
KABARJAWA – Ribuan orang membanjiri kawasan Pantai Parangtritis pada malam 1 Suro 2025 untuk mengikuti ritual sakral di Petilasan Parangkusumo.
Koordinator Tempat Pemungutan Retribusi (TPR) Parangtritis, Rohmad Rikwanto, mencatat jumlah pengunjung yang sangat tinggi pada malam pergantian Tahun Baru Jawa tersebut.
Ia menyebut petugas mendata 7.423 pengunjung datang sejak pukul 19.00 hingga pukul 00.00, kemudian 1.955 pengunjung masuk lagi pada pukul 00.01 hingga 07.00.
Pengunjung Padati Parangtritis
“Total pengunjung mencapai 9.418 orang,” ujarnya Jumat (27/6/2025).
Rohmad memastikan, hingga pukul 07.00 pagi, pengunjung masih berdatangan untuk melanjutkan ritual labuhan dan ruwatan di tepi pantai. Mereka membawa harapan dan doa agar kehidupan mereka bersih dari bala dan terlimpahi keberkahan di tahun baru ini.
Salah satu pamong Kalurahan Parangtritis, Nurjoko, menggambarkan kondisi Parangtritis sangat ramai. Ia menegaskan ribuan orang terus mengalir dari berbagai daerah tanpa henti.
Mereka datang membawa niat spiritual untuk ngalap berkah, melaksanakan tirakatan, atau sekadar menonton ritual larung dan ruwatan di Petilasan Parangkusumo.
“Situasi lalu lintas macet total. Jalan sebelum TPR hingga melewati TPR sepanjang 3 kilometer dipenuhi kendaraan. Parkiran Parangkusumo tidak muat lagi menampung mobil dan motor para peziarah,”kata dia.
Ritual di Petilasan Parangkusumo
Pada malam 1 Suro, ribuan peziarah berjalan menapaki pasir gelap Parangkusumo menuju Petilasan Senopati yang terletak tepat di barat kompleks Cepuri.
Mereka menyalakan dupa, menyiapkan sesaji bunga setaman, nasi kendhit, hingga ayam panggang utuh. Bau kemenyan menyelimuti udara malam, bercampur angin laut selatan yang berhembus kencang.
Sejumlah kelompok spiritual menggelar ritual pembacaan doa, wirid, dan mantra di pelataran Petilasan. Mereka percaya tempat itu menjadi titik bertemunya Panembahan Senopati dengan Kanjeng Ratu Kidul untuk memohon keselamatan, pangkat, rezeki, dan kejayaan hidup.
Para pemimpin ritual memimpin doa dengan suara lantang yang bersahut-sahutan dengan debur ombak selatan.
Beberapa kelompok lain melakukan meditasi di pesisir barat Parangkusumo. Mereka duduk bersila, menatap laut, memejamkan mata, dan meresapi keheningan meski kerumunan manusia mengelilingi mereka.
Bau dupa semakin menebal ketika jarum jam menunjukkan pukul 00.00, menandai dimulainya Tahun Baru Jawa 1 Suro 1959.
Tradisi malam 1 Suro di Parangkusumo terus hidup sejak ratusan tahun silam. Warga percaya ritual tersebut menghubungkan manusia dengan alam dan Tuhan.
Suara gamelan jawa, tembang macapat, hingga kidung doa terdengar lirih di setiap sudut, menambah suasana mistis dan sakral malam pergantian tahun itu.
“Parkiran Petilasan Parangkusumo penuh sejak sore. Orang-orang rela berjalan jauh dari parkiran darurat di pinggir jalan raya hingga ke kompleks petilasan.” Nurjoko menegaskan. (Ef Linangkung)