
KABARJAWA — Long weekend pada akhir Mei 2025 membawa angin segar bagi industri perhotelan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Libur panjang ini mampu mendongkrak tingkat hunian hotel.
Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) DIY, Deddy Eryono, menyatakan bahwa rata-rata tingkat okupansi hotel di wilayah DIY mengalami peningkatan signifikan selama periode libur panjang dari 28 hingga 31 Mei 2025.
Okupansi Hotel di DIY
“Okupansi rata-rata selama long weekend ini mencapai 50 persen hingga 60 persen. Angka ini meningkat sekitar 20 persen dibandingkan dengan hari-hari biasa,” ungkap Deddy saat ditemui di Yogyakarta, Jumat (30/5).
Menurut Deddy, lonjakan okupansi ini tidak merata di seluruh wilayah DIY. Ia menegaskan bahwa wilayah Kota Yogyakarta dan Sleman masih mendominasi jumlah kunjungan wisatawan yang menginap.
“Kondisinya memang belum merata. Kota Yogyakarta dan Sleman masih menjadi titik pusat peningkatan. Di wilayah lain, pergerakannya belum terlalu signifikan,” jelasnya.
Meski begitu, Deddy optimistis target okupansi sebesar 75 persen pada periode libur panjang ini bisa tercapai. Ia menilai banyak wisatawan memilih langsung datang ke hotel tanpa melakukan reservasi terlebih dahulu, sehingga data reservasi awal tidak mencerminkan kondisi real-time okupansi.
“Kami melihat potensi untuk mencapai target 75 persen masih terbuka. Banyak tamu datang langsung ke hotel tanpa booking sebelumnya, dan ini bisa mendongkrak okupansi secara nyata di lapangan,” katanya.
Pengaruh Long Weekend
Deddy menilai, momen libur panjang seperti ini sangat membantu sektor perhotelan yang masih berjuang pulih pascapandemi dan menghadapi tekanan biaya operasional harian yang terus berjalan.
“Long weekend seperti ini sangat membantu meningkatkan saturasi okupansi hotel. Kami sangat bersyukur karena biaya operasional tetap keluar setiap hari, terlepas dari ada atau tidaknya tamu,” ungkapnya sambil tersenyum.
Ia berharap pemerintah dan pihak terkait bisa terus mendorong terciptanya momen-momen liburan yang mendukung pergerakan wisatawan domestik. Karena kondisi itu mampu membantu mereka untuk bernafas.
“Kalau bisa, tiap hari ada long weekend,” canda Deddy menutup pernyataannya.
Peningkatan okupansi hotel ini menunjukkan bahwa sektor pariwisata di DIY masih menjadi daya tarik utama, terutama saat masa liburan. PHRI DIY berharap tren positif ini terus berlanjut untuk mendukung pemulihan ekonomi lokal, khususnya di sektor pariwisata dan perhotelan. (ef linangkung)