Mengupas Filosofi Ewuh Pekewuh, Warisan Kesantunan Masyarakat Jawa

Bagikan :
Ada makna filosofi di balik Ewuh Pekewuh, berikut selengkapnya, foto ilustrasi (Pexels// MART PRODUCTION)

KABAR JAWA – Dalam kehidupan masyarakat Jawa, ada sebuah istilah yang kerap kali terdengar dan begitu melekat dalam keseharian, yaitu Ewuh Pekewuh.

Sekilas, istilah ini mungkin terdengar sederhana, namun sebenarnya menyimpan makna yang dalam. Bukan hanya sekadar ungkapan, Ewuh Pekewuh adalah cerminan dari nilai-nilai luhur yang sejak lama diwariskan oleh leluhur dan terus dijaga hingga kini.

Fenomena ini tidak lahir begitu saja. Hal ini tumbuh dari pengalaman panjang, kebiasaan yang terus dilestarikan, serta nilai moral yang ditanamkan dalam keluarga dan lingkungan sejak kecil.

Dalam budaya Jawa, sikap ini menjadi bagian penting dari cara manusia berhubungan dengan sesamanya, terutama dalam menjaga keharmonisan dan saling menghormati.

Apa Arti Ewuh Pekewuh?

Secara sederhana, Ewuh Pekewuh dapat dimaknai sebagai rasa sungkan atau segan terhadap orang lain. Sikap ini muncul dari perasaan tidak enak hati, adanya kekhawatiran jika ucapan atau tindakan seseorang bisa melukai perasaan orang lain.

Oleh sebab itu, Ewuh Pekewuh menjadi sarana untuk menjaga hubungan tetap harmonis, menghormati yang lebih tua, serta menempatkan diri dengan penuh kesadaran dalam lingkungan sosial.

Baca juga  Apa Filosofi Tumpeng yang Hampir Selalu Ada di Acara Selamatan hingga Upacara Adat Jawa

Berdasarkan laman Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi, Ewuh Pekewuh merupakan bagian dari pekerti yang lahir dari kebiasaan lingkungan.

Ungkapan ini sudah digunakan turun-temurun dalam tradisi Jawa, dengan tujuan mendidik generasi muda agar memiliki sikap penuh hormat kepada orang yang lebih tua.

Sejak kecil, anak-anak diajarkan bagaimana cara berbicara, bersikap, dan membawa diri agar tidak menyinggung orang lain.

Dengan demikian, jelas bahwa Ewuh Pekewuh bukanlah sesuatu yang baru, melainkan warisan budaya yang telah diajarkan oleh para leluhur sejak lama.

Nilai ini kemudian diturunkan dari generasi ke generasi, hingga akhirnya menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari identitas masyarakat Jawa.

Makna Filosofi di Balik Ewuh Pekewuh

Jika ditelusuri lebih dalam, Ewuh Pekewuh tidak hanya berhenti pada rasa sungkan semata. Di baliknya, terdapat filosofi yang mengajarkan masyarakat bagaimana cara hidup selaras dengan orang lain.

Secara garis besar, terdapat tiga inti makna yang terkandung dalam sikap ini, yaitu kerendahan hati, kerukunan, dan perasaan tidak enak hati.

Baca juga  Slametan Kemerdekaan: Tradisi Jawa yang Menggabungkan Doa, Kebersamaan, dan Rasa Syukur

1. Kerendahan Hati dan Rasa Hormat

Pada dasarnya, Ewuh Pekewuh adalah wujud nyata dari kerendahan hati. Sikap ini mendorong seseorang untuk selalu menghargai orang lain, terutama mereka yang lebih tua atau memiliki kedudukan sosial lebih tinggi.

Dengan menjunjung rasa hormat, hubungan antarindividu dapat berjalan dengan lebih baik dan penuh tenggang rasa.

2. Menjaga Kerukunan dan Harmoni

Masyarakat Jawa sejak lama menjunjung tinggi nilai kerukunan. Ewuh Pekewuh menjadi salah satu cara untuk menjaga hubungan sosial agar tidak menimbulkan konflik.

Dengan mengedepankan sikap ini, orang akan lebih berhati-hati dalam berbicara dan bertindak, sehingga suasana yang tercipta adalah kedamaian dan keharmonisan.

3. Perasaan Tidak Enak Hati

Konsep Ewuh Pekewuh juga menggambarkan rasa sungkan atau tidak enak hati ketika berinteraksi.

Meski terkadang membatasi ekspresi diri, sikap ini pada hakikatnya bertujuan agar tidak ada pihak yang merasa dirugikan atau tersinggung. Dengan demikian, hubungan sosial tetap terjaga tanpa ada gesekan yang berarti.

Warisan Budaya yang Tetap Relevan

Lebih dari sekadar istilah, Ewuh Pekewuh adalah bagian dari identitas budaya Jawa yang sarat dengan nilai kesopanan.

Baca juga  Gotong Royong dalam Kehidupan Desa Jawa: Apakah Masih Bertahan di Tengah Individualisme Modern?

Hal ini tidak hanya mendidik manusia untuk selalu rendah hati, tetapi juga mengajarkan pentingnya menjaga harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.

Hingga hari ini, sikap Ewuh Pekewuh masih dianggap relevan. Dalam era modern sekalipun, di mana interaksi manusia semakin beragam, nilai ini tetap penting untuk dipertahankan.

Ewuh Pekwuh menjadi pengingat bahwa kesantunan adalah jembatan dalam membangun hubungan sosial yang sehat, baik di lingkungan keluarga, tempat kerja, maupun masyarakat luas.

Dengan demikian, hal tersebut bukan hanya sekadar istilah yang artinya sungkan atau segan. Lebih dari itu, Ewuh Pekewuh bisa dijadikan filosofi hidup yang berakar kuat dalam budaya Jawa, sebuah warisan luhur yang layak dijaga dan diwariskan kepada generasi mendatang.

Dengan memelihara nilai ini, maka masyarakat Jawa tidak hanya mempertahankan tradisinya, tetapi juga merawat keharmonisan dalam kehidupan sosial yang lebih luas.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya