
KABAR JAWA – Makam Tumenggung Endranata di Pajimatan Imogiri menyimpan kisah tragis pengkhianatan terhadap Kerajaan Mataram Islam.
Simak sejarah lengkap, alasan pengkhianatan, hingga hukuman mengerikan yang membuat makamnya berbeda dari makam raja-raja Mataram lainnya.
Kompleks pemakaman Imogiri di Yogyakarta dikenal sebagai tempat peristirahatan terakhir para raja dan keluarga besar Kerajaan Mataram Islam.
Dibangun pada tahun 1623 oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, tempat ini menjadi simbol sakral sekaligus saksi perjalanan panjang sejarah Mataram.
Namun, di balik kemegahan dan nuansa religius yang kental, terdapat sebuah makam yang kisahnya berbeda dari makam-makam lain.
Bukan makam seorang raja atau bangsawan terhormat, melainkan makam Tumenggung Endranata, seorang punggawa Mataram yang kemudian dicap sebagai pengkhianat besar kerajaan.
Siapa Tumenggung Endranata?
Nama asli Tumenggung Endranata adalah Ngabehi Mertajaya, putra dari Tumenggung Wiraguna. Pada awalnya, ia bukanlah sosok yang hina.
Sebaliknya, ia dikenal sebagai punggawa tangguh yang mendukung Sultan Agung dalam menaklukkan berbagai wilayah, termasuk Demak dan daerah sekitarnya.
Perannya membuatnya dipercaya di lingkaran dalam kerajaan. Namun, kepercayaan tersebut hancur ketika Endranata memilih jalan berseberangan dan melakukan pengkhianatan yang berdampak fatal bagi Mataram.
Dua Pengkhianatan Besar Tumenggung Endranata
1. Memicu Perang Saudara dengan Pati
Salah satu kesalahan besar Endranata adalah menghasut Sultan Agung agar mencurigai Adipati Pragola II, penguasa Pati sekaligus saudara ipar Sultan. Endranata menuduh Pragola hendak melakukan pemberontakan.
Hasutan itu memicu kemarahan Sultan Agung hingga akhirnya menyerang Pati. Pertempuran besar pun terjadi pada 1627, menewaskan Adipati Pragola II yang gugur setelah terkena tombak pusaka Kyai Baru.
Perang saudara tersebut tidak hanya merenggut nyawa bangsawan, tetapi juga menelan korban hingga ratusan ribu orang dari kedua belah pihak. Selain melemahkan kekuatan Mataram, peristiwa itu juga menguras sumber daya kerajaan.
2. Membocorkan Strategi Perang ke VOC
Kesalahan fatal lainnya adalah ketika Sultan Agung berusaha menyerang Batavia (kini Jakarta) pada 1628–1629. Setelah kegagalan pertama akibat logistik yang buruk, Sultan Agung merancang strategi baru dengan membangun lumbung-lumbung padi di wilayah Karawang dan Cirebon.
Namun, rencana rahasia itu bocor ke tangan VOC karena ulah Endranata. Belanda segera menghancurkan lumbung-lumbung tersebut sehingga pasukan Mataram kehilangan pasokan makanan. Akibatnya, serangan kedua pun berakhir dengan kekalahan telak.
Hukuman Menggetarkan dari Sultan Agung
Setelah pengkhianatan itu terbongkar, Sultan Agung murka. Endranata ditangkap dan dijatuhi hukuman mati dengan cara yang mengerikan. Menurut cerita lisan dalam Serat Kandha, tubuhnya dimutilasi menjadi tiga bagian:
- Kepala dipancangkan di alun-alun Jayakarta sebagai peringatan keras kepada Belanda.
- Kaki dibuang ke laut sebagai simbol bahwa ia diusir dari tanah Jawa.
- Tubuh dimakamkan di Imogiri, bukan di tempat terhormat, melainkan di anak tangga menuju Pajimatan.
Tangga tempat jasadnya dikuburkan hingga kini masih terlihat berbeda. Permukaan salah satu anak tangganya tidak rata, sehingga mudah dikenali sebagai penanda bahwa di situlah jasad seorang pengkhianat kerajaan dimakamkan.
Simbol Penghinaan yang Kekal
Keputusan Sultan Agung untuk mengubur jasad Endranata di tangga memiliki makna simbolis. Setiap peziarah yang naik ke Pajimatan Imogiri secara tidak langsung akan menginjak makamnya.
Hal ini menjadi bentuk penghinaan abadi, sekaligus pengingat agar tidak ada seorang pun yang berani mengkhianati kerajaan.
Bagi masyarakat Jawa, kisah ini menjadi pelajaran moral tentang kesetiaan, kepercayaan, dan akibat fatal dari pengkhianatan.
Makam Tumenggung Endranata di Pajimatan Imogiri bukan sekadar bagian dari sejarah, melainkan pengingat keras akan konsekuensi pengkhianatan. Dari seorang punggawa yang dulu berjasa, ia berakhir sebagai simbol pengkhianat terbesar dalam sejarah Mataram Islam.
Cerita tragis ini menegaskan bahwa sejarah tidak hanya mengenang kejayaan raja dan kerajaan, tetapi juga menyimpan pelajaran dari mereka yang memilih jalan keliru.***