Toleransi Umat Islam dan Hindu di Pura Podowenang Gunungkidul: Harmoni Nyepi dan Ramadan yang Menginspirasi

Bagikan :
Toleransi Umat Islam dan Hindu di Pura Podowenang Gunungkidul/Foto: ef linangkung

KabarJawa.com– Senja mulai turun di Padukuhan Kaliwaru, Kapanewon Ngawen, Kabupaten Gunungkidul. Suara gamelan perlahan mengalun, berpadu dengan langkah-langkah warga yang bersiap mengarak ogoh-ogoh.

Di tengah suasana sakral itu, sebuah kisah toleransi antarumat beragama tumbuh kuat dan nyata, bukan sekadar wacana, melainkan praktik kehidupan sehari-hari.

Di Pura Podowenang Ngawen Gunungkidul, umat Hindu dan Islam membangun harmoni yang jarang ditemukan di tempat lain.

Mereka tidak hanya hidup berdampingan, tetapi juga saling menjaga, saling menghormati, dan saling membantu dalam menjalankan ibadah masing-masing.

Upacara Pangrupukan: Membersihkan Unsur Negatif

Ketua pengempon Pura Podowenang, Iptu Hartanto, menjelaskan secara rinci rangkaian upacara Pangrupukan yang menjadi bagian penting menjelang Hari Raya Nyepi.

“Om Swastiastu, nama saya Hartanto. Saya kebetulan ketua pengempon di pura ini. Kami umat Hindu Pura Podowenang melaksanakan upacara Pangrupukan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa umat Hindu menjalankan upacara Pangrupukan sebagai tahap awal sebelum melaksanakan Catur Brata Penyepian. Mereka bertujuan membersihkan unsur-unsur negatif dalam kehidupan manusia.

Baca juga  15 Ucapan Lebaran dalam Bahasa Jawa yang Penuh Makna Saat Sungkeman ke Orang Tua

Hartanto menjelaskan bahwa umat Hindu memaknai butakala sebagai simbol makhluk bawah atau energi negatif yang dapat mengganggu kehidupan manusia. Oleh karena itu, mereka melakukan ritual pembersihan agar pelaksanaan Nyepi berjalan lancar.

Hartanto memaparkan bahwa umat memulai rangkaian Pangrupukan dengan persembahyangan bersama di pura. Setelah itu, mereka melaksanakan upacara caru sebagai simbol pembersihan dari energi negatif.

“Caru itu artinya membersihkan makhluk-makhluk butakala atau raksasa dan unsur-unsur negatif di dalam hidup manusia,” jelasnya.

Setelah prosesi caru selesai, warga mengarak ogoh-ogoh mengelilingi Padukuhan Kaliwaru. Arak-arakan ini tidak sekadar tradisi, tetapi juga sarat makna spiritual.

Ogoh-ogoh melambangkan butakala, simbol sifat buruk seperti amarah, iri hati, dan hawa nafsu yang harus dikendalikan. Warga kemudian membawa ogoh-ogoh ke tempat pembakaran sebagai simbol pemusnahan energi negatif.

Dengan proses itu, umat Hindu berharap dapat menjalankan Catur Brata Penyepian dengan hati bersih dan penuh konsentrasi.

Toleransi Umat Islam dan Hindu di Pura Podowenang Gunungkidul

Yang membuat kisah ini semakin menggetarkan adalah momentum pelaksanaan Pangrupukan yang kerap bertepatan dengan bulan Ramadan. Alih-alih memicu gesekan, momen ini justru memperkuat toleransi antarumat beragama.

Baca juga  7 Filosofi Jawa yang Masih Relevan untuk Anak Muda di Era Digital

Hartanto mengungkapkan bahwa remaja masjid dan takmir di sekitar pura secara aktif membantu jalannya upacara.

“Setiap tahun, remaja masjid berpartisipasi. Termasuk takmir masjid, mereka membantu sekitar 50 orang untuk mendukung pelaksanaan arak-arakan ogoh-ogoh,” ungkapnya.

Partisipasi itu bukan sekadar formalitas. Para pemuda Muslim ikut mengatur jalannya arak-arakan, menjaga ketertiban, bahkan memastikan kegiatan berlangsung aman hingga selesai.

Toleransi tidak berhenti pada bantuan fisik. Saat Hari Raya Nyepi tiba, umat Islam di sekitar pura juga menunjukkan empati yang mendalam.

Masjid-masjid di sekitar Pura Podowenang secara sukarela tidak menyalakan pengeras suara, bahkan saat momen takbiran sekalipun.

Langkah ini menjadi simbol penghormatan terhadap umat Hindu yang menjalankan Catur Brata Penyepian, hari di mana mereka berpuasa, bermeditasi, dan menjaga keheningan total.

Keputusan itu tidak lahir dari paksaan, melainkan dari kesadaran bersama akan pentingnya hidup rukun dalam keberagaman.

Kisah di Pura Podowenang membuktikan bahwa toleransi tidak cukup hanya dibicarakan. Masyarakat Kaliwaru memilih untuk mempraktikkannya secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.

Baca juga  Perdana! Jamasan Tosan Aji di Bangsal Sewokoprojo: Simbol Penyucian Jiwa dan Warisan Leluhur

Mereka menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak menjadi penghalang untuk saling membantu. Justru, perbedaan itu menjadi kekuatan yang memperkaya kehidupan sosial.

Di tengah berbagai tantangan keberagaman di Indonesia, harmoni antara umat Hindu dan Islam di Ngawen Gunungkidul menjadi contoh nyata bahwa persatuan tetap bisa terjaga.

Ketika ogoh-ogoh dibakar dan malam Nyepi tiba, bukan hanya unsur negatif yang lenyap. Ego, prasangka, dan sekat-sekat perbedaan pun ikut melebur dalam semangat kebersamaan. Dari desa kecil di Gunungkidul ini, Indonesia kembali belajar tentang arti toleransi yang sesungguhnya. (ef linangkung)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Jadwal Ganjil Genap Puncak 26 April 2026
Jadwal Buka Tutup Puncak 26 April 2026, Berlaku One Way atau Ganjil Genap? Cek Estimasinya