
KabarJawa.com – Jika kita berbicara mengenai tradisi setelah Idul Fitri, tak bisa dipungkiri lagi bahwa Lebaran Ketupat menjadi salah satunya yang terus lestari hingga kini.
Perayaan ini identik dengan suasana hangat kebersamaan setelah Hari Raya Idul Fitri. Tahun ini, Lebaran Ketupat diperkirakan berlangsung pada 27 hingga 28 Maret, atau tepat sepekan setelah 1 Syawal.
Walau rutin diperingati setiap tahun, tradisi yang satu ini sebenanrya menyimpan makna, asal-usul, serta nilai filosofisnya tersendiri. Untuk itu, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com berikut penjelasan lengkap mengenainya.
Apa Itu Lebaran Ketupat?
Lebaran Ketupat merupakan bagian dari rangkaian perayaan Syawalan yang mencapai puncaknya pada tanggal 8 Syawal. Tradisi ini dikenal luas di kalangan masyarakat Jawa dengan sebutan Kupatan.
Melansir dari laman resmi Ejournal Unstrat, diketahui bahwa perayaan ini dimaknai sebagai simbol kemenangan yang tidak hanya diraih setelah menjalankan ibadah puasa Ramadan selama satu bulan penuh, tetapi juga setelah menunaikan puasa sunnah enam hari di bulan Syawal.
Dalam praktiknya, masyarakat menyajikan ketupat sebagai hidangan utama. Ketupat dibuat dari beras yang dimasukkan ke dalam anyaman janur atau daun kelapa muda, lalu direbus hingga matang.
Kehadiran ketupat dalam perayaan ini menjadi simbol penutup dari seluruh rangkaian ibadah dan perayaan Idul Fitri.
Sejarah Lebaran Ketupat di Tanah Jawa
Tradisi Lebaran Ketupat memiliki akar sejarah yang erat kaitannya dengan penyebaran agama Islam di Jawa. Sejumlah sumber menyebutkan bahwa tradisi ini diperkenalkan oleh Sunan Kalijaga, salah satu tokoh Walisongo, pada sekitar abad ke-15 hingga ke-16.
Pada masa itu, pendekatan dakwah dilakukan melalui budaya agar ajaran Islam lebih mudah diterima oleh masyarakat lokal. Salah satu bentuknya adalah dengan memperkenalkan tradisi Kupatan sebagai bagian dari perayaan keagamaan.
Sunan Kalijaga membagi momentum Idul Fitri menjadi dua tahap, yaitu:
- Bakda Lebaran yang dirayakan pada 1 Syawal
- Bakda Kupat yang dilaksanakan pada 8 Syawal setelah umat Islam menyelesaikan puasa sunnah Syawal
Pembagian ini bertujuan untuk memberikan ruang refleksi tambahan sekaligus memperkuat nilai spiritual setelah Ramadan.
Makna Filosofi Ketupat
Ketupat tidak sekadar makanan khas Lebaran, tetapi juga mengandung filosofi mendalam dalam budaya Jawa. Setiap bagian dari ketupat memiliki simbol tersendiri yang menggambarkan perjalanan hidup manusia.
Janur atau daun kelapa muda yang digunakan sebagai pembungkus ketupat sering dimaknai sebagai penolak bala. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, janur dianggap mampu melindungi dari berbagai marabahaya.
Kemudian, bentuk ketupat yang menyerupai belah ketupat mencerminkan konsep “kiblat papat lima pancer”. Filosofi ini menggambarkan bahwa manusia memiliki arah kehidupan, namun pada akhirnya akan kembali kepada Tuhan.
Tak hanya itu, proses menganyam janur dalam ketupat juga melambangkan berbagai kesalahan dan dosa manusia selama hidup. Kerumitan dalam membuatnya juga menjadi pengingat bahwa kehidupan tidak selalu sederhana.
Dan saat ketupat dibelah, bagian dalamnya menunjukkan nasi berwarna putih bersih. Hal ini dimaknai sebagai simbol kesucian hati setelah saling memaafkan di momen Lebaran. Selain itu, isi ketupat juga melambangkan harapan akan kesejahteraan dan keberkahan.
Jadi secara keseluruhan, ketupat menjadi simbol permohonan maaf dan penyucian diri, sehingga tidak mengherankan jika makanan ini selalu hadir dalam setiap perayaan Lebaran.
Tradisi dan Kegiatan Saat Lebaran Ketupat
Lebaran Ketupat tidak hanya identik dengan sajian kuliner, tetapi juga diisi dengan berbagai kegiatan sosial dan keagamaan.
Berdasarkan informasi dari laman resmi Pemerintah Desa Pulosari, masyarakat biasanya memulai perayaan dengan berkumpul di musala atau masjid.
Kegiatan yang dilakukan antara lain doa bersama, pembacaan tahlil hingga silaturahmi antarwarga
Setelah rangkaian kegiatan religius, tradisi dilanjutkan dengan berbagi makanan kepada tetangga maupun masyarakat sekitar. Ketupat dan opor menjadi menu yang paling umum dibagikan dalam momen ini.
Aktivitas tersebut mencerminkan semangat kebersamaan dan kepedulian sosial yang tinggi. Lebaran Ketupat pun kini sering kali dirayakan sebagai sarana untuk mempererat hubungan antarindividu serta memperkuat ikatan sosial di tengah masyarakat.***