
KABARJAWA– Warga Tegalsari, Geneng, Panggungharjo, Sewon, Bantul mengguncang malam dengan sebuah pagelaran berbeda. Mereka tidak menghadirkan kisah Pandawa Lima atau lakon pewayangan klasik lainnya.
Malam itu, layar putih menjadi saksi lahirnya sebuah pertunjukan yang menyalakan kembali ingatan bangsa: Wayang Republik, sebuah kisah heroik tentang bergabungnya Yogyakarta ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pagelaran ini bukan sekadar tontonan. Ia hadir sebagai tuntunan, menghadirkan lakon Proklamasi dan Amanat 5 September 1945.
Dua peristiwa monumental tersebut menandai komitmen Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat dan Kadipaten Pakualaman untuk berdiri tegak bersama Republik Indonesia.
Menggugah Ingatan Sejarah Bangsa
Tokoh masyarakat Tegalsari sekaligus Ketua Penyelenggara, Widihasto Wasana Putra, menegaskan bahwa pertunjukan ini memiliki makna mendalam. Dia ingin mengedukasi nilai-nilai sejarah kepada masyarakat agar tidak melupakan asal usul bangsanya.
“Karena DIY menjadi daerah istimewa berawal dari sejarah besar ini,” tegasnya kepada wartawan di Bantul, Jumat malam (5/9/2025).
Widihasto menjelaskan, setelah Yogyakarta resmi bergabung dengan Republik, pemerintah mengeluarkan Piagam Kedudukan yang meneguhkan status Jogja sebagai Daerah Istimewa. Poin penting inilah yang kembali dihidupkan melalui panggung wayang malam itu.
Dalang, Lakon, dan Kisah Wayang Republik
Pagelaran Wayang Republik kali ini menghadirkan dalang ternama Ki Catur Benyek Kuncoro. Ia membawakan lakon perjalanan bangsa: Proklamasi 17 Agustus, Amanat 5 September, peristiwa Jogja Kembali, hingga pengakuan kedaulatan Indonesia.
“Wayang Republik ini bukan dongeng. Ia adalah catatan sejarah revolusi kemerdekaan yang kami suguhkan dalam bahasa budaya,” ungkap Widihasto.
Menurutnya, relevansi pagelaran ini semakin kuat karena bangsa Indonesia saat ini juga sedang menghadapi berbagai persoalan: krisis politik, ekonomi, hingga tantangan sosial yang menguji semangat persatuan.
Widihasto memaparkan, Wayang Republik lahir pada tahun 2011 sebagai karya budaya untuk memperingati satu abad Sri Sultan Hamengku Buwono IX.
Sejak awal, wayang ini memang berbeda dari wayang purwa. Tokoh-tokoh yang muncul bukan Arjuna atau Srikandi, melainkan Bung Karno, Bung Hatta, Jenderal Sudirman, Ki Hajar Dewantara, hingga Kolonel Van Langen sebagai tokoh antagonis.
Dengan menghadirkan tokoh nyata bangsa, Wayang Republik mengajak penonton untuk menyelami kembali semangat perjuangan.
Pesan khusus yang ingin kami sampaikan adalah menggugah kesadaran seluruh komponen bangsa untuk tetap berpegang pada cita-cita proklamasi.
Pertunjukan malam itu tidak berhenti pada narasi sejarah. Ia mengalir sebagai seruan moral.
“Cita-cita proklamasi adalah menjadikan bangsa Indonesia aman, tenteram, sejahtera, dan mampu memberikan perlindungan kepada rakyatnya,” ujar Widihasto.
Layar tancap, gamelan yang mengalun, dan suara dalang Ki Catur berpadu dalam suasana magis. Setiap adegan menghadirkan semangat keberanian para tokoh bangsa.
Penonton seolah dibawa kembali ke masa-masa penuh kobaran api revolusi, ketika Jogja dengan gagah memilih berdiri bersama Republik.
“Situasi bangsa hari ini tidak baik-baik saja. Karena itu, kita perlu menghidupkan kembali semangat kebersamaan untuk merawat ke-Indonesiaan,” ucapnya lantang.
Dengan Wayang Republik, warga Tegalsari Bantul mengingatkan publik bahwa sejarah bukan hanya cerita masa lalu. Ia adalah cermin yang menuntun langkah bangsa di tengah badai zaman. (ef linangkung)