Ibu Ruswo: Pejuang Perempuan Yogyakarta Pengatur Suplai Makanan Saat Perang Gerilya

Bagikan :
Ilustrasi Ibu Ruswo: Pejuang Perempuan Yogyakarta Pengatur Suplai Makanan Saat Perang Gerilya/

KABAR JAWA – Ibu Ruswo adalah tokoh perempuan asal Yogyakarta yang berperan penting dalam perjuangan kemerdekaan, terutama di sektor logistik saat perang gerilya.

 

Namanya kini diabadikan menjadi salah satu jalan utama di Kota Yogyakarta sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya.

Dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia, banyak tokoh laki-laki yang namanya dikenal luas. Namun, tidak sedikit pula perempuan yang memiliki peran krusial di garis belakang perjuangan.

Salah satu di antaranya adalah Ibu Ruswo, seorang perempuan asal Yogyakarta yang keberanian dan pengorbanannya patut dikenang lintas generasi.

Ibu Ruswo lahir di Yogyakarta pada tahun 1905 dengan nama Kusnah. Setelah menikah dengan Ruswo Prawiroseno, ia kemudian lebih dikenal dengan nama Nyi Kusnah Ruswo Prawiroseno, atau yang kemudian populer sebagai Ibu Ruswo.

Meski tidak mengangkat senjata di medan perang, peran beliau di sektor logistik menjadi kunci penting dalam mendukung para pejuang di masa revolusi.

Peran Sentral di Masa Perang Gerilya

Kontribusi Ibu Ruswo di bidang logistik tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada masa perang gerilya sekitar tahun 1940-an, ia menjadi sosok yang mengatur suplai makanan dan kebutuhan penting bagi para pejuang.

Baca juga  Sabtu Legi Neptu Berapa dan Tibo Apa Menurut Primbon Jawa? Cek Sifat Laki-Laki dan Wanita Sabtu Legi serta Apakah Termasuk Tulang Wangi

Mengelola logistik pada masa itu bukanlah pekerjaan sederhana. Dibutuhkan keberanian, keahlian, dan kecerdikan untuk memastikan kebutuhan pejuang tetap terpenuhi di tengah ancaman musuh.

Dapur Perjuangan yang Selalu Mengepul

Pada masa revolusi, Ibu Ruswo dikenal sebagai pelopor yang menggerakkan kaum perempuan di lingkungannya.

Ia mengorganisir ibu-ibu untuk memasak dan menyediakan makanan bagi para pejuang setiap hari. Dapur rumahnya selalu mengepul, menjadi sumber energi bagi para pejuang yang berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Kontribusinya paling terasa pada peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949, sebuah momentum besar dalam sejarah perjuangan bangsa.

Tanpa pasokan makanan dan logistik yang stabil, sulit membayangkan para pejuang mampu bertahan dengan kekuatan penuh dalam peristiwa tersebut.

Minim Publikasi, Namun Layak Diangkat

Meskipun kontribusinya besar, nama Ibu Ruswo tidak sepopuler pahlawan perempuan lain. Hal ini diakui oleh Rhoma Dwi Aria Yuliantri.

Menurutnya, salah satu penyebabnya adalah karena Ibu Ruswo tidak banyak meninggalkan tulisan atau catatan pribadi. Berbeda dengan tokoh-tokoh lain yang dikenal karena warisan pemikiran dalam bentuk tulisan, kisah perjuangan Ibu Ruswo lebih banyak hidup melalui cerita lisan dan catatan sejarah terbatas.

Baca juga  Perubahan Upacara Adat di Jawa dari Masa Kerajaan sampai Era Digital

Rhoma menilai, sudah saatnya generasi muda mengenal lebih dekat sosok seperti Ibu Ruswo. Narasi tentang perjuangannya bisa disajikan dalam bentuk karya seni, film, buku populer, atau bahkan konten digital agar lebih mudah diterima oleh anak-anak muda masa kini.

Nama Jalan Ibu Ruswo di Yogyakarta

Sebagai bentuk penghormatan, nama Ibu Ruswo diabadikan sebagai salah satu nama jalan di Kota Yogyakarta. Jalan ini menghubungkan Alun-alun Utara Kraton Yogyakarta dengan Jalan Brigjen Katamso, wilayah yang dikenal sebagai pusat pergerakan dan sejarah kota.

Awalnya, jalan tersebut bernama Jalan Dwikora. Namun, berdasarkan usulan Keluarga Eks Resimen 22 WK III, nama jalan diganti menjadi Jalan Ibu Ruswo melalui Surat Penetapan Walikotamadya Daerah Tingkat II Yogyakarta Nomor 001/Tahun 1981.

Penetapan ini berlaku resmi pada 21 April 1981, bertepatan dengan Hari Kartini—hari yang juga melambangkan perjuangan perempuan Indonesia.

Antara Nama Asli dan Nama Suami

Mengenai nama, sejatinya Ruswo adalah nama sang suami. Nama asli pejuang ini adalah Kusnah, meski masyarakat lebih mengenalnya dengan nama Ibu Ruswo.

Dalam budaya Jawa, penggunaan nama suami oleh istri merupakan hal yang lazim. Namun, dari perspektif gender, ada baiknya identitas aslinya sebagai Kusnah juga tetap digaungkan.

Baca juga  Mengungkap Sejarah Perjanjian Giyanti: Latar Belakang hingga Maknanya

Pandangan ini menjadi refleksi bahwa penghargaan pada pejuang perempuan sebaiknya juga menekankan identitas personal mereka.

Warisan Perjuangan untuk Generasi Kini

Perjuangan Ibu Ruswo tidak hanya tercatat dalam sejarah, tetapi juga memberi inspirasi bagi generasi sekarang.

Ia membuktikan bahwa perjuangan tidak selalu harus berada di garis depan peperangan. Peran mendukung, seperti memastikan logistik, sama pentingnya untuk menjaga keberlangsungan sebuah perjuangan.

Kini, ketika melewati Jalan Ibu Ruswo di pusat Kota Yogyakarta, masyarakat tidak hanya melintas di atas aspal yang menghubungkan dua titik penting kota.

Lebih dari itu, jalan tersebut menjadi pengingat akan perjuangan seorang perempuan tangguh yang dengan caranya sendiri ikut menjaga nyala api kemerdekaan.

Nama Ibu Ruswo memang belum setenar pahlawan perempuan lain, namun jasanya tidak bisa dipandang remeh.

Ia adalah bukti nyata bahwa kontribusi perempuan dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia sangatlah signifikan.

Dengan diabadikannya namanya sebagai salah satu jalan utama di Yogyakarta, diharapkan generasi muda dapat terus mengenang sekaligus meneladani keberanian dan pengorbanan beliau.

***

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Jadwal Ganjil Genap Puncak 26 April 2026
Jadwal Buka Tutup Puncak 26 April 2026, Berlaku One Way atau Ganjil Genap? Cek Estimasinya
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?