Apa Itu Midodareni Bekakak? Prosesi Sakral Sebelum Kirab Saparan

Bagikan :
Ilustrasi malam midodareni bekakak, ritual sebelum kirab saparan di Ambarketawag, Gampung, Sleman. (AI/KabarJawa)
Ilustrasi malam midodareni bekakak, ritual sebelum kirab saparan di Ambarketawag, Gampung, Sleman. (AI/KabarJawa)

KabarJawa.com – Midodareni Bekakak menjadi pembuka dalam rangkaian Upacara Adat Saparan Bekakak yang setiap tahun digelar masyarakat Ambarketawang, Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Prosesi yang berlangsung pada Kamis malam menjelang Jumat Kliwon di bulan Sapar ini bukan sekadar seremoni adat, melainkan bagian penting yang sarat nilai spiritual, penghormatan kepada leluhur, sekaligus pelestarian budaya Jawa.

Dalam kepercayaan masyarakat Jawa, malam midodareni diyakini sebagai waktu ketika para bidadari turun dari kahyangan untuk memberikan restu kepada calon pengantin. Kepercayaan inilah yang kemudian dihadirkan dalam ritual Midodareni Bekakak.

Meski yang diperlakukan sebagai pengantin hanyalah sepasang boneka berbentuk laki-laki dan perempuan yang dibuat dari tepung ketan, seluruh prosesi tetap dilaksanakan sebagaimana pernikahan adat Jawa pada umumnya.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pun telah menetapkan tradisi ini sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia Nomor 60 Tahun 2015. Karenanya sampai saat ini, ritual ini masih terus dilestarikan oleh masyarakat Gamping sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah serta warisan budaya leluhur dan tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang Upacara Saparan Bekakak.

Sejarah dari tradisi ini bermula pada masa Pangeran Mangkubumi yang kemudian menjadi Sri Sultan Hamengku Buwana I. Saparan Bekakak digelar sebagai bentuk penghormatan kepada Kyai Wirosuto dan Nyai Wirosuto, pasangan abdi dalem penongsong Sri Sultan Hamengku Buwana I yang bertugas membawa payung kebesaran kerajaan ketika sang sultan melakukan perjalanan.

Ketika pusat pemerintahan Keraton dipindahkan dari Ambarketawang menuju Keraton Yogyakarta, Kyai dan Nyai Wirosuto tidak ikut berpindah. Mereka memilih tetap tinggal di wilayah Gamping bersama keluarganya sehingga kemudian dikenal sebagai cikal bakal masyarakat Ambarketawang.

Sebagai bentuk penghormatan kepada jasa keduanya, masyarakat menyelenggarakan Upacara Saparan setiap bulan Sapar. Pelaksanaannya selalu jatuh pada malam Jumat Kliwon sesuai penanggalan Jawa.

Baca juga  Kirab Saparan Bekakak, Tradisi Bulan Sapar Warga Ambarketawang Sleman

Apa Itu Midodareni Bekakak, Prosesi & Makna Filosofisnya

Istilah midodareni berasal dari bahasa Jawa, yaitu dari kata widodari yang berarti bidadari. Dalam tradisi pernikahan Jawa, malam midodareni dipercaya sebagai malam ketika para bidadari turun dari surga untuk mendoakan sekaligus memberikan keberkahan kepada calon pengantin sebelum memasuki hari pernikahan.

Menurut penjelasan resmi Dinas Kebudayaan (Kundha Kabudayan) DIY, prosesi ini mengandung keyakinan bahwa para widodari akan turun pada malam midodareni untuk memberikan restu kepada pasangan pengantin bekakak.

Walaupun pengantin yang dimaksud hanyalah simbol berupa boneka dari adonan tepung ketan, masyarakat tetap memperlakukannya layaknya pengantin sungguhan. Seluruh tata cara adat dijalankan dengan penuh penghormatan sebagai bentuk menjaga nilai-nilai tradisi yang diwariskan secara turun-temurun.

Pada malam Midodareni, pasangan pengantin bekakak diarak bersama berbagai sesaji menuju Balai Desa Ambarketawang. Arak-arakan tersebut diiringi pembawa umbul-umbul, Bregada Songsong Wirosuto, kelompok reyog, hingga berbagai perlengkapan adat yang menambah semarak suasana.

Selain membawa pengantin bekakak, rombongan juga mengarak Jali, Jodhang, Tirto Dono Jati, serta ogoh-ogoh sebagai bagian dari kelengkapan upacara.

Sesampainya di balai desa, masyarakat mengikuti rangkaian Kenduri Wilujengan sebagai bentuk doa bersama. Setelah itu dilanjutkan malam tirakatan yang berlangsung hingga larut malam.

Suasana Midodareni biasanya diikuti dengan berbagai pertunjukan budaya seperti pembacaan macapat di pendapa, uyon-uyon gamelan, reyog, hingga pagelaran wayang kulit semalam suntuk yang digelar di Lapangan Ambarketawang. Seluruh rangkaian ini sangat menggambarkan suasana malam menjelang pernikahan dalam adat Jawa.

Di balik kemeriahan prosesi, Midodareni Bekakak menyimpan berbagai nilai kehidupan yang masih dijaga masyarakat hingga sekarang. Makna paling utama dari Midodareni adalah keyakinan mengenai turunnya para widodari dari kahyangan untuk memberikan doa restu kepada pengantin bekakak.

Restu ini melambangkan harapan agar seluruh pelaksanaan Saparan berjalan lancar, masyarakat memperoleh keselamatan, dijauhkan dari marabahaya, serta diberi keberkahan dalam kehidupan.

Prosesi ini juga menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa menghargai adat yang diwariskan pendahulunya. Walaupun hanya menggunakan boneka ketan seluruh tata cara pernikahan tetap dijalankan secara lengkap. Hal ini menjadi simbol bahwa nilai budaya lebih penting daripada sekadar bentuk fisik sebuah ritual.

Dalam budaya Jawa, malam midodareni selalu dipahami sebagai waktu untuk membersihkan hati sebelum memasuki peristiwa penting.

Baca juga  Tradisi Wiwitan di Tanah Jawa, Ritual Syukur Panen yang Sarat Makna

Nilai ini tercermin dalam Saparan Bekakak di mana masyarakat mempersiapkan diri melalui doa bersama, tirakatan, serta berbagai kegiatan spiritual agar pelaksanaan kirab keesokan harinya berlangsung dengan penuh berkah.

Midodareni juga menjadi ruang berkumpul seluruh masyarakat Ambarketawang. Mulai dari persiapan kirab, gotong royong membuat perlengkapan upacara, hingga pelaksanaan kenduri dilakukan secara bersama-sama.

Kebersamaan ini menjadi salah satu alasan tradisi ini tetap lestari meski telah berlangsung selama ratusan tahun. Melalui keterlibatan masyarakat dalam setiap prosesi, nilai gotong royong, penghormatan kepada leluhur, kesopanan, dan rasa syukur terus diwariskan agar tidak hilang ditelan modernisasi.

Rangkaian Upacara Saparan Bekakak

Midodareni hanyalah salah satu bagian dari keseluruhan rangkaian upacara adat. Secara umum, prosesi Saparan Bekakak terdiri atas beberapa tahapan penting.

1. Midodareni Bekakak

Prosesi diawali pada Kamis malam sebelum pelaksanaan kirab utama. Inilah tahap persiapan spiritual yang menjadi simbol penyucian sekaligus permohonan restu sebelum upacara mencapai puncaknya.

2. Kirab Pengantin Bekakak

Keesokan harinya, pasangan bekakak diarak menuju lokasi penyembelihan simbolis. Kirab berlangsung meriah dengan iringan berbagai kelompok kesenian tradisional serta masyarakat yang mengenakan pakaian adat Jawa.

3. Penyembelihan Simbolis Bekakak

Puncak upacara ditandai dengan penyembelihan simbolis terhadap kedua boneka pengantin. Ritual ini bukanlah bentuk pengorbanan manusia, melainkan lambang persembahan dan rasa syukur masyarakat kepada Tuhan sekaligus penghormatan kepada leluhur.

4. Sugengan Ageng

Rangkaian kemudian ditutup dengan kenduri atau sugengan sebagai ungkapan syukur serta doa bersama demi keselamatan masyarakat.

Lebih dari sekadar ritual tahunan, Midodareni Bekakak merupakan cerminan cara masyarakat Jawa menjaga hubungan antara sejarah, budaya, dan nilai spiritual. Prosesi ini tidak hanya mempertahankan tata upacara yang telah diwariskan selama berabad-abad, tetapi juga mengajarkan pentingnya menghormati leluhur, menjaga kebersamaan, serta melestarikan identitas budaya.

Dengan pengakuan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Midodareni Bekakak kini menjadi salah satu kekayaan budaya Yogyakarta yang terus menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan. Di balik kemeriahan kirab dan pertunjukan seni, tersimpan pesan bahwa tradisi bukan sekadar warisan masa lalu, melainkan jembatan yang menghubungkan generasi sekarang dengan nilai-nilai luhur yang tetap relevan hingga masa depan.

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya