
KABARJAWA – Pantai Kukup di Kalurahan Kemadang, Kapanewon Tanjungsari, Gunungkidul, kembali bergelora dengan semangat tradisi. Ratusan warga dan nelayan tumpah ruah di bibir pantai sejak pagi hari, menandai dimulainya ritual sakral Sedekah Laut.
Tradisi tahunan yang telah diwariskan turun-temurun ini mengandung makna spiritual dan sosial yang mendalam. Masyarakat pesisir menyambut malam 1 Suro dengan persembahan penuh hormat kepada Tuhan dan alam semesta.
Sedekah Laut
Kirab budaya membuka rangkaian acara dengan gegap gempita. Warga membentuk iring-iringan panjang yang dipimpin pasukan bergada lengkap dengan pakaian adat Jawa.
Dayang-dayang membawa sesaji dengan penuh keanggunan, sementara atraksi reog dan jatilan memeriahkan suasana.
Tujuh gunungan hasil bumi berdiri tegak, masing-masing berisi nasi tumpeng, buah-buahan, sayur-mayur, dan hasil laut. Warga mengaraknya ke tepi pantai, menyatu dalam semangat gotong royong dan rasa syukur.
Ketua Panitia Sedekah Laut 2025, Subarno, menjelaskan makna di balik prosesi ini. Ia menegaskan bahwa tradisi ini lahir dari kesadaran kolektif untuk bersyukur atas limpahan rejeki dari laut serta untuk memohon keselamatan dalam menghadapi musim baru.
“Kami melarung tujuh gunungan sebagai bentuk syukur kepada Tuhan. Tradisi ini bukan hanya ritual spiritual, tetapi juga mempererat hubungan sosial antarwarga,” katanya.
Dentuman gamelan mengalun dari panggung utama, mengiringi prosesi sakral larungan. Asap kemenyan mengepul, menyelimuti pantai dengan aroma mistis yang menenangkan jiwa. Ombak yang menggulung perlahan seolah ikut menyambut kiriman persembahan dari darat.
Suasana terasa magis dan khusyuk. Wisatawan yang datang dari berbagai daerah berdiri terpukau, menyaksikan harmoni antara manusia dan alam yang terajut dalam balutan budaya.
Bupati Gunungkidul Larung Kepala Kerbau
Namun puncak dari seluruh prosesi itu terjadi ketika Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menaiki perahu nelayan dan berlayar ke tengah laut.
Dengan wajah khidmat dan sorot mata penuh harap, Bupati Endah ikut larut dalam ritual paling sakral, yakni melarung kepala kerbau.
Sekitar lima kilometer dari garis pantai, rombongan perahu berhenti. Di titik inilah Bupati menaburkan bunga dan melepaskan kepala kerbau ke lautan lepas. Ombak menerimanya tanpa gaduh, seolah memahami kesungguhan doa yang menyertainya.
Bupati Endah mengatakan bahwa tradisi Sedekah Laut ini bukan sekadar seremoni, melainkan bagian dari napas kehidupan masyarakat pesisir Gunungkidul. Ini adalah bentuk syukur sekaligus doa bersama agar laut tetap memberikan berkah.
“Kita jaga tradisi ini, karena di sinilah kekuatan spiritual dan sosial masyarakat kita tumbuh,” ucapnya usai prosesi larungan.
Pemerintah Kalurahan Kemadang dan Kapanewon Tanjungsari juga ikut ambil bagian dalam pelestarian budaya ini. Mereka memberikan dukungan penuh, termasuk dengan menyiapkan fasilitas dan pengamanan bagi ribuan pengunjung yang datang.
Tradisi ini bukan hanya mempererat ikatan sosial, tetapi juga menjadi daya tarik wisata budaya dan religi yang kuat di wilayah pesisir selatan DIY. Ribuan pasang mata menyaksikan prosesi larungan gunungan dan kepala kerbau dengan takzim.
Anak-anak kecil menatap kagum, para orang tua mendoakan, dan wisatawan mengabadikan momen langka ini dengan penuh rasa hormat. Segalanya berpadu dalam satu ruang waktu yang sakral: antara kepercayaan, budaya, dan kekayaan laut.
Tradisi Sedekah Laut di Pantai Kukup tidak hanya mempertahankan warisan nenek moyang, tetapi juga memperkuat rasa memiliki terhadap laut sebagai sumber kehidupan.
Masyarakat percaya bahwa dengan berbagi dan bersyukur, alam akan menjaga keseimbangan, dan Tuhan akan melimpahkan berkah-Nya.
Dengan semangat ini, warga pesisir Gunungkidul terus menjaga tradisi yang menjadi jati diri. Mereka berharap budaya ini terus lestari dan laut tetap menjadi sahabat setia yang membawa berkah, keselamatan, serta kesejahteraan untuk generasi kini dan mendatang. (ef linangkung)