Lautan Manusia di Sumbu Filosofis Yogyakarta: Kirab Budaya 12 Ribu Pamong Kalurahan, Simbol Cinta untuk Sultan

Bagikan :
Kirab Budaya 12 Ribu Pamong Kalurahan DIY/Pemda DIY

KabarJawa.com– Kawasan Sumbu Filosofis Yogyakarta akan berubah menjadi panggung kebudayaan raksasa pada Kamis, 2 April 2026.

Dari Jalan Malioboro hingga Alun-Alun Utara Yogyakarta, ribuan langkah akan berpadu dalam satu irama: kirab budaya yang menghadirkan kekuatan tradisi, loyalitas, dan rasa syukur masyarakat kepada rajanya.

Sebanyak 10.000 hingga 12.000 pamong kalurahan yang tergabung dalam Paguyuban Nayantaka bersama unsur Lembaga Kemasyarakatan Kalurahan (LKK) se-Daerah Istimewa Yogyakarta memastikan diri ambil bagian dalam perhelatan akbar ini.

Mereka datang dari 392 kalurahan dan 45 kelurahan, membawa identitas wilayah, hasil bumi, dan semangat gotong royong yang telah mengakar kuat dalam kehidupan masyarakat Yogyakarta.

Kirab Budaya Pamong Kalurahan DIY

Koordinator kegiatan, Gandang, menegaskan bahwa kirab ini lahir dari inisiatif murni para lurah tanpa tekanan atau paksaan. Ia menempatkan kegiatan ini sebagai wujud nyata kecintaan rakyat kepada pemimpinnya.

Ia memandang momen ini sebagai kesempatan langka untuk menyampaikan terima kasih secara langsung kepada Sri Sultan Hamengku Buwono X, sosok yang selama ini tidak hanya memimpin sebagai raja, tetapi juga sebagai gubernur yang memberi teladan dalam melayani masyarakat.

Menurut Gandang, para pamong ingin menghadirkan energi positif dan dukungan moral bagi Sultan yang kini memasuki usia ke-80. Mereka percaya keteladanan Sri Sultan dalam memposisikan diri sebagai pemimpin sekaligus pelayan rakyat menjadi nilai yang harus terus diwariskan.

Baca juga  Mengupas Makna Tradisi Pasang Tarub sebagai Simbol Pernikahan Adat Jawa

Lebih dari sekadar seremoni, kirab ini juga mengandung makna syukur. Selama ini, kalurahan di DIY mendapat kepercayaan untuk mengelola Tanah Kas Desa atau Sultan Ground sebagai sumber Pendapatan Asli Desa (PAD).

Nilainya tidak kecil, dari puluhan juta hingga ratusan juta rupiah per tahun di setiap wilayah. Dari hasil itulah, para pamong berinisiatif mempersembahkan sebagian kecil sebagai simbol terima kasih. Sebuah gestur sederhana, tetapi sarat makna.

Glondhong Pengarem-arem: Persembahan dari Bumi Sendiri

Kirab budaya ini akan semakin hidup dengan kehadiran Glondhong Pengarem-arem, arak-arakan hasil bumi unggulan dari tiap kalurahan.

Setiap wilayah membawa ciri khasnya: durian dari daerah pegunungan, kelapa dari kawasan pesisir, hingga berbagai hasil pertanian lain yang mencerminkan kekayaan alam Yogyakarta.

Menariknya, Sri Sultan Hamengku Buwono X tidak akan menyimpan persembahan tersebut untuk dirinya. Ia justru akan mengembalikannya kepada para bupati dan wali kota agar didistribusikan kepada masyarakat yang membutuhkan.

Konsep dari masyarakat kembali ke masyarakat menjadi napas utama kegiatan ini. Nilai gotong royong tidak hanya diucapkan, tetapi benar-benar diwujudkan dalam tindakan nyata.

Seluruh peserta kirab akan mengenakan pakaian adat Jawa gaya Ngayogyakarta. Mereka akan berjalan dengan penuh wibawa, menghadirkan nuansa klasik yang memperkuat identitas budaya lokal.

Baca juga  Ngapem Bareng Lintas Agama, Cara Warga Miliran Merawat Toleransi Lewat Tradisi Ruwahan

Masyarakat umum juga boleh bergabung. Panitia mengajak warga mengenakan busana adat atau batik dengan tetap menjaga kesopanan dan keselarasan.

Dengan begitu, kirab ini tidak hanya menjadi milik pamong desa, tetapi juga menjadi milik seluruh warga Yogyakarta.

Reakayasa Lalu Lintas/Foto: Pemda DIY

Rekayasa Lalu Lintas Total

Besarnya skala acara membuat pemerintah harus mengambil langkah strategis. Dinas Perhubungan DIY akan memberlakukan rekayasa lalu lintas secara total mulai pukul 06.00 WIB hingga acara selesai.

Penutupan mulai dari kawasan utara di Teteg Malioboro hingga ke selatan. Tidak hanya jalur utama, seluruh jalan sirip yang terhubung ke Malioboro juga akan ditutup.

Di sisi barat, akses seperti Jalan Sosrowijayan, Dagen, Pajeksan, Beskalan, dan Reksobayan akan steril dari kendaraan. Di sisi timur, penutupan mencakup Jalan Perwakilan, Suryatmajan, dan Pabringan.

Penutupan juga meluas hingga simpang strategis menuju Titik Nol Kilometer Yogyakarta, termasuk Jalan KH Ahmad Dahlan, Jalan Panembahan Senopati, Jalan Ibu Ruswo, dan Jalan Kauman.

Kepala Dinas Perhubungan DIY, Chrestina Erni Widyastuti, menegaskan bahwa pihaknya mendukung penuh kegiatan ini sebagai bentuk bakti masyarakat kepada Ngarsa Dalem.

Ia juga mengingatkan bahwa kepadatan massa akan berdampak pada mobilitas warga, sehingga masyarakat perlu beradaptasi dengan pengalihan arus.

Baca juga  Bagian-Bagian Rumah Joglo dan Makna Filosofinya: Pendapa, Pringgitan, hingga Senthong

Namun di balik potensi kemacetan, ia melihat sesuatu yang lebih besar. Kebangkitan kembali rasa cinta rakyat kepada raja, sebuah nilai yang dahulu kuat dan kini kembali tumbuh.

Panitia tidak membiarkan arus manusia bergerak tanpa arah. Mereka menyusun skema kedatangan secara sistematis berdasarkan wilayah.

Peserta dari Kota Yogyakarta dan Sleman akan masuk melalui Malioboro dari utara. Rombongan dari Kulon Progo diarahkan melalui barat, melewati Jalan KH Ahmad Dahlan menuju Titik Nol. Sementara peserta dari Bantul akan memasuki kawasan dari timur melalui Jalan Panembahan Senopati.

Untuk rombongan dari Gunungkidul, panitia memberikan kelonggaran waktu karena jarak tempuh yang lebih jauh. Mereka akan menjadi peserta terakhir dalam urutan kirab.

Sebanyak 16 kantong parkir juga telah siap, termasuk di kawasan Sriwedani dan Ketandan. Semua akan memastikan kelancaran acara sekaligus kenyamanan peserta dan masyarakat.

Kirab budaya ini bukan sekadar acara tahunan. Ia hadir sebagai momentum monumental yang jarang terjadi—sebuah peristiwa yang menggabungkan tradisi, rasa hormat, dan identitas kolektif masyarakat Yogyakarta.

Di tengah arus modernisasi, ribuan orang memilih berjalan kaki, mengenakan pakaian adat, dan membawa hasil bumi sebagai simbol cinta kepada pemimpinnya. Mereka tidak hanya merayakan budaya, tetapi juga menghidupkannya kembali di ruang publik. (ef linangkung)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Jadwal Ganjil Genap Puncak 26 April 2026
Jadwal Buka Tutup Puncak 26 April 2026, Berlaku One Way atau Ganjil Genap? Cek Estimasinya