
KABAR JAWA – Simpang Empat Palbapang di Bantul menyimpan sejarah panjang dan mitos unik. Konon, calon pengantin yang melintas harus melepaskan ayam sebagai syarat keselamatan. Simak kisah lengkapnya di sini.
Di selatan pusat Kota Bantul, terdapat sebuah simpang empat yang tampak biasa saja bagi pengguna jalan.
Namun, bagi masyarakat setempat, Simpang Empat Palbapang bukan sekadar pertemuan jalur lalu lintas.
Lokasinya berada di Kalurahan Palbapang, Kapanewon Bantul, dan menjadi penghubung utama menuju Pantai Samas atau jalur ke Kulon Progo melalui Kapanewon Srandakan. Meski dilalui banyak kendaraan, arusnya cenderung lancar tanpa kemacetan panjang.
Nama “Palbapang” memiliki akar sejarah yang erat kaitannya dengan kisah Ki Ageng Mangir, seorang tokoh penting yang dikenal sebagai penguasa Mangir sekaligus menantu dari Panembahan Senopati, pendiri Kerajaan Mataram Islam.
Menurut Purwanto, pamong Kalurahan Palbapang, istilah ini berasal dari kata Pal yang berarti batas, dan Bapang yang berarti dijaga atau dibawa.
Dahulu, wilayah ini diyakini sebagai titik penjagaan perbatasan antara Kerajaan Mangir dan Mataram Islam, terutama pada masa ketegangan menjelang peperangan.
Legenda Ki Ageng Mangir dan Awal Mula Nama Palbapang
Cerita bermula ketika Ki Ageng Mangir melakukan perjalanan dari Mangir menuju istana Mataram di Kotagede. Dalam perjalanan, pusaka tombak sakti bernama Kiai Baru Klinting membisikkan peringatan agar ia membatalkan langkah, sebab keselamatannya terancam. Namun, peringatan itu diabaikan.
Rombongan Ki Ageng Mangir sempat berhenti di sebuah desa yang kemudian ia namai Palbapang. Saat itu, hatinya bimbang karena di satu sisi ia menyadari Panembahan Senopati adalah musuhnya, tetapi di sisi lain, ia adalah menantu yang harus menghormati mertua.
Perasaan bimbang inilah yang dalam bahasa Jawa disebut ngemban ngentul, yang konon menjadi asal mula nama Bantul.
Akhir kisahnya tragis. Setibanya di istana, saat bersimpuh di hadapan Panembahan Senopati, kepalanya dibenturkan ke singgasana hingga tewas, persis seperti yang telah diperingatkan pusakanya.
Mitos untuk Calon Pengantin dan Orang Sakit
Selain sejarahnya, Simpang Empat Palbapang juga dikenal karena mitos yang masih bertahan hingga kini. Konon, calon pengantin atau orang sakit sebaiknya tidak melintas di perempatan ini. Jika terpaksa, mereka harus melepaskan seekor ayam hidup sebagai bentuk tolak bala.
Maryatno, warga Trirenggo yang kerap mengantar rombongan pengantin, mengatakan bahwa tradisi ini masih dijalankan sebagian masyarakat.
Tujuannya untuk menghindari kemungkinan buruk, seperti rumah tangga yang tidak langgeng. Sedekah ayam diyakini dapat membawa keselamatan, karena nantinya ayam tersebut berkembang biak dan bermanfaat bagi orang lain.
Tradisi Melepaskan Ayam dan Sesajen
Ngadimin, warga Palbapang yang puluhan tahun membuka jasa sol sepatu di dekat simpang empat ini, mengaku sering melihat orang menaruh sesajen dan melepaskan ayam di sana.
Sesajen biasanya berupa pisang raja dan nasi, sementara ayam yang dilepas akan menjadi rebutan warga sekitar.
Menurutnya, tradisi ini dulunya sering dilakukan, tetapi kini mulai jarang terlihat. Meski begitu, bagi calon pengantin yang mengetahui mitos ini, kebiasaan tersebut tetap dijalankan sebagai bentuk penghormatan terhadap adat.
Palbapang di Masa Kini
Secara administratif, Kalurahan Palbapang adalah gabungan dari tiga desa lama, yaitu Gandon, Tajeman, dan Taruban.
Pemerintahan resmi berdiri pada tahun 1946, setahun setelah Indonesia merdeka. Meski perkembangan zaman telah mengubah wajah daerah ini, cerita tentang Ki Ageng Mangir dan mitos simpang empatnya tetap menjadi bagian dari identitas budaya masyarakat Bantul.
Bagi sebagian orang, cerita ini hanyalah legenda yang menarik. Namun bagi warga yang masih memegang teguh tradisi, Simpang Empat Palbapang adalah tempat yang harus dihormati baik karena sejarahnya sebagai perbatasan kerajaan, maupun karena mitos yang telah diwariskan turun-temurun.
***