
KabarJawa.com– Suara pek… bung… pek… bung… memecah keheningan malam di halaman rumah sederhana milik Suharyanta. Bunyi khas itu lahir dari tabuhan alat musik bambu dan denting tembikar yang diselimuti ban karet.
Inilah Pek Bung, kesenian asli Pandak, Bantul, yang mencoba bangkit dari masa lalu untuk kembali hidup di masa kini.
“Pek Bung bukan sekadar kesenian tempo dulu. Pek Bung sekarang hidup di panggung-panggung modern dan berupaya untuk menemui generasi baru. Tradisi ini akan tetap hidup jika kita bersama-sama membawanya melintasi zaman,” ujar Suharyanta atau Pakdhe Jojon.
Saat itu, ia menggelar pemutaran film dokumenter Pek Bung di halaman rumahnya, Nglarang, Kalurahan Triharjo, Kapanewon Pandakm
Sejarah Pek Bung
Di sudut halaman yang menjadi panggung sederhana, tiga paguyuban Pek Bung tampil bergantian. Denting bambu, tepukan tangan, dan lantunan lagu rakyat mengalun akrab.
“Pek Bung lahir sekitar tahun 1940-an, ketika Belanda membangun pabrik gula di Gesikan, Wijirejo, Pandak,” kisah Pakdhe Jojon.
Kala itu, para pekerja Belanda sering memainkan musik keroncong. Warga pribumi yang terpesona oleh irama itu ingin ikut bermain, tapi mereka tidak punya alat musik.
Dari keterbatasan itulah lahir kreasi, bambu menjadi tuklik, tembikar menjadi klenthing, dan jadilah Pek Bung.
Pek Bung tumbuh menjadi hiburan rakyat. Bambu dan tembikar berdentum di setiap pesta, hajatan, dan perayaan panen. Namun, pada dekade 1960-an, Pek Bung terhenti.
Pergolakan politik yang menautkan berbagai kesenian rakyat dengan Partai Komunis Indonesia membuat panggung-panggung senyap.
“Saat itu hampir semua kesenian tiarap. Tapi perlahan, Pek Bung kembali hidup, meski terseok-seok,” kenang Pakdhe Jojon.
Seiring waktu, alat musik Pek Bung makin beragam. Kini kendhang, ecek-ecek (marakas), seruling, garpu tala, kentungan, hingga etek eser ikut meramaikan pertunjukan.
Di panggung modern, gitar dan ketipung menjadi pelengkap, memberi sentuhan baru tanpa menghapus jati diri lamanya.
Tantangan Besar
Meski kembali bersemi, Pek Bung kini menghadapi tantangan besar. Anak muda mulai kehilangan minat.
Paguyuban yang dulu menjamur kini tersisa beberapa kelompok yang berjuang keras menjaga api tradisi, di antaranya Paguyuban Klenthing Laras Miring, Abakura, dan Tri Manunggal Sari.
Ketua Paguyuban Tri Manunggal Sari, Agus Wijanarko, menuturkan, Pek Bung juga pendidikan, dakwah, dan sarana memperkuat ikatan sosial. Seringkali mereka memainkan kesenian ini di hadapan tokoh negara.
“Kami bangga memainkan Pek Bung. Kami pernah tampil di hadapan Ibu Jusuf Kalla, diundang GKR Pembayun, hingga tampil di Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta. Bahkan, pihak ISI menilai Pek Bung layak dikaji dan dipelajari,” ujarnya penuh semangat.
Kini, kesenian ini bertransformasi agar tetap relevan. Tak lagi terpaku pada lagu perjuangan, kini ia mengiringi lagu dolanan anak, pop, campursari, hingga langgam Jawa.
Saat acara di rumah Pakdhe Jojon, suasana sempat mencair ketika seorang penonton menyanyikan lagu “Besame Mucho” diiringi alat musik Pek Bung, sementara hadirin lain menari waltz.
“Pek Bung, lagu latin, dan waltz, semuanya berpadu harmonis. Siapa tahu besok Pek Bung bisa go internasional,” canda Pakdhe Jojon.
Acara malam itu semakin istimewa dengan kehadiran Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, dan Wakil Bupati, Aris Suharyanta. Sang bupati ikut tampil menyanyikan lagu “Kau Yang Sangat Kusayang” ciptaan A. Riyanto.
“Pek Bung adalah identitas budaya Pandak. Kesenian ini mencerminkan karakter dan kebersamaan masyarakat. Kita harus melestarikannya agar generasi kita tidak kehilangan akar budaya,” tegasnya.
Wakil Bupati Bantul, Aris Suharyanta, menambahkan, pelestarian Pek Bung adalah wujud nyata jiwa Satriya warga Bantul. Bantul Bumi Satriya artinya jiwa satriya mengakar kuat di setiap warga.
“Salah satu bentuknya adalah menjaga budaya leluhur seperti Pek Bung ini,” ujarnya.
Berkat dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah X dan pemerintah daerah, Pek Bung mulai merambah panggung-panggung pendidikan dan kebudayaan. Generasi muda kembali mengenal, memainkan, dan menumbuhkan kembali rasa bangga terhadap warisan lokal. (ef linangkung)