
KabarJawa.com – Fenomena alam Gerhana Bulan Total maupun Blood Moon diperkirakan akan terjadi hari in Selasa, 3 Maret 2026.
Berdasarkan informasi resmi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), peristiwa Gerhana Bulan Total atau yang kerap disebut Blood Moon dapat disaksikan di berbagai wilayah Nusantara.
Fase awal gerhana total dijadwalkan berlangsung mulai pukul 18.03.56 WIB. Sementara itu, puncak gerhana diperkirakan terjadi pada pukul 18.33.39 WIB atau bertepatan dengan 19.33.39 WITA dan 20.33.39 WIT. Momen ini menjadi salah satu fenomena astronomi yang dinantikan masyarakat.
Di samping penjelasan ilmiah yang menyebut gerhana bulan sebagai peristiwa tertutupnya cahaya Bulan oleh bayangan Bumi, masyarakat Jawa memaknainya melalui perspektif tradisi.
Dalam khazanah Primbon Jawa, gerhana kerap dihubungkan dengan sejumlah pertanda dan pantangan, terutama bagi perempuan yang sedang hamil.
Secara medis, gerhana bulan tidak memiliki dampak langsung terhadap kondisi kehamilan. Namun, ajaran turun-temurun tetap disampaikan para orang tua sebagai bentuk peringatan agar ibu hamil lebih berhati-hati.
Untuk itu, berdasarkan informasi yang dihimpun KabarJawa.com, berikut sejumlah pantangan yang dipercaya dalam tradisi Jawa saat gerhana bulan berlangsung.
Tidak Boleh Menggunakan Benda Tajam
Salah satu larangan yang paling sering disebut adalah menghindari penggunaan benda tajam. Pisau, gunting, silet, hingga jarum dipercaya tidak boleh disentuh selama gerhana terjadi.
Dalam mitos yang berkembang, penggunaan benda tajam saat gerhana diyakini dapat berdampak pada kondisi fisik janin, seperti menyebabkan cacat bawaan misalnya bibir sumbing. Kepercayaan ini masih bertahan di sejumlah keluarga Jawa hingga kini.
Larangan Keluar Rumah
Pantangan berikutnya adalah tidak keluar rumah ketika gerhana sedang berlangsung. Ibu hamil disarankan untuk tetap berada di dalam ruangan hingga fase gerhana selesai.
Keyakinan lama menyebut cahaya kemerahan saat gerhana membawa energi negatif yang dalam kisah pewayangan dikaitkan dengan amarah Bhatara Kala. Paparan langsung ke perut ibu hamil dipercaya tidak baik bagi keselamatan janin.
Tidak Tidur Terlelap Saat Gerhana
Walau gerhana terjadi menjelang malam, ibu hamil dianjurkan untuk tidak tertidur pulas. Tradisi menyarankan agar tetap terjaga selama fase puncak berlangsung.
Biasanya, ibu hamil diminta duduk dengan tenang sambil memperbanyak doa atau dzikir. Tindakan tersebut dimaknai sebagai upaya memohon perlindungan bagi calon bayi sampai gerhana berakhir.
Tidak Menjahit atau Menenun
Kegiatan menjahit, menyulam, maupun menenun juga termasuk yang dipantang. Larangan ini masih berkaitan dengan penggunaan benda tajam seperti jarum.
Dalam kepercayaan lama, aktivitas menjahit ketika gerhana diyakini dapat menyebabkan janin terlilit tali pusar atau memunculkan tanda lahir tertentu pada kulit bayi. Meski tidak terbukti secara medis, nasihat ini tetap diwariskan sebagai bagian dari tradisi.
Tidak Menyakiti atau Membunuh Hewan
Pantangan ini tidak hanya ditujukan kepada ibu hamil, tetapi juga kepada suami. Selama gerhana, keduanya dilarang memukul, menyakiti, atau membunuh hewan, termasuk memancing ikan, menyembelih ayam, atau bahkan membunuh serangga.
Mitos yang beredar menyebut sifat atau kondisi hewan yang disakiti dapat berdampak pada bayi yang dikandung. Oleh sebab itu, keluarga dianjurkan menahan diri dari tindakan tersebut hingga gerhana selesai.
Menunda Mandi
Tradisi Jawa juga menyarankan ibu hamil untuk tidak mandi saat gerhana berlangsung. Air pada momen itu dipercaya menyerap hawa dingin dan energi kurang baik.
Akibatnya, ibu hamil dikhawatirkan mudah terserang penyakit seperti masuk angin atau kondisi tubuh yang menurun. Karena itu, aktivitas mandi biasanya ditunda sampai fase gerhana benar-benar berakhir.
Keramas
Selain mandi, aktivitas keramas juga termasuk dalam pantangan saat gerhana bulan berlangsung. Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, mencuci rambut ketika fase gerhana terjadi diyakini dapat membawa pengaruh kurang baik bagi ibu hamil.
Karena itu, sebagian orang tua dahulu menyarankan agar keramas ditunda hingga gerhana benar-benar usai
Ragam pantangan di atas merupakan bagian dari warisan budaya Jawa yang hidup dalam masyarakat. Meski tidak memiliki dasar ilmiah, nilai kehati-hatian yang terkandung di dalamnya masih dihormati sebagai tradisi turun-temurun.***