
KabarJawa.com – Banyak orang memahami sumeleh sebagai sikap pasrah atau menyerah terhadap keadaan. Tak sedikit pula yang menyamakannya dengan ikhlas. Padahal, dalam khazanah filsafat Jawa, sumeleh memiliki makna yang lebih dalam daripada sekadar menerima nasib.
Sumeleh merupakan laku batin yang dilakukan setelah seseorang mengerahkan seluruh ikhtiar, kemudian melepaskan keterikatan terhadap hasil yang berada di luar kendalinya. Konsep ini telah hidup dalam masyarakat Jawa selama berabad-abad dan menjadi bagian dari tata nilai yang diwariskan lintas generasi.
Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi tekanan, kompetisi, serta kecenderungan ingin mengendalikan segala sesuatu, filosofi sumeleh kembali banyak dibicarakan karena dinilai relevan sebagai cara memandang kehidupan secara lebih seimbang.
Lantas, apa itu sumeleh, bagaimana perbedaannya dengan ikhlas, dan mengapa filosofi ini masih relevan hingga sekarang?
Apa Itu Sumeleh?
Secara bahasa, sumeleh berasal dari kata Jawa seleh, yang berarti meletakkan, menaruh, atau membaringkan. Dalam pengertian filosofis, kata tersebut berkembang menjadi makna “meletakkan beban pikiran” atau “menyerahkan kegelisahan” setelah seseorang melakukan usaha terbaiknya.
Guru Besar Universitas Malahayati, Prof. Sudjarwo, menjelaskan bahwa sumeleh merupakan bentuk kepasrahan total kepada kehendak Tuhan yang dilakukan tanpa meninggalkan ikhtiar. Menurutnya, seseorang yang sumeleh tetap bekerja, berusaha, dan bertanggung jawab, tetapi tidak lagi diperbudak oleh kecemasan terhadap hasil akhir.
Dengan kata lain, sumeleh bukan berarti berhenti berusaha, melainkan berhenti memaksakan sesuatu yang memang berada di luar kuasa manusia.
Konsep ini juga menunjukkan adanya kesadaran bahwa manusia memiliki keterbatasan. Setelah segala upaya dilakukan secara maksimal, hasil akhirnya bukan lagi sepenuhnya berada dalam kendali manusia.
Sumeleh Bukan Berarti Menyerah
Kesalahpahaman paling umum adalah menganggap sumeleh identik dengan menyerah atau fatalistis. Dalam pandangan hidup Jawa, justru berlaku prinsip sebaliknya. Seseorang tidak dapat disebut sumeleh apabila belum menjalankan tanggung jawab dan ikhtiarnya.
Urutan yang diajarkan dalam filosofi Jawa adalah berusaha semaksimal mungkin -> erdoa memohon pertolongan Tuhan -> sumeleh atau melepaskan keterikatan terhadap hasil.
Karena itu, sumeleh sering disebut sebagai kepasrahan aktif (active surrender). Kepasrahan ini lahir setelah seseorang menjalankan kewajibannya, bukan sebelum berusaha.
Dalam praktik kehidupan sehari-hari, sikap sumeleh tercermin ketika seseorang tetap bekerja keras mengejar cita-cita, tetapi tidak membiarkan kegagalan menghancurkan dirinya ataupun keberhasilan membuatnya terlena.
Perbedaan Sumeleh dan Ikhlas
Meski kerap dipadankan, sumeleh dan ikhlas berdiri di atas pijakan yang tak sepenuhnya sama. Batas keduanya adalah perkara waktu dan titik fokus batin manusia.
Dalam tradisi Islam, ikhlas adalah soal kemurnian niat di awal dan proses tindakan di mana seseorang berbuat sesuatu semata-mata demi Tuhan, steril dari pamrih atau hasrat dipuji.
Sedangkan sumeleh menuntut pelepasan keterikatan setelah ikhtiar purna dikerjakan. Titik tekannya bukan lagi pada motivasi berbuat, melainkan keberanian melapangkan dada menerima takdir demi meredam kecemasan.
Intinya seseorang bisa saja beramal dengan ikhlas, tetapi megap-megap dan gagal sumeleh saat hasilnya meleset dari ekspektasi. Ikhlas adalah modal bergerak, sedangkan sumeleh adalah seni berdamai dengan kenyataan.
Hubungan Sumeleh dengan Filosofi Jawa Lain
Dalam budaya Jawa, sumeleh tidak berdiri sendiri. Nilai ini saling berkaitan dengan sejumlah filosofi hidup lain yang telah lama dikenal masyarakat.
1. Nrimo Ing Pandum
Konsep nrimo ing pandum sering disalahartikan sebagai sikap pasrah tanpa usaha. Padahal, makna sebenarnya adalah menerima hasil yang telah menjadi bagian seseorang setelah menjalankan ikhtiar terbaik. Nrimo bukan berarti berhenti berjuang, melainkan menerima kenyataan dengan lapang dada.
2. Legawa
Legawa berarti memiliki kelapangan hati ketika menghadapi kenyataan yang tidak sesuai harapan. Sikap ini membantu seseorang menghindari rasa dendam, iri, atau penyesalan yang berkepanjangan.
3. Eling
Dalam budaya Jawa, eling berarti selalu ingat kepada Tuhan sekaligus menyadari keterbatasan diri sebagai manusia. Kesadaran tersebut menjadi fondasi munculnya sikap sumeleh.
4. Waspada
Selain eling, masyarakat Jawa juga mengenal prinsip eling lan waspada. Artinya, manusia harus tetap berhati-hati terhadap hawa nafsu, kesombongan, dan ambisi yang berlebihan.
Keempat nilai tersebut membentuk satu kesatuan filosofi hidup yang bertujuan menjaga keseimbangan antara usaha, kesadaran diri, dan penerimaan terhadap kehidupan.
Mengapa Sumeleh Relevan di Masa Kini
Di era digital, banyak orang mengalami tekanan akibat tuntutan produktivitas, persaingan karier, hingga budaya media sosial yang mendorong perbandingan tanpa henti.
Fenomena seperti overthinking, burnout, fear of missing out (FOMO), perfeksionisme, dan kecemasan menghadapi masa depan sering kali berakar pada keinginan manusia untuk mengendalikan segala sesuatu.
Sumeleh menawarkan perspektif yang berbeda. Seseorang tetap dituntut bekerja keras dan bertanggung jawab, tetapi tidak perlu menghabiskan energi untuk mengendalikan hal-hal yang memang berada di luar kemampuannya.
Dari sudut pandang psikologis, sikap seperti ini dapat membantu seseorang mengurangi kecemasan terhadap masa depan; lebih fokus pada proses daripada hasil; meningkatkan kemampuan menerima kegagalan; menjaga kesehatan mental; membangun ketahanan (resiliensi) dalam menghadapi perubahan.
Meski bukan konsep psikologi modern, nilai-nilai sumeleh memiliki irisan dengan pendekatan mindfulness dan acceptance yang kini banyak digunakan dalam praktik kesehatan mental.
Sumeleh mengajarkan bahwa manusia hanya memiliki kendali atas usaha, bukan atas seluruh hasil kehidupannya. Karena itu, filosofi ini bukanlah ajakan untuk menyerah atau berhenti berjuang. Sebaliknya, sumeleh menuntut seseorang bekerja secara maksimal, menjalankan tanggung jawab dengan sungguh-sungguh, lalu menerima apa pun hasilnya tanpa kehilangan ketenangan batin.
Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi tekanan dan ketidakpastian, nilai tersebut tetap relevan sebagai pengingat bahwa keseimbangan antara ikhtiar dan penerimaan merupakan salah satu fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental sekaligus kebijaksanaan hidup.***