Menelusuri Sejarah Kentongan: Alat Komunikasi Rakyat yang Kini Masih Eksis di Pedesaan

Bagikan :
Kentongan, alat komunikasi rakyat yang kini masih digunakan (Dok. Gunungkidulkab)

KabarJawa.com – Bicara mengenai warisan budaya Nusantara, ada satu benda sederhana yang memiliki peran besar dalam kehidupan masyarakat di masa lalu, yaitu kentongan.

Bagi generasi modern, terutama yang tinggal di perkotaan, kentongan mungkin hanya dianggap sebagai alat tradisional biasa. Namun, jika ditelusuri lebih jauh, kentongan ternyata menyimpan sejarah panjang dan memiliki fungsi penting sebagai sarana komunikasi rakyat sejak berabad-abad lalu.

Kentongan biasanya dibuat dari batang bambu atau potongan kayu besar yang dilubangi bagian tengahnya. Bahan ini dipilih karena mampu menghasilkan bunyi yang nyaring saat dipukul.

Suara yang dihasilkan bahkan bisa terdengar hingga radius ratusan meter, sehingga sangat efektif digunakan untuk memberi tahu warga sekitar mengenai suatu peristiwa penting.

Meski teknologi modern sudah berkembang pesat, kentongan hingga kini masih dapat dijumpai di sejumlah desa di Indonesia.

Sejarah Kentongan di Nusantara

Sejarah kentongan di setiap daerah memiliki ciri khasnya masing-masing. Misalnya di Yogyakarta, sejak era Kerajaan Majapahit, kentongan bernama Kyai Gorobangsa digunakan untuk mengumpulkan masyarakat ketika ada pengumuman penting dari kerajaan.

Baca juga  Mitos Jawa: Larangan Duduk di Bantal dan Makna Filosofis di Baliknya

Tidak hanya itu, di daerah Pengasih, kentongan bahkan dijadikan alat untuk menguji kejujuran calon pemimpin.

Seiring waktu, peran kentongan semakin meluas. Tidak hanya digunakan untuk komunikasi resmi, kentongan juga menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari, seperti ronda malam dan tanda bahaya.

Bahkan, kentongan berkembang menjadi salah satu instrumen musik tradisional yang kerap dimainkan dalam kesenian rakyat.

Kode Bunyi Kentongan dan Maknanya

Yang membuat kentongan unik adalah bunyi yang dipukul tidak sembarangan. Berdasarkan laman Kabupaten Gunungkidul, diketahui bahwa memang ada kode tertentu yang dipahami masyarakat, sehingga setiap orang bisa langsung mengerti maksudnya.

Berikut beberapa pola bunyi kentongan yang dikenal di masyarakat pedesaan:

  • Pukulan 1-1-1 (titir): tanda berita lelayu atau kematian.
  • Pukulan 2-2-2: pertanda adanya pencuri atau penangkapan pencuri.
  • Pukulan 3-3-3: memberi tahu adanya kebakaran atau bencana alam.
  • Pukulan 4-4-4: tanda adanya banjir atau bencana air.
  • Pukulan 5-5-5: kode bahwa terjadi pencurian barang atau hewan ternak.
  • Pukulan 6-6-6: pertanda situasi aman dan terkendali.
Baca juga  Bacaan Niat Puasa Muharram Hari 1-10 Lengkap Beserta Tata Cara dan Keutamaannya

Dengan pola tersebut, kentongan menjadi media komunikasi yang sederhana tetapi sangat efektif. Tanpa kata-kata, masyarakat bisa segera tahu apa yang sedang terjadi.

Relevansi Kentongan di Era Modern

Kehadiran telepon genggam dan media sosial membuat penyebaran informasi kini semakin cepat. Warga bisa langsung menyebarkan berita hanya dengan sekali klik.

Hal ini membuat kentongan jarang digunakan di perkotaan, bahkan sebagian orang mungkin tidak pernah lagi mendengar bunyinya.

Namun, di pedesaan, kentongan masih memegang peranan penting. Banyak pos ronda dan balai desa yang tetap menyediakannya sebagai bagian dari sistem keamanan lingkungan.

Selain itu, kentongan juga dibunyikan dalam acara adat, ritual budaya, dan kegiatan masyarakat sebagai bentuk pelestarian tradisi.

Sejak Era Majapahit hingga Zaman Modern

Jadi kesimpulannya, sejarah Kentongan di Yogyakarta disebut-sebut sudah ada sejak zaman Majapahit. Kini diketahui pula bahwa ini tak hanya alat komunikasi, tetapi juga simbol gotong royong dan kebersamaan warga.

Sebagian masyarakat saat ini juga masih menggunakan alat tersebut, salah satunya sebagai bentuk meneruskan tradisi.

Baca juga  UAJY Bekali Mahasiswa Baru Kenali Budaya Jawa Lewat Program Jogja Istimewa di Keraton

Dan menjaga tradisi kentongan berarti juga menjaga jati diri bangsa. Apalagi, generasi muda perlu tahu makna di balik bunyi kentongan agar tidak kehilangan identitas budaya lokal.

Dengan begitu, kentongan tetap hidup sebagai warisan yang relevan, baik sebagai alat komunikasi darurat maupun simbol kebersamaan masyarakat.***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Kesalahan Penulisan Aksara Jawa di Kantor Disdikbud Jateng Jadi Sorotan, Begini Fakta dan Evaluasinya
Mengenal Aksara Swara (A, I, U, E, O): Pengertian, Ciri-ciri dan Fungsinya