Sedekah Laut di Pantai Kukup: Warga Gunungkidul Larung 7 Gunungan Penuh Syukur, Menyambut 1 Suro

Bagikan :
Sedekah Laut di Pantai Kukup/Foto: ef linangkung

KABARJAWA – Dalam suasana yang sarat makna dan penuh nuansa sakral, ratusan warga dan nelayan Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Kabupaten Gunungkidul, menyelenggarakan tradisi sedekah laut di Pantai Kukup pada Kamis siang (26/06/2025).

Kegiatan adat ini bukan sekadar seremoni, namun menjadi wujud nyata ungkapan syukur masyarakat atas limpahan berkah dan keselamatan dari Tuhan Yang Maha Esa.

Sedekah Laut di Pantai Kukup

Warga dan nelayan bersatu dalam nuansa spiritual dan kemeriahan budaya, menyambut malam 1 Suro dengan melarung tujuh gunungan yang berisi nasi tumpeng, buah-buahan, dan aneka hasil bumi ke tengah laut. Mereka percaya, laut bukan sekadar sumber penghidupan, tetapi juga tempat suci yang layak dihormati.

Panitia Sedekah Laut, Subarno, menyampaikan dengan penuh keyakinan bahwa masyarakat Pantai Kukup terus menjaga tradisi ini sebagai ungkapan syukur atas hasil tangkapan laut yang melimpah serta cuaca baik yang selalu mengiringi aktivitas nelayan.

Ia menegaskan bahwa larungan bukan semata ritual, melainkan ikhtiar spiritual untuk menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.

Baca juga  Memahami Konsep Sangkan Paraning Dumadi: Perjalanan Hidup dan Kematian dalam Pandangan Jawa

Sebelum melarung gunungan, masyarakat melangsungkan kirab budaya yang menyedot perhatian para pengunjung. Kirab bermula dari area parkir hingga tepi pantai, memperlihatkan barisan bergodo, para dayang, serta atraksi budaya seperti reog, jatilan, dan iring-iringan warga setempat.

Mereka berjalan kaki dengan penuh khidmat dan semangat, mengalunkan doa dan harapan di tiap langkah.

Gunungan yang disusun rapi dan megah itu dikawal ketat oleh pasukan bergodo berpakaian adat lengkap. Mereka memikul gunungan dengan hati-hati sambil terus mengumandangkan lantunan doa dan syair pujian.

Angin laut yang berhembus kencang justru menambah kesakralan prosesi. Sesampainya di bibir pantai, para nelayan menaikkan gunungan ke perahu untuk kemudian melarung ke tengah laut yang tenang dan biru.

Langit yang cerah serta debur ombak seakan ikut bersaksi atas ketulusan hati masyarakat Pantai Kukup. Para nelayan melemparkan sesaji dengan harap, agar laut senantiasa memberi rezeki, keselamatan, dan perlindungan. Beberapa warga bahkan terlihat meneteskan air mata, menyatu dalam momen yang menggugah jiwa.

Antusiasme Wisatawan

Subarno menyebutkan bahwa tradisi sedekah laut ini bukan sekadar warisan leluhur, tetapi juga menjadi perekat persaudaraan dan simbol guyub rukun masyarakat pesisir.

Baca juga  Bupati Gunungkidul Larung Kepala Kerbau: Sedekah Laut di Pantai Kukup, Sarat Makna dan Penuh Syukur

“Kami akan terus melestarikan kegiatan ini. Tradisi ini sudah menjadi darah daging, sudah mendarah daging dalam kehidupan kami. Ini cara kami menjaga hubungan dengan alam dan Sang Pencipta,” tegasnya.

Sementara itu, antusiasme wisatawan yang menyaksikan prosesi juga sangat tinggi. Mereka memadati bibir pantai sejak pagi hari. Banyak dari mereka yang mengabadikan momen larung gunungan sebagai bagian dari kekayaan budaya yang tak ternilai. Beberapa wisatawan bahkan ikut hanyut dalam kekhusyukan doa-doa warga.

Tradisi sakral ini menjadi bukti bahwa masyarakat pesisir masih teguh memegang adat istiadat yang sarat makna spiritual dan sosial.

Di tengah arus modernisasi, Pantai Kukup tetap menjaga denyut kebudayaan yang hidup dan berakar kuat. Sedekah laut ini tidak hanya menjadi pesta budaya, tetapi juga bentuk perenungan mendalam akan pentingnya syukur, kebersamaan, dan keteguhan hati dalam menjaga warisan leluhur.

Dengan larungan tujuh gunungan, masyarakat Pantai Kukup meneguhkan tekad untuk terus hidup berdampingan dengan laut, dengan alam, dan dengan sesama manusia.

Baca juga  6 Alasan Kenapa Upacara Adat Jawa Masih Terus Dipertahankan Sampai Sekarang

Sebuah pesan yang sangat kuat bahwa tradisi bila dijaga dengan cinta dan keikhlasan, akan terus menghidupkan nilai-nilai luhur dalam kehidupan sehari-hari. (ef linangkung)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid