
KabarJawa.com – Fenomena Gerhana Bulan Total yang terjadi pada Selasa, 3 Maret 2026, kembali menyita perhatian masyarakat Indonesia.
Peristiwa astronomi ketika bayangan bumi sepenuhnya menutupi permukaan bulan ini bukan sekadar tontonan langit yang indah. Di Pulau Jawa, gerhana bulan memiliki makna budaya yang jauh melampaui penjelasan ilmiah.
Sejak ratusan tahun silam, masyarakat Jawa memandang gerhana sebagai peristiwa kosmis yang sarat simbol dan pesan gaib.
Di antara berbagai cerita yang berkembang, kisah tentang raksasa Batara Kala yang menelan bulan menjadi mitos paling populer dan terus diwariskan secara turun-temurun.
Berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut rangkuman mitologi Batara Kala serta tradisi yang dilakukan masyarakat saat gerhana berlangsung.
Kepercayaan Lama – Bulan Ditelan Raksasa
Dalam sejumlah catatan, termasuk yang dimuat laman resmi ejournal.undiksha, gerhana kerap dihubungkan dengan kemunculan sosok Batara Kala. Ia dipercaya menelan bulan atau matahari sehingga cahaya di bumi mendadak redup dan suasana berubah mencekam.
Keyakinan tersebut melahirkan respons kolektif di tengah masyarakat tradisional. Saat gerhana mulai tampak, warga tidak tinggal diam. Mereka melakukan berbagai ritual yang diyakini mampu mengusir sang raksasa.
Beberapa kebiasaan yang dilakukan ketika gerhana terjadi antara lain:
- Anak-anak kecil segera diminta masuk ke rumah dan berlindung di bawah tempat tidur.
- Perempuan yang sedang mengandung diwajibkan mengoleskan abu sisa pembakaran kayu di tungku dapur atau awu pawon pada bagian perut.
- Warga kampung beramai-ramai menciptakan suara gaduh dengan menabuh kentongan, lumpang, atau lesung penumbuk padi.
Tradisi menabuh lesung menjadi simbol perlawanan manusia terhadap ancaman kosmis. Suara keras yang ditimbulkan dipercaya mampu mengejutkan Batara Kala.
Dalam cerita rakyat, karena terkejut oleh kebisingan dari bumi, sang raksasa akhirnya memuntahkan kembali bulan yang telah ditelannya. Cahaya rembulan pun perlahan kembali seperti sediakala.
Perlindungan bagi Ibu Hamil dan Tradisi Sego Rogoh
Selain ritual bunyi-bunyian, gerhana juga identik dengan berbagai pantangan, khususnya bagi ibu hamil. Kepercayaan ini masih ditemukan di sejumlah daerah di Jawa.
Mengutip unggahan Instagram resmi Diskominfo Magetan (@diskominfomagetan), sebagian masyarakat meyakini bahwa energi atau aura gerhana berpotensi membawa dampak buruk terhadap janin. Risiko yang ditakutkan meliputi kemungkinan bayi lahir tidak sempurna atau gangguan kesehatan pada ibu.
Sebagai bentuk perlindungan, dikenal tradisi Sego Rogoh atau liwetan di beberapa wilayah seperti Magetan.
Dalam praktiknya, warga memasak nasi liwet lengkap dengan lauk-pauk, lalu menyantapnya bersama-sama. Kegiatan tersebut menjadi simbol selamatan dan doa bersama agar terhindar dari marabahaya.
Pada saat yang sama, ibu hamil biasanya diminta berada di tempat yang dianggap aman, bahkan ada yang disarankan bersembunyi di bawah kolong ranjang hingga gerhana benar-benar berakhir. Langkah ini diyakini sebagai cara untuk meminimalkan pengaruh buruk yang mungkin timbul.
Asal Usul Batara Kala dalam Mitologi Jawa Bali
Dalam khazanah mitologi Jawa dan Bali, Batara Kala bukan sekadar tokoh antagonis biasa. Ia digambarkan sebagai raksasa atau buto yang melambangkan waktu sekaligus kematian.
Sosok ini merupakan putra dari Batara Guru yang dalam tradisi Hindu dikenal sebagai Dewa Siwa, serta Dewi Uma.
Kisah permusuhan Batara Kala terhadap bulan dan matahari berakar pada legenda lama tentang Tirta Amerta, air suci yang memberikan keabadian.
Diceritakan bahwa Batara Kala pernah menyamar untuk ikut meminum Tirta Amerta milik para dewa. Namun penyamarannya terbongkar setelah Batara Candra sebagai dewa bulan dan Batara Surya sebagai dewa matahari memergokinya. Keduanya kemudian melaporkan peristiwa tersebut kepada Batara Wisnu.
Mengetahui hal itu, Batara Wisnu segera melepaskan senjata Cakra dan menebas leher Batara Kala tepat ketika air suci baru mencapai kerongkongannya.
Akibatnya, tubuh sang raksasa musnah, tetapi kepalanya tetap hidup abadi dan melayang di angkasa.
Sejak saat itu, kepala Batara Kala dipercaya terus memburu bulan dan matahari sebagai bentuk dendam karena pernah dilaporkan.
Setiap kali ia berhasil “menelan” salah satunya, terjadilah gerhana. Namun karena tidak memiliki tubuh, bulan dan matahari selalu berhasil keluar kembali, sehingga cahaya pun pulih.
Antara Ilmu Astronomi dan Warisan Budaya
Gerhana Bulan Total pada 3 Maret 2026 menjadi pengingat bahwa peristiwa alam dapat dimaknai secara berbeda oleh setiap generasi.
Secara ilmiah, gerhana terjadi akibat posisi bumi berada di antara matahari dan bulan sehingga bayangan bumi menutup permukaan bulan.
Namun dalam perspektif budaya Jawa, peristiwa tersebut menyimpan kisah kosmis tentang Batara Kala, dendam abadi, serta ritual penolak bala.
Tradisi menabuh lesung, Sego Rogoh, hingga pantangan bagi ibu hamil menunjukkan betapa kuatnya pengaruh mitologi dalam membentuk respons sosial masyarakat terhadap fenomena alam.
Hingga kini, cerita tentang bulan yang “dimakan” raksasa masih menjadi bagian penting dari ingatan kolektif dan identitas budaya Jawa.***