilitas dalam hal waktu pelaksanaan. Seseorang dapat melaksanakannya selama berada di dalam masjid dengan niat beribadah kepada Allah SWT. Bahkan, iktikaf dapat dilakukan dalam waktu singkat selama seseorang berada di masjid dengan niat yang benar.
Melansir dari laman resmi Baznas, waktu yang dianjurkan untuk melaksanakan iktikaf adalah pada sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan.
Hal ini merujuk pada kebiasaan Rasulullah SAW yang senantiasa melakukan iktikaf sepanjang sepuluh malam terakhir Ramadhan untuk mencari keberkahan malam Lailatul Qadar.
Masih dari sumber yang sama, disebutkan pula bahwa sejumlah ulama menjelaskan iktikaf sepuluh hari tersebut biasanya dimulai sejak sebelum matahari terbenam pada malam ke-21 Ramadhan dan berlangsung hingga akhir bulan Ramadhan.
Namun, terdapat pula pendapat lain yang menyebutkan bahwa iktikaf dapat dimulai setelah seseorang menunaikan shalat Subuh pada tanggal 21 Ramadhan.
Berbicara soal durasi, sumber lain mengungkap bahwa Mazhab Hanafi, Syafi’i, dan Hambali berpendapat bahwa durasi minimal iktikaf adalah sa’ah atau sesaat.
Kemudian, Mazhab Maliki juga menjelaskan pandangan berbeda dimana menyaratkan bahwa waktu minimal sehari semalam penuh. Tepatnya, dimulai sejak matahari terbenam hingga terbenam kembali pada hari berikutnya
Niat sebagai Syarat Utama Iktikaf
Sebagaimana ibadah lainnya dalam Islam, iktikaf harus diawali dengan niat yang tulus karena Allah SWT. Niat tersebut tidak wajib diucapkan secara lisan, melainkan cukup diyakini dalam hati.
Meski begitu, para ulama juga mengajarkan lafaz niat agar membantu seseorang meneguhkan niatnya saat melaksanakan ibadah ini. Lafaz niat iktikaf yang sering digunakan adalah sebagai berikut:
“Nawaitul i’tikafa fi hadzal masjidi sunnatan lillahi ta’ala.”
Artinya: “Aku berniat iktikaf di masjid ini sebagai ibadah sunah karena Allah Ta’ala.”
Tata Cara Iktikaf yang Perlu Diperhatikan
Agar pelaksanaan iktikaf benar-benar menjadi momen spiritual yang bermakna, terdapat beberapa tata cara yang perlu diperhatikan oleh setiap muslim yang ingin melaksanakannya. Berdasarkan laman resmi Baznas, berikut tata cara lengkapnya.
Dilaksanakan di Dalam Masjid
Para ulama sepakat bahwa iktikaf harus dilakukan di dalam masjid. Tempat yang lebih diutamakan adalah masjid yang digunakan untuk shalat berjamaah, seperti masjid jami.
Ketentuan ini merujuk pada firman Allah SWT yang menyebutkan:
“Dan janganlah kamu mencampuri mereka (istri-istri) sedang kamu beriktikaf di dalam masjid.” (QS. Al-Baqarah: 187).
Mengisi Waktu dengan Ibadah
Tujuan utama iktikaf adalah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Karena itu, waktu yang dihabiskan selama berada di masjid sebaiknya diisi dengan berbagai aktivitas ibadah seperti shalat sunah, membaca Al-Qur’an, berzikir, serta melakukan muhasabah atau introspeksi diri.
Mengurangi Aktivitas Duniawi
Orang yang sedang beriktikaf dianjurkan untuk meminimalkan kegiatan yang tidak berkaitan dengan ibadah. Salah satunya adalah membatasi penggunaan HP, terutama untuk aktivitas yang tidak bermanfaat seperti menelusuri media sosial secara berlebihan.
Dengan mengurangi gangguan duniawi, kekhusyukan ibadah di dalam masjid dapat lebih terjaga.
Menjaga Lisan dan Perilaku
Selama berada di rumah Allah, setiap muslim dianjurkan menjaga perkataan dan perilaku. Hindari aktivitas yang tidak bermanfaat seperti bercanda secara berlebihan, bergosip, atau berdebat yang tidak perlu.
Suasana masjid sebaiknya dimanfaatkan untuk menenangkan hati dan memperdalam hubungan spiritual dengan Allah SWT.
Keluar Masjid Hanya untuk Keperluan Mendesak
Orang yang sedang melaksanakan iktikaf dianjurkan tetap berada di dalam masjid. Namun, mereka masih diperbolehkan keluar jika ada kebutuhan mendesak, seperti ke kamar mandi, mandi, atau mengambil makanan apabila tidak ada yang mengantarkannya.
Selama keluar masjid hanya untuk keperluan penting dan tidak berlebihan, hal tersebut tidak akan membatalkan iktikaf.
Amalan yang Dianjurkan Saat Iktikaf
Untuk memaksimalkan pahala selama iktikaf, terutama pada sepuluh malam terakhir Ramadhan, terdapat beberapa amalan yang sangat dianjurkan.
Membaca Al-Qur’an
Membaca dan mentadaburi Al-Qur’an menjadi amalan utama di bulan Ramadhan, mengingat bulan ini merupakan waktu turunnya kitab suci tersebut.
Memperbanyak Zikir dan Istighfar
Zikir dan istighfar membantu menenangkan hati serta memperkuat hubungan spiritual dengan Allah SWT. Amalan ini juga menjadi salah satu cara memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan.
Membaca Doa Lailatul Qadar
Rasulullah SAW secara khusus mengajarkan doa yang dianjurkan untuk dibaca ketika seseorang berharap bertemu malam Lailatul Qadar. Doa tersebut diajarkan kepada Aisyah untuk diamalkan selama sepuluh malam terakhir Ramadhan.
“Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.”
Artinya: “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan menyukai pemaafan, maka maafkanlah aku.”
Dengan memahami durasi, syarat, serta tata cara pelaksanaan iktikaf, umat Islam dapat menjalankan ibadah ini dengan lebih baik.***