
KabarJawa.com — Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat kembali menggelar Labuhan Hajat Dalem Tinggalan Jumenengan Dalem Nara Tahun Dal 1959 atau 2026 Masehi di Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Prosesi sakral ini menjadi ungkapan rasa syukur Sri Sultan Hamengku Buwono X atau Ngarsa Dalem atas limpahan kelancaran, keselamatan, dan hidayah bagi Daerah Istimewa Yogyakarta serta bangsa Indonesia.
Ritual adat yang sarat makna filosofis ini berlangsung khidmat pada Senin (19/1/2026) atau bertepatan dengan 30 Rejeb 1959 Tahun Dal, dan menyedot perhatian masyarakat sejak pagi hari.
Prosesi dimulai sekitar pukul 09.00 WIB dengan pelaksanaan Pasrah Tinampi Ubarampe Labuhan Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat di Pendopo Kantor Kapanewon Kretek, Bantul.
Pasrah Tinampi Menjadi Awal Labuhan Hajat Dalem
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat mengawali rangkaian Labuhan Hajat Dalem dengan menyerahkan ubarampe atau perlengkapan ritual kepada para abdi dalem juru kunci.
Prosesi pasrah tinampi ini menandai dimulainya rangkaian labuhan yang puncaknya berlangsung di Pantai Parangkusumo, kawasan yang dipercaya memiliki keterkaitan spiritual dengan Keraton Yogyakarta.
Wakil Pengirit Abdi Dalem Juru Kunci Pemancingan Parangkusumo, Masbeko Suratso Trireja, menyambut langsung penyerahan ubarampe dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat.
Ia menyatakan bahwa pihaknya menerima amanah tersebut untuk melanjutkan prosesi labuhan sesuai dengan tata cara adat yang berlaku.
“Kami menyambut dan menerima ubarampe dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat untuk selanjutnya kami labuhkan di Pantai Parangkusumo,” ujar Masbeko Suratso Trireja kepada awak media.
Masbeko menjelaskan bahwa pelaksanaan Labuhan Hajat Dalem tahun ini memiliki keistimewaan tersendiri.
Ia menegaskan bahwa Tahun Dal menjadikan ritual ini sebagai Labuhan Ageng, bukan labuhan alit seperti pada tahun-tahun sebelumnya.
“Momen tahun ini berbeda karena berlangsung pada Tahun Dal. Keraton menyelenggarakan Labuhan Ageng, sehingga terdapat beberapa sarana labuhan yang berbeda dibandingkan tahun sebelumnya,” jelasnya.
Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menyerahkan berbagai ubarampe.
- Nyamping cinde abit satu lembar
- Nyamping limar satu lembar
- Nyamping cangkring satu lembar
- Semekan sono satu lembar
- Semekan gadung epen satu lembar
- Berbagai perlengkapan ritual lain yang memiliki makna simbolis mendalam
Tirakatan dan Doa Menyertai Prosesi
Tidak hanya prosesi labuhan, rangkaian Hajat Dalem juga diawali dengan malam tirakatan atau magayubagya yang digelar sejak malam sebelumnya. Masbeko menyebutkan bahwa kegiatan tersebut melibatkan doa bersama serta pertunjukan kesenian tradisional.
“Kami sudah menyelenggarakan malam tirakatan dengan agenda doa bersama dan kegiatan kesenian sebagai bentuk dukungan terhadap Hajat Dalem Labuhan tahun ini,” ungkapnya.
Tradisi ini mempertegas posisi labuhan sebagai ikatan batin antara keraton, alam, dan masyarakat. Masbeko menegaskan bahwa Hajat Dalem Labuhan mengandung makna yang sangat mendalam.
Ia menyebut ritual ini sebagai wujud rasa syukur Ngarsa Dalem atas kelancaran pemerintahan, keselamatan rakyat, serta keharmonisan alam yang terus terjaga.
“Labuhan ini menjadi ungkapan syukur Ngarsa Dalem. Keraton memohon agar DIY dan Indonesia senantiasa mendapatkan keberkahan, keselamatan, serta keseimbangan antara manusia dan alam,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa labuhan juga berfungsi sebagai upaya memayu hayuning bawana, yakni menjaga harmoni dunia agar tetap selaras dan lestari.
Prosesi Berlanjut ke Cepuri Parangkusumo
Sementara itu, Panewu Kretek, Cahyo Widodo, mengungkapkan kebanggaannya karena Kapanewon Kretek kembali menjadi bagian dari prosesi sakral tersebut.
Ia menjelaskan bahwa setelah pasrah tinampi, rombongan melanjutkan prosesi menuju Cepuri Parangkusumo sebelum akhirnya melarung ubarampe ke laut selatan.
“Ini merupakan momen tahunan yang selalu kami nantikan. Tahun ini terasa istimewa karena bertepatan dengan Tahun Dal,” ujar Cahyo.
Ia juga menjelaskan bahwa pada Tahun Dal, Keraton melaksanakan labuhan tidak hanya di tiga lokasi, melainkan di empat tempat sakral, yakni Parangkusumo, Gunung Merapi, Gunung Lawu, dan wilayah Wonogiri.
“Kami tetap melaksanakan prosesi ini sesuai dengan pakem dan tradisi yang telah diwariskan,” tegasnya.
Dalam prosesi tersebut, Bupati Bantul, Abdul Halim Muslih, turut hadir dan menerima ubarampe dari Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebelum menyerahkannya kepada juru kunci Parangkusumo.
Kehadiran pemerintah daerah menegaskan dukungan penuh terhadap pelestarian tradisi adiluhung Keraton Yogyakarta.
Abdul Halim Muslih menegaskan bahwa Labuhan Hajat Dalem menjadi sarana doa dan rasa syukur untuk keselamatan bersama.
“Labuhan Dalem ini menjadi wujud syukur dan doa. Kami memohon agar senantiasa diberikan umur panjang, keberkahan, serta raharjaning kawula dalem,” ungkapnya.
Labuhan Hajat Dalem Tinggalan Jumenengan Dalem Nara Tahun Dal 1959 kembali membuktikan bahwa Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat juga merawat hubungan spiritual antara manusia, alam, dan Sang Pencipta. (ef linangkung)