
KabarJawa.com – Indonesia dikenal sebagai negara dengan kekayaan kuliner yang sangat beragam. Di Pulau Jawa saja terdapat ratusan makanan tradisional yang lahir dari kearifan lokal, memanfaatkan bahan pangan sekitar, sekaligus mencerminkan sejarah masyarakat setempat.
Sayangnya, tidak semua kuliner tersebut mampu bertahan mengikuti perubahan zaman. Sejumlah makanan tradisional kini mulai sulit ditemukan, bahkan di daerah asalnya. Menurut berbagai kajian mengenai warisan budaya pangan, kuliner tradisional bukan sekadar makanan, melainkan bagian dari identitas budaya yang menyimpan pengetahuan lokal mengenai pengolahan bahan pangan, tradisi bertani, hingga nilai-nilai sosial masyarakat.
Makanan tradisional yang semakin jarang dijumpai bisa dipicu berbagai faktor, mulai dari perubahan selera masyarakat yang cenderung memilih makanan modern, minimnya regenerasi pembuat, hingga semakin sulitnya memperoleh bahan baku tertentu. Selain itu, proses pembuatannya yang relatif lama membuat makanan tradisional kalah praktis dibandingkan makanan instan.
Tak sedikit pula yang kini hanya disajikan pada acara adat atau perayaan tertentu sehingga perlahan menghilang dari konsumsi sehari-hari. Padahal, banyak makanan tradisional merupakan hasil adaptasi masyarakat Jawa terhadap kondisi alam, musim panen, dan keterbatasan pangan pada masa lalu.
10 Kuliner Jawa yang Hampir Punah
1. Lepet Jagung
Lepet jagung merupakan variasi lepet yang menggunakan jagung muda sebagai bahan utama. Jagung diparut lalu dicampur kelapa parut dan sedikit tepung sebelum dibungkus menggunakan kelobot jagung dan dikukus.
Dahulu, makanan ini lazim dibuat saat musim panen jagung sebagai camilan keluarga di pedesaan. Kini, lepet jagung semakin sulit ditemukan karena masyarakat lebih memilih jajanan modern, sementara tradisi mengolah jagung secara tradisional juga mulai berkurang.
2. Getuk Lindri
Getuk lindri merupakan olahan singkong kukus yang dihaluskan, diberi gula, kemudian dicetak menggunakan alat khusus hingga berbentuk memanjang bergelombang.
Jajanan yang biasanya disajikan bersama kelapa parut ini dulu mudah dijumpai dijual berkeliling setiap pagi. Namun kini jumlah pedagang getuk lindri terus menyusut akibat minimnya regenerasi dan menurunnya minat masyarakat terhadap jajanan tradisional.
3. Grontol
Grontol dibuat dari jagung pipilan tua yang direbus hingga merekah, kemudian disajikan bersama kelapa parut.
Sebelum nasi menjadi makanan pokok utama di banyak daerah, grontol menjadi salah satu sumber karbohidrat alternatif masyarakat Jawa. Saat ini makanan tersebut umumnya hanya dijumpai di pasar tradisional tertentu atau festival kuliner.
4. Bongko Mentho
Berasal dari Jepara, bongko mentho merupakan makanan berbahan adonan tepung dengan isian ayam suwir berbumbu, santan, dan kelapa parut yang dibungkus daun pisang kemudian dikukus.
Teksturnya lembut dengan rasa gurih khas santan. Dahulu bongko mentho sering menjadi sajian keluarga maupun hidangan dalam acara adat. Kini, makanan ini semakin langka karena hanya diproduksi oleh sedikit pembuat tradisional.
5. Kethak Blondo
Kethak blondo berasal dari endapan santan setelah proses pembuatan minyak kelapa tradisional. Endapan tersebut masih mengandung protein dan lemak sehingga dapat diolah menjadi lauk maupun camilan.
Makanan ini kini mulai menghilang seiring menurunnya produksi minyak kelapa tradisional yang banyak digantikan minyak goreng hasil industri.
6. Sayur Lodeh Kembang Turi
Sayur ini memanfaatkan bunga turi sebagai bahan utama yang dimasak menggunakan kuah santan bersama berbagai bumbu lodeh.
Rasa sedikit pahit dari bunga turi justru menjadi ciri khas hidangan ini. Dahulu pohon turi mudah ditemukan di pekarangan rumah masyarakat Jawa, namun kini jumlahnya semakin sedikit sehingga sayur lodeh kembang turi ikut jarang disajikan.
7. Botok Tawon
Botok tawon termasuk salah satu kuliner paling unik di Jawa. Hidangan ini dibuat menggunakan sarang tawon muda beserta larvanya yang dicampur kelapa parut berbumbu, lalu dibungkus daun pisang dan dikukus.
Botok tawon masih dapat ditemukan di beberapa wilayah Jawa Tengah dan DIY, tetapi jumlah penjualnya semakin sedikit karena bahan bakunya bergantung pada sarang tawon liar dan proses pengolahannya membutuhkan keahlian khusus.
8. Growol
Growol merupakan makanan khas Kulon Progo yang dibuat dari singkong fermentasi. Setelah direndam selama beberapa hari, singkong dikukus hingga menghasilkan tekstur padat dengan cita rasa sedikit asam.
Growol bahkan telah disebut dalam Serat Centhini, salah satu karya sastra Jawa klasik. Meski masih dilestarikan oleh sebagian masyarakat Kulon Progo, konsumsi growol terus menurun karena masyarakat lebih memilih nasi sebagai makanan pokok.
9. Pecel Semanggi
Pecel semanggi adalah kuliner khas Surabaya yang menggunakan daun semanggi rebus sebagai bahan utama. Sayuran tersebut disiram bumbu berbahan ubi jalar, cabai, kacang, dan petis, lalu disajikan bersama kerupuk puli.
Keberadaan pecel semanggi kini semakin langka karena tanaman semanggi semakin sulit diperoleh, sementara jumlah penjual tradisional juga terus berkurang.
10. Nasi Tiwul
Tiwul dibuat dari gaplek atau singkong yang dikeringkan, kemudian diolah menjadi butiran menyerupai nasi sebelum dikukus.
Pada masa lalu, tiwul menjadi makanan pokok masyarakat di wilayah kering seperti Gunungkidul dan sebagian Jawa Timur ketika beras sulit diperoleh. Kini, tiwul lebih banyak hadir sebagai kuliner nostalgia dan oleh-oleh khas daerah.
Sebagai upaya mencegah punahnya kuliner tradisional, berbagai lembaga termasuk Kementerian Kebudayaan, terus mendorong pelestarian kuliner tradisional sebagai bagian dari warisan budaya takbenda.
Dimasukkannya kulier sebagai warisan budaya takbenda dinilai penting sebab selain memiliki nilai historis, makanan tradisional juga menyimpan pengetahuan mengenai pemanfaatan bahan pangan lokal, teknik memasak turun-temurun, hingga filosofi hidup masyarakat.
Maka itu pelestarian kuliner tradisional tidak hanya dilakukan melalui dokumentasi, tetapi juga dengan mendorong regenerasi pelaku usaha kuliner tradisional, promosi wisata gastronomi, serta pengenalan makanan lokal kepada generasi muda.***