Ruwahan Artinya Apa? Makna Tradisi Jawa sebelum Puasa Ramadhan

Bagikan :
Ilustrasi mengenal apa itu Ruwahan (AI // Kabar Jawa)

KabarJawa.com – Menjelang bulan suci Ramadhan, masyarakat Jawa memiliki serangkaian tradisi unik yang tak pernah ditinggalkan. Salah satu yang paling kental adalah Ruwahan.

Bagi masyarakat awam atau generasi muda, istilah ini mungkin terdengar familier namun maknanya sering kali samar. Apakah sekadar makan-makan? Atau hanya ziarah kubur?

Berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut adalah penjelasan lengkap mengenai pengertian, rangkaian ritual, dan makna filosofis di balik tradisi Ruwahan.

Pengertian Ruwahan

Secara etimologi, Ruwahan berasal dari kata “Ruwah”. Dalam kalender Jawa, bulan Ruwah bertepatan dengan bulan Syaban dalam kalender Hijriah.

Kata “Ruwah” sendiri memiliki akar kata dari Bahasa Arab “Arwah” atau roh. Oleh karena itu, bulan ini didedikasikan sebagai bulan untuk mengenang dan mendoakan para leluhur atau nenek moyang yang telah tiada.

Menurut laman resmi Pemerintah Kabupaten Kebumen, Ruwahan didefinisikan sebagai tradisi turun-temurun yang dilaksanakan pada pertengahan bulan Syaban (nisfu Syaban), atau sekitar 15 hingga 10 hari menjelang Ramadhan.

Rangkaian Kegiatan dalam Ruwahan

Ruwahan bukan hanya satu acara tunggal, melainkan serangkaian kegiatan yang mencerminkan kesalehan individu maupun sosial. Berikut ritual yang biasa dilakukan.

Baca juga  Sejarah Peristiwa Geger Sapehi di Yogyakarta: Adu Domba Belanda Dalam Urusan Keraton

Besik / Bersih Desa

Masyarakat bergotong royong membersihkan lingkungan desa dan area pemakaman umum. Cukup (bangunan makam) seringkali dicat ulang agar tampak rapi.

Nyadran (Ziarah Kubur)

Mendoakan arwah leluhur di makam, menabur bunga, dan membersihkan nisan. Ini adalah wujud bakti anak kepada orang tua yang sudah meninggal.

Kenduren / Slametan

Mengundang tetangga untuk berdoa bersama (tahlilan) dan menikmati hidangan nasi tumpeng atau apem sebagai simbol permohonan maaf dan tolak bala.

Padusan

Di penghujung bulan Ruwah (sehari sebelum puasa), tradisi ditutup dengan mandi besar (padusan) untuk menyucikan diri lahir batin menyambut Ramadhan.

Makna Filosofis

Lantas, mengapa orang Jawa harus repot-repot melakukan Ruwahan? Rupanya, tradisi ini mengandung filosofi Jawa yang sangat dalam, yaitu “Sangkan Paraning Dumadi”.

Misalnya, manusia yang diingatkan bahwa mereka ada di dunia karena perantara orang tua dan leluhur. Mendoakan mereka adalah bentuk penghormatan biologis dan spiritual.

Kemudian, ziarah kubur mengingatkan yang masih hidup bahwa suatu saat mereka akan menyusul para leluhur, sehingga harus mempersiapkan bekal amal (terutama puasa Ramadhan) dengan sebaik-baiknya.

Baca juga  Nuzulul Quran 2025: Makna, Sejarah, dan Perhitungannya!

Lebih lanjtu, melansir laman UNNES, diketahui pula bahwa tradisi ini berfungsi mendoakan leluhur agar tenteram di alam baka, sekaligus memohon kepada Tuhan agar anak cucu yang ditinggalkan senantiasa dilindungi.

Dinamika Ruwahan di Era Modern

Zaman berubah, tradisi pun beradaptasi. Di era modern ini, pelaksanaan Ruwahan mengalami pergeseran dari ritual yang kompleks menjadi lebih praktis.

Jika dahulu sajian kenduri (berkat) dimasak bersama-sama oleh warga, kini banyak yang beralih menggunakan jasa katering demi efisiensi waktu. Di beberapa daerah perkotaan, tradisi kenduri keliling pun mulai jarang ditemui.

Meski demikian, esensinya tetap sama. Penyederhanaan ini justru dianggap positif karena mempermudah masyarakat modern untuk tetap melestarikan budaya kirim doa kepada leluhur di tengah kesibukan pekerjaan.

Tradisi Sambut Ramadhan

Ruwahan adalah tradisi menyambut bulan Ramadhan yang dilakukan pada bulan Ruwah (Syaban) dengan inti kegiatan mendoakan arwah leluhur.

Tradisi ini mengajarkan kita untuk tidak melupakan sejarah keluarga, mempererat tali silaturahmi dengan tetangga melalui kenduri, dan menyucikan diri sebelum memasuki bulan suci Ramadhan.***

Baca juga  Menggali Makna Bubur Merah Putih: Sajian Jawa yang Kaya Nilai Filosofis

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
Jadwal Ganjil Genap Puncak 26 April 2026
Jadwal Buka Tutup Puncak 26 April 2026, Berlaku One Way atau Ganjil Genap? Cek Estimasinya