Plengkung Gading: Gerbang yang Tak Boleh Dilewati Sultan Yogyakarta Saat Masih Hidup

Bagikan :
Sultan HB X tak boleh melewati Plengkung Gading ketika masih hidup/Alodia Tour

Kabarjawa – Yogyakarta, sebagai salah satu daerah istimewa di Indonesia, menyimpan banyak cerita sejarah dan tradisi yang unik.

Salah satu simbol budaya yang menarik perhatian adalah Plengkung Gading, sebuah gerbang ikonik yang menjadi bagian dari Keraton Yogyakarta.

Namun, ada sebuah kepercayaan dan aturan menarik yang menyelimutinya: Sultan Yogyakarta yang masih hidup tidak boleh melewati Plengkung Gading.

Mengapa Plengkung Gading memiliki aturan semacam ini? Apa makna di balik larangan tersebut? Artikel ini akan membahas sejarah dan filosofi Plengkung Gading sebagai bagian tak terpisahkan dari tradisi Keraton Yogyakarta.

Sejarah Singkat Plengkung Gading

Plengkung Gading merupakan salah satu dari lima plengkung atau gerbang yang mengelilingi Keraton Yogyakarta.

Gerbang ini terletak di sisi selatan kompleks keraton dan berfungsi sebagai akses menuju kawasan makam Raja-raja Mataram di Imogiri.

Dibangun pada masa Sultan Hamengkubuwono I, Plengkung Gading memiliki nilai historis dan filosofis yang erat kaitannya dengan perjalanan hidup manusia.

Dalam kosmologi Jawa, Plengkung Gading melambangkan gerbang akhir kehidupan. Hal ini karena gerbang ini menjadi jalur utama untuk prosesi jenazah Sultan menuju makam di Imogiri.

Baca juga  Kisah di Balik Monumen Serangan Umum 1 Maret 1949: Jejak Perjuangan Bangsa Menegakkan NKRI

Oleh karena itu, Plengkung Gading kerap dianggap sebagai simbol peralihan dari dunia fana ke alam baka.

Larangan Sultan Melewati Plengkung Gading

Larangan Sultan yang masih hidup untuk melewati Plengkung Gading bukanlah aturan tertulis, tetapi merupakan bagian dari tradisi lisan yang dijaga oleh masyarakat dan Keraton Yogyakarta.

Tradisi ini memiliki makna mendalam yang sarat akan filosofi Jawa:

Simbol Kesakralan
Plengkung Gading dianggap sebagai gerbang terakhir yang hanya boleh dilalui oleh Sultan dalam prosesi pemakaman.

Melewati gerbang ini saat masih hidup dianggap sebagai pelanggaran terhadap kesakralan tradisi tersebut.

Makna Kehidupan dan Kematian
Dalam pandangan masyarakat Jawa, kehidupan dan kematian adalah dua hal yang harus dijalani dengan penuh kesadaran.

Larangan ini mencerminkan penghormatan terhadap perjalanan hidup manusia, khususnya seorang Sultan yang dianggap sebagai pemimpin spiritual dan duniawi.

Menjaga Keberkahan
Tradisi ini juga diyakini untuk menjaga keberkahan Sultan selama masa pemerintahannya. Melewati Plengkung Gading sebelum waktunya dapat dianggap sebagai tindakan yang mengundang energi negatif atau nasib buruk.

Baca juga  Keajaiban Candi Prambanan: Sejarah dan Pesona yang Tak Lekang oleh Waktu

Filosofi Plengkung Gading dalam Budaya Jawa

Plengkung Gading memiliki warna putih yang melambangkan kesucian. Filosofi ini sejalan dengan nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh Keraton Yogyakarta, yaitu keharmonisan antara kehidupan duniawi dan spiritual.

Dalam tradisi Jawa, perjalanan hidup manusia diibaratkan seperti sebuah siklus. Plengkung Gading menjadi pengingat akan tujuan akhir setiap manusia, yakni kembali kepada Sang Pencipta.

Plengkung Gading di Masa Kini

Saat ini, Plengkung Gading tidak hanya menjadi bagian penting dari tradisi keraton, tetapi juga menjadi destinasi wisata yang populer di Yogyakarta.

Banyak wisatawan yang datang untuk melihat langsung gerbang ini, mengabadikan momen, dan mempelajari sejarah serta filosofi yang terkandung di dalamnya.

Namun, bagi masyarakat Yogyakarta, Plengkung Gading tetap memiliki makna yang sakral. Tradisi yang mengelilinginya tetap dijaga dengan penuh hormat, sehingga nilai-nilai leluhur terus dilestarikan dari generasi ke generasi.

Plengkung Gading bukan sekadar gerbang biasa, tetapi memiliki makna mendalam yang mencerminkan hubungan antara kehidupan dan kematian, kesakralan tradisi, serta filosofi hidup masyarakat Jawa.

Baca juga  Garebeg Mulud 2025: Prajurit Kadipaten Pakualaman Tampil dengan Busana Baru, Warga Berebut Berkah Gunungan

Larangan Sultan Yogyakarta untuk melewati Plengkung Gading saat masih hidup adalah bentuk penghormatan terhadap tradisi dan nilai-nilai yang telah diwariskan oleh para leluhur.

Bagi Anda yang berkunjung ke Yogyakarta, jangan lupa menyempatkan diri untuk mengunjungi Plengkung Gading.

Selain menjadi spot bersejarah, tempat ini juga menawarkan pelajaran berharga tentang kearifan lokal dan budaya Jawa yang sarat akan makna.

Semoga artikel ini membantu Anda memahami lebih dalam tentang Plengkung Gading dan nilai filosofis di baliknya.

***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya