
KabarJawa.com – Kehidupan manusia tidak pernah lepas dari limpahan anugerah, baik dalam bentuk kesehatan, kesempatan, maupun materi. Namun, seringkali manusia terjebak dalam kelalaian untuk mengakui sumber dari segala kenikmatan tersebut. Dalam sebuah ulasan hikmah terbaru, akademisi sekaligus tokoh agama, Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan, memberikan peringatan keras mengenai konsekuensi fatal bagi individu yang tidak pandai mensyukuri nikmat Allah SWT.
Melalui bedah kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari, khususnya hikmah ke-67, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa sikap tidak bersyukur atau kufur nikmat bukan sekadar masalah etika spiritual, melainkan sebuah tindakan yang secara langsung membahayakan keberlangsungan nikmat itu sendiri dalam kehidupan seseorang.
Memahami Hikmah Ke-67: Antara Syukur dan Kehilangan
Dalam penjelasannya, M. Nur Kholis Setiawan mengutip bait hikmah yang berbunyi: “Man lam yaskurin nama faqod taar liwaliha waman sakaroha faqod qoyadaha biqolha”. Makna dari pernyataan tersebut sangat mendalam, yakni barang siapa yang tidak mensyukuri nikmat, maka ia sedang mempertaruhkan nikmat tersebut untuk segera sirna.
Menurutnya, ada korelasi langsung antara perilaku manusia dengan stabilitas anugerah yang diterimanya. Ia menegaskan bahwa ketidakmampuan untuk bersyukur adalah undangan terbuka bagi datangnya kerugian.
“Begitu banyaknya anugerah atau kenikmatan-kenikmatan yang diberikan Allah kepada kita, kalau kita sama sekali tidak mensyukurinya, maka kita sedang melebarkan jalan untuk kehilangan kenikmatan itu,” ujar M. Nur Kholis Setiawan dalam keterangannya.
Konsekuensi Nyata: Hilangnya Keberkahan dan Nikmat
M. Nur Kholis Setiawan menekankan bahwa konsekuensi utama dari sikap tidak bersyukur adalah “zawal” atau hilangnya nikmat. Ketika seseorang menganggap remeh pemberian Tuhan atau bahkan mengeluh atas apa yang dimiliki, maka secara hakikat, nikmat tersebut akan mulai menjauh.
Ia mengingatkan bahwa syukur berfungsi sebagai pengikat, sedangkan kekufuran berfungsi sebagai pelepas. Tanpa syukur, posisi nikmat dalam hidup seseorang menjadi sangat rapuh.
“Sebaliknya, kalau kita mampu mensyukuri kenikmatan-kenikmatan yang Allah berikan kepada kita, kita sejatinya sedang mengikat kenikmatan itu untuk tetap kencang atau untuk tetap ada di dalam kehidupan kita sehari-hari,” jelas Ia lebih lanjut.
Selain hilangnya nikmat yang sudah ada, ketidakmampuan bersyukur juga menutup pintu bagi tambahan nikmat (ziyadah). Mengacu pada Surat Ibrahim ayat 7, M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa janji penambahan nikmat hanya berlaku bagi mereka yang bersyukur, sementara bagi yang ingkar, konsekuensinya adalah hilangnya ketetapan nikmat tersebut.
3 Cara Mengikat Nikmat Menurut M. Nur Kholis Setiawan
Agar terhindar dari konsekuensi buruk tersebut, M. Nur Kholis Setiawan menjabarkan tiga cara implementatif dalam bersyukur yang harus dilakukan secara terintegrasi:
1. Syukur dengan Hati (Bil Qalbi)
Tahap pertama adalah meyakini sepenuhnya dalam batin bahwa segala anugerah, tanpa terkecuali, berasal semata-mata dari Allah SWT. Ini adalah fondasi utama agar manusia tidak menjadi sombong atas pencapaiannya.
2. Syukur dengan Lisan (Bil Lisan)
Mengucapkan tahaddus binni’mah atau menyebut-nyebut kebaikan Allah melalui ucapan seperti “Alhamdulillah”. Hal ini dilakukan bukan untuk pamer, melainkan sebagai bentuk pengakuan atas kemurahan Tuhan.
3. Syukur dengan Tindakan (Bil Jawarih)
Konsekuensi syukur yang paling nyata adalah melalui amal perbuatan. M. Nur Kholis Setiawan menjelaskan bahwa menggunakan nikmat untuk ketaatan dan menjauhi apa yang tidak diridai Allah adalah bentuk syukur yang paling berkualitas.
“Kalau kita tidak pandai bersyukur, bahkan mengeluh, maka kenikmatan-kenikmatan itu akan hilang dan menjauh dari kita. Syukur harus menjadi pelecut untuk makin mendekatkan diri kepada Allah,” tegas M. Nur Kholis Setiawan.
Menjadikan Syukur sebagai Gaya Hidup
Sebagai penutup, Prof. Dr. M. Nur Kholis Setiawan mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan setiap anugerah sebagai piranti untuk meningkatkan kualitas diri sebagai hamba. Dengan bersyukur secara total, melalui hati, lisan, dan perbuatan, seseorang tidak hanya akan mempertahankan apa yang dimiliki, tetapi juga mendapatkan jaminan keberlanjutan dan penambahan nikmat di masa depan.
Tanpa rasa syukur, manusia hanya akan berjalan di jalur yang sempit menuju hilangnya keberkahan hidup. Oleh karena itu, penting untuk selalu mengingat bahwa setiap detik kehidupan adalah anugerah yang menuntut pengakuan dan ketaatan kepada Sang Pemberi.***