
KabarJawa.com – Menang tanpa ngasorake merupakan salah satu filosofi Jawa yang mengajarkan bahwa keberhasilan tidak harus dicapai dengan merendahkan orang lain.
Prinsip ini juga relevan untuk belajar mengendalikan emosi, terutama ketika seseorang berada dalam persaingan, perdebatan, atau konflik.
Secara sederhana, menang berarti memperoleh keberhasilan, sedangkan ngasorake berarti merendahkan atau membuat orang lain berada dalam posisi yang lebih rendah.
Dengan demikian, menang tanpa ngasorake berarti mencapai tujuan tanpa mempermalukan, menghina, atau menjatuhkan martabat pihak lain.
Ungkapan ini berkaitan dengan rangkaian “nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake”. Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta menjelaskan ungkapan tersebut sebagai bagian dari ajaran budi pekerti dalam bahasa dan sastra Jawa.
Salah satu pesan yang terkandung di dalamnya adalah bahwa keberhasilan tidak harus dicapai dengan banyak mengorbankan pihak lain.
Makna tersebut penting ketika seseorang berhadapan dengan situasi yang memancing emosi. Sebab, seseorang yang mampu mencapai tujuan tanpa terbawa amarah tidak hanya menyelesaikan persoalan, tetapi juga mampu menjaga hubungan dengan orang lain.
Apa Arti Menang Tanpa Ngasorake?
Dalam Jurnal Widyaparwa, ungkapan menang tanpa ngasorake dijelaskan dengan pengertian “menang tanpa merendahkan.” Penjelasan tersebut menekankan bahwa orang yang memperoleh kemenangan tidak seharusnya menghina pihak yang kalah.
Sebaliknya, pihak yang kalah tetap perlu dihargai dan dirangkul. Artinya, kemenangan tidak menjadi alasan untuk menempatkan orang lain sebagai pihak yang lebih rendah.
Makna ini juga ditemukan dalam buku Peribahasa dalam Bahasa Jawa yang tersedia di repositori resmi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah. Buku tersebut mencatat rangkaian: “Digdaya tanpa aji, sugih tanpa bandha, menang tanpa ngasorake.”
Ungkapan itu diterjemahkan sebagai “sakti tanpa ilmu kesaktian, kaya tanpa harta, menang tanpa mengalahkan.”
Dari sini terlihat bahwa ukuran keberhasilan dalam pandangan tersebut bukan semata-mata hasil akhir. Cara seseorang memperoleh keberhasilan juga menjadi bagian penting dari nilai kemenangan itu sendiri.
Hubungan Menang Tanpa Ngasorake dengan Pengendalian Emosi
Filosofi Jawa ini menarik jika dikaitkan dengan kemampuan mengendalikan emosi. Dalam kehidupan sehari-hari, konflik sering kali tidak menjadi besar karena persoalan awalnya, tetapi karena respons emosional dari orang-orang yang terlibat.
Ketika merasa disalahkan, kalah, tersinggung, atau diperlakukan tidak adil, seseorang bisa terdorong untuk membalas. Pada titik tersebut, prinsip menang tanpa ngasorake mengajarkan agar seseorang tidak menjadikan kemenangan sebagai pembenaran untuk melampiaskan emosi.
Misalnya, seseorang berhasil memenangkan sebuah perdebatan. Ia sebenarnya bisa saja menggunakan kemenangan tersebut untuk mengatakan bahwa lawannya bodoh atau tidak memahami persoalan. Namun, menerapkan filosofi ini berarti cukup menunjukkan argumen yang kuat tanpa perlu mempermalukan orang lain.
Dengan kata lain, mengendalikan emosi bukan berarti tidak boleh marah atau tidak boleh tegas. Yang lebih penting adalah mampu mengatur bagaimana emosi tersebut diekspresikan agar tidak berubah menjadi penghinaan atau tindakan yang merugikan orang lain.
Kajian dalam Buletin Psikologi UGM juga menempatkan menang tanpa ngasorake sebagai salah satu ungkapan budaya Jawa yang berkaitan dengan konsep diri dan kearifan lokal.
Cara Menerapkan Filosofi Menang Tanpa Ngasorake dalam Kehidupan Sehari-hari
Penerapan filosofi ini sebenarnya bisa dimulai dari situasi sederhana, berikut beberapa contohnya:
1. Tidak menyombongkan kemenangan atau pencapaian diri
Ketika berhasil mencapai sesuatu, tidak perlu menjadikan keberhasilan tersebut sebagai alasan untuk mengejek orang lain.
Contohnya dalam kompetisi kerja. Ketika seseorang terpilih menjadi pegawai terbaik, ia bisa menerima penghargaan dengan rendah hati dan tetap menghargai rekan-rekannya.
Kemenangan tidak perlu dibuktikan dengan kalimat yang membuat orang lain merasa tidak mampu.
2. Memisahkan kritik dan penghinaan
Perbedaan pendapat merupakan hal yang wajar. Begitu pula memberikan kritik terhadap pekerjaan atau tindakan seseorang.
Namun, kritik terhadap sebuah tindakan berbeda dengan menyerang pribadi orang tersebut.
Prinsip menang tanpa ngasorake bisa diterapkan dengan menyampaikan apa yang salah tanpa menggunakan kata-kata yang mempermalukan. Dengan begitu, persoalan tetap bisa dibahas tanpa memperbesar konflik.
3. Tidak membalas ketika sedang tersulut emosi
Ini mungkin menjadi penerapan yang paling sulit. Ketika mendapatkan komentar yang menyakitkan, seseorang sering kali ingin memberikan balasan yang lebih keras.
Filosofi menang tanpa ngasorake mengajak seseorang berhenti sejenak dan mempertimbangkan apakah balasan tersebut benar-benar menyelesaikan masalah.
Tidak langsung membalas bukan berarti kalah. Justru, kemampuan menahan diri dapat menjadi bentuk pengendalian diri.
4. Merangkul pihak yang berbeda
Dalam organisasi atau kelompok, kemenangan sering kali menghasilkan dua kubu. Misalnya setelah pemilihan ketua organisasi, ada pihak yang menang dan ada yang kalah.
Pihak yang terpilih dapat menerapkan menang tanpa ngasorake dengan tetap mengajak pihak yang berbeda pandangan untuk bekerja sama.
Dengan begitu, kompetisi berhenti setelah keputusan dibuat. Hubungan antarmanusia tidak perlu ikut terputus.
5. Menjaga hubungan setelah konflik selesai
Sebuah perselisihan tidak selalu harus berakhir dengan satu pihak merasa benar-benar kalah.
Tujuan penyelesaian konflik adalah menemukan jalan keluar. Jika masalah sudah selesai, tidak ada manfaatnya terus mengungkit kesalahan masa lalu untuk membuat pihak lain merasa bersalah.
Sikap seperti ini sejalan dengan semangat menang tanpa ngasorake: persoalan boleh selesai, tetapi martabat orang lain tetap dijaga.
Pada akhirnya, menang tanpa ngasorake bukan ajaran untuk selalu mengalah. Filosofi ini justru mengajarkan seseorang agar tetap memiliki tujuan, berani bersaing, dan mampu mempertahankan pendirian, tetapi tidak kehilangan kendali atas diri sendiri.
Kemenangan yang baik bukan hanya tentang siapa yang berada di posisi teratas. Ada pula pertanyaan tentang bagaimana kemenangan itu diperoleh dan apa yang terjadi terhadap hubungan dengan orang lain setelahnya.***