Waspada Memilih Tanggal: Inilah Bulan-Bulan yang Dianggap Kurang Baik untuk Hajatan Menurut Primbon Jawa

Bagikan :
Waspada Memilih Tanggal Inilah Bulan-Bulan yang Dianggap Kurang Baik untuk Hajatan Menurut Primbon Jawa
Waspada Memilih Tanggal Inilah Bulan-Bulan yang Dianggap Kurang Baik untuk Hajatan Menurut Primbon Jawa(Sumber Gambar : ilustrasi: Pinterest/Imnot Drac)

Kabarjawa – Waspada Memilih Tanggal! Di tengah pesatnya perkembangan zaman dan modernisasi, masyarakat Jawa tetap mempertahankan nilai-nilai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu tradisi yang masih dijunjung tinggi adalah keyakinan terhadap Primbon Jawa.

Primbon merupakan kumpulan pengetahuan tradisional yang memuat ramalan, hitungan hari baik, serta berbagai aturan hidup yang diyakini membawa kebaikan atau menghindari hal buruk.

Salah satu aspek menarik dalam Primbon adalah penentuan waktu yang dianggap kurang tepat untuk menyelenggarakan hajatan besar seperti pernikahan.

Kitab Primbon Betaljemur Adammakna menjadi salah satu referensi utama yang membahas hal ini secara detail. Lalu, bulan apa saja yang sebaiknya dihindari untuk hajatan menurut kepercayaan masyarakat Jawa?

Bulan-Bulan yang Dianggap Kurang Baik untuk Hajatan dan Pernikahan

1. Bulan Suro (Muharram): Waktu Sakral untuk Introspeksi

Bulan Suro merupakan bulan pertama dalam kalender Jawa yang memiliki nuansa sakral. Dalam budaya Jawa, bulan ini lebih dimaknai sebagai waktu untuk menyepi, bermeditasi, dan memperkuat spiritualitas.

Karena itu, menyelenggarakan hajatan seperti pernikahan dianggap kurang tepat, karena dikhawatirkan mendatangkan ketidakberuntungan.

Baca juga  Alasan Weton Jumat Kliwon Dinilai Sakral dalam Kepercayaan Jawa

2. Bulan Sapar (Shafar): Simbol Ketidakstabilan

Sapar sering dikaitkan dengan hal-hal yang tidak menguntungkan. Masyarakat Jawa percaya bahwa bulan ini tidak cocok untuk memulai sesuatu yang besar, termasuk kehidupan rumah tangga.

Ada anggapan bahwa pernikahan di bulan ini bisa menghadirkan kesulitan dalam mengatur keuangan atau menghadapi tantangan dalam rumah tangga.

3. Bulan Mulud (Rabiul Awal): Watak Mati yang Mengkhawatirkan

Bulan Mulud memiliki sebutan sebagai bulan “watak mati”. Masyarakat meyakini bahwa menggelar acara besar seperti pernikahan pada bulan ini bisa membawa pengaruh negatif terhadap kelanggengan hubungan. Karena itulah, sebagian besar keluarga lebih memilih untuk menunda hajatan pada bulan ini.

4. Bulan Jumadilawal: Risiko Penipuan dan Permusuhan

Dalam Primbon, bulan Jumadilawal diasosiasikan dengan berbagai kemungkinan buruk seperti kehilangan, penipuan, dan permusuhan. Karena itu, hajatan yang digelar di bulan ini diyakini berisiko menghadapi hambatan dan konflik di kemudian hari.

5. Bulan Pasa (Ramadhan): Fokus pada Ibadah

Bulan Ramadhan atau Pasa adalah bulan penuh berkah dan spiritualitas dalam Islam. Masyarakat lebih mengutamakan ibadah dan kegiatan keagamaan selama bulan ini. Hajatan besar seperti pernikahan dinilai tidak sesuai dengan nuansa kesucian dan kekhusyukan bulan tersebut.

Baca juga  Legenda Aji Saka: Pencipta Aksara Jawa dan Simbol Kesetiaan

6. Bulan Sawal (Syawal): Potensi Kekurangan dan Beban Finansial

Bulan Sawal, meski berada setelah Ramadhan yang penuh berkah, tetap dipandang kurang baik untuk memulai pernikahan.

Mitos yang berkembang menyebutkan bahwa pasangan yang menikah di bulan ini berisiko mengalami kekurangan dan kesulitan dalam menjaga kestabilan keuangan keluarga.

Meski tidak memiliki dasar ilmiah, keyakinan terhadap bulan-bulan yang dianggap kurang baik untuk hajatan masih melekat kuat dalam budaya Jawa.

Kepercayaan ini mencerminkan kehati-hatian dan penghormatan terhadap nilai-nilai tradisional. Namun, pada akhirnya, keputusan untuk memilih waktu pernikahan tetap menjadi hak setiap individu dan keluarga.

Tradisi seperti ini tidak hanya memperkaya kearifan lokal, tetapi juga menjadi warisan budaya yang menarik untuk dipelajari lebih dalam, terutama bagi generasi muda yang ingin tetap menghormati akar budayanya di tengah arus modernitas.(Kabarjawa)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid