
KabarJawa.com – Arti nggih dalam bahasa Jawa secara sederhana dapat diterjemahkan sebagai “iya” atau “ya”. Namun, dalam percakapan sehari-hari, kata ini tidak selalu sesederhana itu.
Ada kalanya seseorang mengatakan nggih untuk menunjukkan persetujuan, tetapi pada situasi lain kata yang sama lebih berfungsi sebagai respons sopan kepada lawan bicara.
Di sinilah menariknya bahasa Jawa. Sebuah kata bisa membawa makna sosial selain arti harfiahnya.
Dalam konteks nggih, hubungan antara penutur dan lawan bicara, usia, kedudukan, tingkat keakraban, serta situasi percakapan dapat ikut menentukan bagaimana kata tersebut dipahami.
Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa melalui salah satu kajiannya menyebut nggih sebagai penanda kesantunan berbahasa Jawa.
Dalam contoh yang dianalisis, penambahan nggih dalam percakapan disebut dominan ditemukan sebagai bagian dari kesantunan berbahasa.
Nggih Artinya Apa dalam Bahasa Jawa?
Dalam pemakaian sehari-hari, nggih berarti “iya” atau “ya”.
Kata ini lazim digunakan dalam situasi yang menuntut bentuk bahasa lebih halus atau sopan.
Karena itu, nggih sering terdengar ketika seseorang berbicara dengan orang yang lebih tua, orang yang dihormati, guru, atasan, atau orang yang belum terlalu akrab.
Dalam bahasa Jawa, pemilihan kata memang tidak hanya berkaitan dengan pesan yang hendak disampaikan.
Penutur juga mempertimbangkan unggah-ungguh, yakni tata cara berkomunikasi dan bertingkah laku dengan memperhatikan lawan bicara.
Naskah Akademik Pemda DIY menjelaskan bahwa unggah-ungguh berarti tata sopan santun, termasuk aturan berbicara dan bertingkah laku untuk menghargai serta menghormati orang lain dengan mempertimbangkan usia atau kedudukan.
Karena itu, nggih bisa dipahami sebagai salah satu pilihan kata yang membawa nuansa penghormatan.
Kenapa Orang Jawa Sering Mengatakan Nggih?
Orang Jawa mengenal tingkatan bahasa, salah satunya bahasa ngoko dan krama.
Pemilihannya tidak selalu bebas, tetapi dipengaruhi oleh siapa yang diajak bicara dan situasinya.
Dalam dokumen Pemda DIY disebutkan bahwa unggah-ungguh merupakan tata sopan santun yang mengatur bagaimana seseorang bertindak dan berbicara dengan memperhatikan derajat atau usia lawan bicara. Nilai tersebut juga berkaitan dengan sikap hormat.
Karena itu, ketika seorang anak menjawab orang tua dengan iya, konteksnya bisa berbeda dengan ketika ia mengatakan nggih.
Namun, pilihan nggih dan sampun sekaligus menunjukkan bahwa penutur sedang menggunakan bentuk bahasa yang lebih sopan.
Dinas Kebudayaan DIY juga menjelaskan bahwa pembelajaran bahasa Jawa perlu memperhatikan unggah-ungguh, termasuk praktik penggunaan bahasa Jawa ngoko dan krama secara tepat. Tujuannya antara lain menanamkan kesantunan dan budi pekerti.
Nggih Tidak Selalu Berarti Setuju atau Sepakat
Ketika seseorang menjawab nggih setelah mendapat ajakan, kata tersebut memang secara harfiah berarti iya, tetapi belum tentu menunjukkan kepastian untuk menyetujui atau memenuhi ajakan itu.
Misalnya, “nggih, tak coba atur waktunya” tentu memiliki tingkat kepastian berbeda dengan “nggih, saya pasti datang”.
Keduanya sama-sama menggunakan kata nggih, tetapi maknanya sangat bergantung pada konteks dan kalimat yang menyertainya.
Karena itu, nggih tidak selalu tepat dimaknai sebagai persetujuan mutlak, melainkan bisa pula menjadi respons sopan yang menunjukkan bahwa seseorang mendengar dan menghargai lawan bicaranya.
Nggih Juga Bisa Menjadi Tanda Menghormati
Penelitian yang diterbitkan Badan Bahasa memberikan contoh menarik mengenai fungsi nggih.
Dalam salah satu contoh percakapan, seseorang mengatakan: “Nyuwun pangapunten, nggih.”
Penelitian tersebut menjelaskan bahwa nggih dalam kalimat itu berfungsi sebagai penanda kesantunan bahasa Jawa.
Penggunaan kata tersebut bukan semata-mata untuk menyatakan persetujuan, melainkan memperhalus tuturan kepada lawan bicara.
Artinya, kita bisa menemukan nggih bahkan dalam kalimat yang sebenarnya tidak sedang meminta persetujuan.
Dalam kalimat tersebut, nggih tidak bermakna saya setuju. Ia menjadi bagian dari cara penutur membuat ucapannya terdengar lebih halus.
Perbedaan antara Nggih sebagai Jawaban dan Nggih sebagai Kesantunan
Ketika seseorang bertanya “Wis rampung?” lalu dijawab “Nggih.” Kata nggih di sini berfungsi sebagai jawaban “iya”.
Namun ketika seseorang berkata “Nyuwun sewu, nggih.” Kata tersebut tidak sedang menjawab pertanyaan. Ia menjadi bagian dari ungkapan kesantunan.
Badan Bahasa sendiri menggunakan istilah penanda kesantunan kebahasaan untuk menjelaskan fenomena seperti ini.
Jadi, makna sebuah kata tidak selalu bisa dipisahkan dari kalimat dan situasi ketika kata itu digunakan.
Hubungan dengan Unggah-Ungguh dalam Budaya Jawa
Dalam budaya Jawa, cara berbicara merupakan bagian dari cara seseorang membawa diri.
Naskah Akademik Pemda DIY menjelaskan bahwa unggah-ungguh bukan hanya persoalan tingkatan bahasa, tetapi lebih luas berupa tata sopan santun dalam berbicara dan bertingkah laku.
Penggunaannya berkaitan dengan penghormatan kepada orang lain sesuai usia, kedudukan, dan hubungan sosial.
Karena itulah bahasa Jawa memiliki banyak pilihan kata yang tidak hanya menyampaikan informasi, tetapi sekaligus memberi tanda tentang hubungan sosial.
Dinas Kebudayaan DIY juga menyebut unggah-ungguh sebagai bagian penting dalam pembelajaran bahasa Jawa untuk menanamkan kesantunan dan budi pekerti.***