
Kabar Jawa – Tak banyak yang tahu, bahwa di balik kokohnya bangunan Sekolah Menengah Atas Negeri 2 Bantul atau SMAN 2 Bantul hari ini, tersimpan sejarah panjang yang bermula dari kejayaan industri gula pada era kolonial.
Lokasi sekolah yang kini menjadi pusat pendidikan ini, dulunya merupakan lahan tempat berdirinya salah satu pabrik gula bersejarah di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Jejak Awal Pabrik Gula Bantul
Pabrik Gula Bantul, atau PG Bantul, didirikan pertama kali pada tahun 1861 oleh dua pengusaha Eropa bernama Wieseman dan Broese van Groesneau.
Terletak di Desa Trirenggo, Kecamatan Bantul, pabrik ini menjadi salah satu saksi geliat industri gula yang tumbuh pesat pada masa pemerintahan Hindia Belanda.
Perkembangan PG Bantul cukup signifikan, hingga pada tahun 1914, pabrik ini resmi diambil alih oleh Pijnacker Hordijk dan bertransformasi dalam bentuk perusahaan bernama Landbouw Maatschappij Bantool.
Namun kepemilikan pabrik tak berhenti di situ. Pada tahun 1925, kendali PG Bantul berpindah ke tangan perusahaan besar asal Belanda, Internationale Crediet en Handelsvereeniging Rotterdam.
Selama beberapa dekade, PG Bantul memainkan peranan penting dalam pasokan gula dari wilayah Yogyakarta ke berbagai daerah.
Runtuhnya PG Bantul dan Warisan yang Tersisa
Seiring dengan berjalannya waktu, PG Bantul mulai mengalami kemunduran. Krisis Ekonomi Global yang melanda dunia pada awal abad ke-20 ikut berdampak signifikan terhadap operasional pabrik.
Kondisi ini menyebabkan manajemen PG Bantul harus digabungkan dengan PG Tanjungtirto sebagai bentuk upaya efisiensi.
Tak berhenti sampai di sana, masa-masa kelam kembali menghantam ketika Agresi Militer Belanda II pecah.
PG Bantul menjadi salah satu korban dari kerusakan besar akibat konflik militer tersebut. Akibatnya, pabrik ini tidak pernah lagi beroperasi dan akhirnya ditinggalkan.
Kini, dari kejayaan masa lalu itu, hanya sedikit bagian fisik bangunan yang tersisa. Yang masih dapat ditemukan hanyalah bekas fondasi dan sisa-sisa saluran irigasi yang dulunya menjadi bagian penting dari proses produksi gula.
Transisi Menjadi Sekolah: Lahirnya SMPP 44
Tahun 1975 menjadi titik balik dari fungsi lahan eks PG Bantul. Di atas puing-puing bekas kejayaan industri gula itu, dibangunlah gedung sekolah menengah atas yang kala itu diberi nama Sekolah Menengah Persiapan Pembangunan 44 atau disingkat SMPP 44. Meski tidak banyak informasi yang terdokumentasi secara resmi mengenai transisi nama SMPP 44 menjadi SMAN 2 Bantul, yang pasti, sejak saat itu lahan ini secara perlahan berubah menjadi pusat pendidikan yang melahirkan banyak generasi penerus bangsa.
Gedung asli peninggalan PG Bantul bahkan masih digunakan hingga tahun 2006. Namun, gempa besar berkekuatan 5,9 Skala Richter yang mengguncang Yogyakarta pada tahun itu merusak sebagian besar bangunan sekolah. Sejak saat itu, hampir seluruh bangunan mengalami renovasi besar-besaran, menyisakan hanya ruang guru sebagai bagian otentik yang masih berdiri dari era sebelumnya.
Julukan Unik: Exsco, Refleksi Sejarah Sekolah
Keunikan sejarah ini ternyata juga menjadi inspirasi identitas sekolah dalam dunia olahraga pelajar. Dalam ajang Honda DBL DI Jogjakarta Series, SMAN 2 Bantul dikenal dengan julukan “Exsco”. Nama ini bukanlah singkatan dari nama sekolah seperti kebanyakan, melainkan kependekan dari Ex-Sugar Company, yang dalam bahasa Indonesia berarti “mantan pabrik gula”.
Julukan ini pertama kali diperkenalkan oleh para pendukung tim basket sekolah tersebut. Salah satunya adalah Fahrizal Septhio, koordinator suporter Exsco yang membagikan cerita asal usul julukan tersebut. Menurutnya, penamaan “Exsco” adalah bentuk penghormatan terhadap sejarah sekolah yang berdiri di atas lahan bekas pabrik gula kolonial.
Dukungan Totalitas dan Yel yang Tak Biasa
Suporter Exsco dikenal karena kreativitas dan semangat tinggi dalam mendukung tim sekolah. Salah satu momen membanggakan adalah saat SMAN 2 Bantul berhasil mengalahkan SMAN 2 Ngaglik dengan skor 25-16, didukung penuh oleh teriakan yel-yel penuh semangat dari ratusan siswa.
Yang membuat Exsco unik adalah pilihan lagu mereka. Lagu klasik milik Koes Plus berjudul “Di Radio” diubah liriknya menjadi “Hari Ini”, menjadikannya yel utama yang membakar semangat para pemain dan penonton. “Kami pikir yel kami cukup variatif. Tidak ada sekolah lain yang pakai lagu itu untuk jadi yel, padahal bagus dan catchy,” ujar Fahrizal. Ini membuktikan bahwa meski para suporter mayoritas adalah generasi milenial, mereka tidak segan menggali referensi dari masa lalu—mungkin sama seperti sekolah mereka yang juga sarat akan nilai sejarah.
SMAN 2 Bantul bukan hanya institusi pendidikan biasa. Di balik tembok-tembok ruang kelasnya, tersimpan sejarah panjang tentang industri gula Hindia Belanda, perjuangan melewati masa-masa krisis, dan transformasi menjadi pusat pembelajaran yang modern.
Julukan “Exsco” bukan hanya label untuk mendukung tim olahraga, tetapi juga simbol penghormatan terhadap masa lalu yang membentuk jati diri sekolah hingga hari ini.
***