
KABAR JAWA – Yogyakarta dikenal sebagai daerah yang kaya akan tradisi budaya, salah satunya adalah Grebeg Maulud yang digelar oleh Keraton Yogyakarta setiap tahun.
Namun, ada momen yang sangat istimewa dalam peringatan Grebeg Maulud 2025 kali ini. Tepat pada Tahun Dal dalam penanggalan Jawa, Keraton menghadirkan sebuah prosesi sakral bernama Grebeg Dal, yang hanya berlangsung sekali dalam delapan tahun.
Dalam perayaan khusus ini, muncul Gunungan Bromo, sebuah gunungan unik yang tidak pernah terlihat pada tahun-tahun biasa.
Gunungan ini menjadi simbol kemakmuran sekaligus wujud rasa syukur Sri Sultan kepada masyarakatnya, namun juga menyimpan makna yang lebih dalam terkait kesucian dan spiritualitas.
Gunungan Bromo, Persembahan Istimewa Grebeg Dal
Berbeda dari tujuh gunungan lain yang biasa dibagikan kepada masyarakat dalam tradisi Grebeg, Gunungan Bromo memiliki jalur prosesi yang lebih sakral.
Berdasarkan penjelasan resmi Humas Jogja, diketahui bahwa prosesi gunungan ini tidak diarak hingga ke Alun-Alun Utara, melainkan hanya sampai ke halaman Masjid Gedhe Kauman.
Di tempat inilah gunungan tersebut didoakan dengan penuh kekhidmatan sebelum akhirnya dibawa kembali ke dalam kompleks Kedhaton.
Gunungan Bromo kemudian dipersembahkan kepada Sri Sultan beserta keluarga dan para Abdi Dalem yang sowan di dalam Cepuri Kedhaton.
Hal ini membedakan Gunungan Bromo dengan gunungan lain yang biasanya dirayahkan atau diperebutkan masyarakat sebagai bentuk berkah dari Keraton.
Bentuk dan Keunikan Gunungan Bromo
Gunungan Bromo memiliki wujud yang unik jika dibandingkan dengan gunungan lainnya.
Secara bentuknya, gunungan ini menyerupai Gunungan Estri, berbentuk silinder tegak dengan bagian tengah yang sedikit mengecil.
Rangkanya terbuat dari anyaman bambu, sementara bagian luarnya dilapisi pelepah pisang sehingga terlihat kokoh sekaligus sederhana.
Keistimewaan yang paling menonjol terletak pada bagian puncaknya. Di sana terdapat sebuah lubang yang digunakan untuk meletakkan anglo, yaitu tungku kecil dari tanah liat.
Anglo tersebut diisi arang yang membara, lalu dibubuhi kemenyan sehingga mengeluarkan asap tebal yang terus mengepul.
Asap ini menjadi simbol kekhidmatan, sekaligus menghadirkan nuansa mistis dan spiritual dalam prosesi sakral Grebeg Dal.
Makna Filosofis Gunungan Bromo
Tidak seperti gunungan lain yang lebih menonjolkan hasil bumi sebagai simbol kemakmuran, Gunungan Bromo membawa pesan yang lebih dalam. Gunungan ini melambangkan kesucian.
Api yang menyala di dalam anglo menjadi representasi dari kesucian serta ketulusan hati, seolah mengingatkan manusia akan pentingnya menjaga keseimbangan spiritual dalam kehidupan.
Selain itu, Gunungan Bromo juga merepresentasikan identitas bangsa agraris.
Gunungan yang Tidak Dirayahkan
Satu hal penting yang membedakan Gunungan Bromo dengan gunungan lainnya adalah bahwa gunungan ini tidak boleh dirayahkan oleh masyarakat umum.
Hanya orang dalam Keraton yang berhak menerima dan menghaturkannya kembali kepada Sri Sultan.
Aturan ini mempertegas kesan sakral dan kesucian Gunungan Bromo sebagai bagian dari persembahan spiritual, bukan semata tradisi budaya yang bersifat seremonial.
Gunungan Langka Sarat Makna
Jadi kesimpulannya, makna Gunungan Bromo adalah kesucian. Api yang terus menyala di dalam anglo itu yang kemudian menjadi lambang kesucian.
Sementara itu, gunungan yang satu ini juga mengingatkan masyarakat akan akar kehidupan bangsa agraris.
Kini diketahui pula bahwa Gunungan yang dikeluarkan delapan tahun sekali ini juga tidak dirayahkan untuk khalayak.
Dan yang jelas, kehadirannya dalam Grebeg Dal membuat prosesi ini berbeda dari tahun-tahun sebelumnya, menjadikannya sebuah momen budaya yang langka sekaligus penuh makna bagi Yogyakarta dan masyarakat Jawa pada umumnya.***