
KabarJawa.com– Suara gamelan Jawa mengalun pelan dari halaman Balai Kelurahan Balong, Kapanewon Girisubo, Rabu (3/6/2026).
Ribuan warga memadati lokasi perayaan Bersih Desa atau Rasulan Balong. Masyarakat tidak hanya menggelar tradisi tahunan, tapi juga menunjukkan wajah asli pedesaan Jawa yang masih menjaga warisan leluhur.
Sejak pagi, warga dari berbagai padukuhan berdatangan dengan mengenakan pakaian adat. Mereka berjalan beriringan membawa aneka hasil bumi yang menjadi gunungan raksasa.
Jagung, ketela, cabai, kacang tanah, pisang, hingga berbagai hasil panen lainnya tersusun rapi dan menjadi simbol rasa syukur atas berkah Tuhan selama setahun terakhir.
Kirab Gunungan menjadi pembuka rangkaian Rasulan Balong 2026. Sepanjang jalan menuju Balai Kelurahan, warga berjejer di kanan-kiri jalan.
Tradisi turun-temurun tersebut kembali membuktikan bahwa budaya Jawa masih hidup dan mengakar kuat di tengah masyarakat Gunungkidul.
Rasulan Balong 2026
Lurah Balong, Sumarjo, mengatakan Rasulan bukan sekadar agenda seremonial tahunan. Tradisi itu menjadi sarana masyarakat untuk memanjatkan doa sekaligus memohon keselamatan dan keberkahan bagi seluruh warga.
Menurutnya, masyarakat berharap para petani mendapatkan hasil panen yang lebih baik, para pedagang memperoleh rezeki yang melimpah, serta seluruh warga sehat dan tenteram dalam menjalani kehidupan sehari-hari.
“Rasulan menjadi bentuk rasa syukur masyarakat kepada Tuhan atas hasil panen yang telah diberikan. Selain itu, warga juga memohon keselamatan dan keberkahan agar tahun mendatang lebih baik,” katanya.
Perayaan semakin semarak ketika Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, hadir bersama sejumlah pejabat daerah.
Kehadiran orang nomor satu di Gunungkidul tersebut mendapat sambutan hangat dari masyarakat yang sejak pagi menunggu di lokasi acara.
Dalam sambutannya, Endah memberikan apresiasi terhadap komitmen masyarakat Balong yang terus menjaga tradisi leluhur.
Menurutnya, Rasulan bukan sekadar ritual budaya, melainkan simbol hubungan harmonis antara manusia, alam, dan Sang Pencipta.
“Adicara rasulan menika mboten namung ruangan sak minangka atur sukur dhumateng Gusti awit asil panen ingkang melimpah, ananging ugi dados sarana nguri-uri kabudayan Jawi,” ujarnya.
Bupati menilai tradisi seperti Rasulan memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar perayaan. Di dalamnya terdapat nilai kebersamaan, gotong royong, penghormatan terhadap alam, dan penghargaan terhadap warisan budaya para leluhur.
Gotong Royong Warga
Di hadapan ratusan warga, Endah secara khusus menyoroti kuatnya budaya gotong royong yang masih hidup di Kelurahan Balong.
Ia bahkan mengutip pemikiran Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang menyebut gotong royong sebagai kepribadian asli bangsa Indonesia.
Menurutnya, apa yang dilakukan masyarakat Balong menjadi bukti nyata bahwa semangat gotong royong tidak pernah hilang.
Warga bergotong royong mengumpulkan dana secara sukarela, menyiapkan panggung pertunjukan, menghias lokasi acara, hingga menyukseskan seluruh rangkaian kegiatan tanpa mengandalkan pihak luar.
“Kalau tidak ada gotong royong, tidak mungkin acara sebesar ini bisa terlaksana dengan baik,” ujarnya.
Di balik kemeriahan Rasulan, masyarakat Balong juga menyimpan harapan besar terhadap masa depan wilayahnya.
Dalam kesempatan tersebut, Lurah Balong memaparkan berbagai potensi wisata yang dimiliki wilayahnya. Kawasan ini dikenal memiliki sejumlah destinasi alam yang mulai menarik perhatian wisatawan.
Bukit Pengilon menawarkan panorama perbukitan hijau yang berpadu dengan bentangan Samudra Hindia. Gunung Batur menyuguhkan keindahan alam khas kawasan pesisir selatan.
Lalu, Watu Lumbung menghadirkan pesona tebing batu yang berdiri megah di tepi laut. Ketiga destinasi tersebut memiliki peluang besar untuk berkembang menjadi motor penggerak ekonomi masyarakat.
Namun demikian, pengembangan wisata masih menghadapi persoalan klasik, yakni keterbatasan infrastruktur jalan.
Akses menuju sejumlah objek wisata masih belum memadai sehingga menghambat mobilitas wisatawan. Kondisi tersebut berdampak pada belum optimalnya pertumbuhan sektor pariwisata di wilayah Balong.
Mendengar aspirasi tersebut, Bupati Gunungkidul langsung memberikan kabar yang disambut tepuk tangan warga.
Perbaikan Jalan
Endah mengumumkan bahwa pemerintah daerah telah menyiapkan anggaran untuk pembangunan akses jalan menuju kawasan wisata Watu Lumbung. Proyek tersebut dijadwalkan mulai dikerjakan pada bulan depan.
Kabar itu langsung menjadi angin segar bagi masyarakat yang selama ini menunggu perbaikan akses menuju destinasi wisata andalan mereka.
Menurut Bupati, pembangunan infrastruktur menjadi kunci penting dalam menggerakkan perekonomian masyarakat desa.
Ketika akses jalan semakin baik, jumlah wisatawan akan meningkat. Dampaknya tidak hanya dirasakan pengelola wisata, tetapi juga pelaku UMKM, pedagang, penyedia jasa transportasi, hingga masyarakat sekitar.
“Kami berharap pembangunan ini dapat mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat dan memperkuat sektor pariwisata berbasis budaya maupun alam,” katanya.
Kemeriahan Acara
Sejak malam sebelumnya, masyarakat menyaksikan pertunjukan Ketoprak yang berlangsung hingga dini hari. Lakon para seniman lokal berhasil menghibur warga yang memadati arena pertunjukan.
Pada siang hari, kelompok Reog Krida Budaya tampil energik menyambut tamu undangan. Tabuhan musik yang menghentak dan atraksi para penari berhasil memancing decak kagum para penonton.
Tidak hanya itu, kelompok karawitan dan uyon-uyon yang melibatkan ibu-ibu PKK serta seniman lokal juga tampil memukau. Alunan gamelan yang mengalir lembut menghadirkan suasana khas pedesaan Jawa yang hangat dan penuh kekeluargaan.
Puncak perayaan berlangsung pada Rabu malam melalui pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Pertunjukan tersebut menjadi magnet utama yang selalu ditunggu masyarakat setiap perayaan Rasulan.
Ribuan warga diperkirakan memadati area pertunjukan untuk menyaksikan kisah-kisah pewayangan yang sarat pesan moral dan nilai kehidupan.
Ketika malam semakin larut, semangat masyarakat justru tidak surut. Mereka menikmati setiap adegan yang dimainkan dalang sembari bercengkerama bersama keluarga dan kerabat.
Tradisi inilah yang membuat Rasulan tidak sekadar menjadi pesta rakyat, tetapi juga ruang perjumpaan sosial yang mempererat hubungan antarwarga.
Menjelang akhir rangkaian kegiatan, tokoh agama setempat memimpin doa bersama. Suasana yang sebelumnya riuh perlahan berubah khidmat.
Warga menengadahkan tangan dan memanjatkan harapan agar Kelurahan Balong senantiasa mendapatkan perlindungan, kesehatan, ketenteraman, serta rezeki yang berkah.
Di tengah derasnya perubahan zaman, Rasulan Balong kembali membuktikan bahwa tradisi mampu menjadi perekat masyarakat. Di balik gunungan hasil bumi, tabuhan gamelan, dan gemerlap pentas seni, tersimpan semangat gotong royong yang terus hidup dari generasi ke generasi.
Kini, masyarakat Balong tidak hanya membawa pulang kebahagiaan dari perayaan adat tahunan mereka. Mereka juga membawa harapan baru.
Harapan bahwa pembangunan infrastruktur segera terwujud, sehingga potensi wisata yang selama ini terpendam dapat berkembang dan menghadirkan kesejahteraan bagi seluruh warga. (ef linangkung)