
KABAR JAWA – Tradisi Ruwatan masih dikenal di kalangan masyarakat Jawa sebagai suatu kebiasaan yang sakral. Konon, yang bersangkutan akan menemui musibah atau kesialan jika lalai melakukan ruwatan. Mitos atau fakta? Wallahualam.
Ruwatan: Warisan Leluhur yang Tetap Hidup
Bagi masyarakat Jawa, warisan budaya bukan sekadar peninggalan sejarah, melainkan bagian dari kehidupan sehari-hari.
Salah satu tradisi yang masih dipertahankan hingga kini adalah ruwatan, sebuah upacara yang dipercaya dapat membebaskan seseorang dari kesialan atau malapetaka.
Walaupun zaman sudah modern dan pola pikir banyak orang berubah, sebagian masyarakat tetap menganggap ruwatan penting.
Keresahan muncul ketika seorang anak atau anggota keluarga masuk dalam kategori sukerto, istilah untuk mereka yang diyakini memiliki “beban nasib” atau membawa aura panas yang bisa mendatangkan musibah.
Dalam tradisi Jawa, ada kelompok anak yang disebut sukerto. Mereka diyakini rawan terkena gangguan atau kesialan sehingga harus diruwat.
- Anak Tunggal
- Anak laki-laki disebut ontang-anting, sedangkan anak perempuan disebut unting-unting.
- Dahulu diyakini jiwa anak tunggal rawan dimangsa Betara Kala, sosok penguasa bala dalam mitologi Jawa.
Menurut Ki Said Singolodro, pakar metafisika asal Surabaya, tafsir ini kini bergeser. Betara Kala tidak lagi dipahami sebagai raksasa menakutkan, melainkan simbol dari musibah, tragedi, atau kesialan yang bisa menimpa seseorang.
- Pendawa Lima
- Lima anak laki-laki dalam satu keluarga sering disebut pendawa lima.
- Dalam kisah pewayangan, Pendawa selalu berkonflik dengan Kurawa yang digambarkan sebagai raksasa atau Kala.
- Kini masyarakat menafsirkannya secara logis: lima anak laki-laki kerap berkelahi, sehingga risiko celaka lebih besar.
- Anak Kembar (Dampit)
Baik laki-laki maupun perempuan, anak kembar juga dianggap masuk dalam kategori anak panas yang perlu diruwat. - Sendang Kapit Pancuran
Tiga bersaudara dengan anak perempuan di tengah juga diyakini harus menjalani ruwatan. - Kelahiran atau Peristiwa Tertentu
- Bayi yang lahir bersamaan dengan terbitnya matahari (Julung Wangi) atau saat matahari tenggelam (Julung Pujud).
- Anak yang tanpa sengaja memecahkan periuk, gandhik, atau pipisan.
- Peristiwa ini dianggap sebagai tanda kesialan, sehingga harus ditangkal melalui ruwatan.
Asal-usul Ruwatan dari Kisah Pewayangan
Ruwatan berakar dari cerita pewayangan, terutama kisah tentang Batara Kala. Konon, Kala lahir dari air mani Batara Guru yang jatuh ke samudera. Dari situlah muncul sosok raksasa yang lapar dan meminta makanan berupa manusia.
Batara Guru lalu memberi syarat: Kala hanya boleh memangsa orang-orang tertentu yang dianggap sukerto, seperti anak tunggal. Sejak itulah, masyarakat Jawa percaya bahwa anak-anak tertentu harus menjalani upacara ruwatan agar terbebas dari ancaman Kala.
Makna Filosofis Ruwatan
Kata ruwat berarti pelepasan atau pembebasan. Inti dari tradisi ini adalah doa dan harapan agar seseorang bisa terhindar dari segala bentuk kesialan, baik yang bersifat fisik seperti sakit, maupun psikis seperti hidup penuh kesusahan.
Bagi masyarakat Jawa, ruwatan bukan hanya sekadar ritual, tetapi juga simbol penyucian diri. Upacara ini menjadi sarana untuk menata kembali keseimbangan hidup, baik secara spiritual maupun sosial.
Rangkaian Upacara Ruwatan
Ruwatan berbeda dengan selamatan biasa. Upacara ini membutuhkan persiapan khusus, di antaranya:
- Sajen berupa makanan, bunga, padi, kain, dan perlengkapan simbolis lainnya.
- Pertunjukan wayang kulit dengan lakon khusus Murwakala, yang menceritakan bagaimana Kala ditaklukkan.
- Prosesi penyucian, yang biasanya dipimpin oleh seorang dalang atau tokoh spiritual.
Karena kompleksitasnya, ruwatan sering dianggap sebagai upacara mahal. Namun, keyakinan masyarakat terhadap manfaatnya membuat banyak keluarga tetap rela mengeluarkan biaya besar demi keselamatan anaknya.
Jenis-jenis Ruwatan dalam Budaya Jawa
Seiring perkembangan waktu, ruwatan tidak hanya dilakukan dalam bentuk tradisional. Beberapa jenis ruwatan yang dikenal antara lain:
- Ruwatan Rasul – berbentuk selamatan sederhana dengan nuansa religius.
- Ruwatan Wayang Beber – menggunakan cerita Jaka Kembang Kuning, meski jarang dipraktikkan.
- Ruwatan Wayang Kulit – yang paling populer dengan lakon Murwakala.
- Ruwatan Massal – dilakukan bersama-sama untuk menghemat biaya, biasanya diselenggarakan oleh panitia khusus.
- Ruwatan Agung – upacara besar yang melibatkan banyak orang, sering kali dihubungkan dengan kondisi bangsa atau penyembuhan penyakit.
- Ruwatan Iringan Sesajian – bentuk syukuran desa atau panen, dengan nuansa permohonan keselamatan.
- Ruwatan untuk Ketenangan Batin – dilakukan oleh kelompok agama atau komunitas tertentu demi ketentraman jiwa.
Antara Kepercayaan dan Realitas
Bagi sebagian orang Jawa, tidak melakukan ruwatan bisa menimbulkan kecemasan. Ketika terjadi musibah dalam keluarga, sering kali hal itu dikaitkan dengan anak yang belum diruwat.
Keyakinan semacam ini diwariskan turun-temurun, sehingga sulit dipisahkan dari kehidupan sehari-hari.
Meski demikian, di era modern sebagian orang memilih memaknai ruwatan secara simbolis: bukan lagi untuk menolak bala secara mistis, melainkan sebagai bentuk doa, refleksi, dan penghormatan pada warisan budaya leluhur.***