
KabarJawa.com – Kirab Saparan Bekakak merupakan salah satu tradisi budaya paling khas yang masih lestari di Kalurahan Ambarketawang, Kapanewon Gamping, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.
Upacara adat yang digelar setiap bulan Sapar dalam penanggalan Jawa ini bukan sekadar perayaan budaya, tetapi sudah menjadi simbol penghormatan kepada tokoh bersejarah, ungkapan syukur kepada Tuhan, serta doa bersama agar masyarakat memperoleh keselamatan dan keberkahan.
Keunikan tradisi ini terletak pada penggunaan sepasang boneka pengantin berbahan dasar tepung ketan yang disebut bekakak. Boneka tersebut dikirab menuju kawasan Gunung Gamping sebelum akhirnya disembelih secara simbolis.
Meski sekilas tampak seperti ritual persembahan, prosesi tersebut tidak berkaitan dengan pengorbanan manusia maupun hewan, melainkan menjadi lambang penghormatan terhadap sejarah lahirnya tradisi Saparan Bekakak.
Nilai budaya yang dikandungnya membuat Saparan Bekakak ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2015. Hingga kini, tradisi tersebut menjadi agenda budaya tahunan yang selalu menarik perhatian masyarakat maupun wisatawan.
Salah satu hal yang paling menarik perhatian dalam tradisi ini adalah adanya sepasang boneka pengantin yang dibawa dalam kirab. Istilah bekakak dalam bahasa Jawa memiliki makna korban sembelihan. Namun, dalam pelaksanaannya tidak ada penyembelihan manusia ataupun hewan.
Sebagai gantinya, masyarakat membuat dua boneka berbentuk pengantin dari tepung ketan dengan isian gula merah yang melambangkan darah. Menurut dokumentasi Warisan Budaya Takbenda Indonesia, pasangan bekakak tersebut menjadi simbol Ki dan Nyai Wirosuto sekaligus menggambarkan wafatnya pasangan tersebut secara bersamaan.
Penggunaan simbol ini menunjukkan bagaimana masyarakat Jawa mengubah bentuk penghormatan menjadi ritual yang sarat makna tanpa menghilangkan nilai kemanusiaan.
Asal Usul Kirab Saparan Bekakak
Asal-usul Saparan Bekakak tidak bisa dilepaskan dari sejarah berdirinya Kasultanan Ngayogyakarta Hadiningrat pada abad ke-18.
Sesudah Perjanjian Giyanti tahun 1755, Sri Sultan Hamengku Buwono I bersama rombongan sempat menetap di Pesanggrahan Ambarketawang yang berada tidak jauh dari kawasan Gunung Gamping sebelum pusat pemerintahan baru selesai dibangun.
Pada masa itu, Gunung Gamping menjadi lokasi penting karena batu kapurnya dimanfaatkan sebagai bahan pembangunan keraton. Aktivitas penambangan berlangsung cukup intensif dan melibatkan banyak pekerja.
Berdasarkan data resmi Warisan Budaya Takbenda Indonesia, Ki atau Kiai Wirosuto bersama istrinya, Nyai Wirosuto, merupakan pasangan suami istri yang mengabdi kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I sebagai abdi dalem penongsong.
Tugas Ki Wirosuto adalah membawa atau memayungi payung kebesaran Sultan dalam berbagai kegiatan resmi ketika Sultan masih berada di Pesanggrahan Ambarketawang.
Ketika Keraton Yogyakarta telah selesai dibangun dan pusat pemerintahan dipindahkan, pasangan tersebut memilih tetap menetap di Ambarketawang. Mereka kemudian menjalani kehidupan sebagai penambang batu kapur di kawasan Gunung Gamping yang kala itu menjadi pusat pengambilan material bangunan.
Catatan Dinas Kebudayaan Daerah Istimewa Yogyakarta menulis, Ki dan Nyai Wirosuto bersama anggota keluarganya meninggal dunia akibat tertimbun longsoran batu kapur saat bekerja di Gunung Gamping.
Kabar duka tersebut sampai kepada Sri Sultan Hamengku Buwono I. Sebagai bentuk penghormatan atas kesetiaan pasangan abdi dalem tersebut sekaligus doa agar musibah serupa tidak kembali terjadi, Sultan memerintahkan masyarakat Ambarketawang mengadakan selamatan setiap bulan Sapar.
Tradisi itu kemudian diwariskan turun-temurun hingga berkembang menjadi Upacara Saparan Bekakak yang dikenal masyarakat sekarang. Selain mengenang jasa Ki dan Nyai Wirosuto, tradisi tersebut juga dipandang sebagai penghormatan terhadap salah satu tokoh awal yang berperan dalam sejarah masyarakat Gamping.
Rangkaian Prosesi Kirab Saparan Bekakak
Pelaksanaan Saparan Bekakak berlangsung selama dua hari dan melibatkan hampir seluruh warga Ambarketawang. Berikut rangkaian prosesinya:
1. Persiapan dan Pembuatan Bekakak
Beberapa hari sebelum acara puncak, warga bergotong royong membuat sepasang pengantin bekakak beserta perlengkapan kirab. Boneka dihias dengan busana adat Jawa, kemudian ditempatkan di atas joli yang telah dihias janur serta bunga. Di waktu yang sama, masyarakat juga menyiapkan sesaji, gunungan hasil bumi, hingga pusaka adat yang akan diikutsertakan dalam kirab.
2. Malam Midodareni
Malam menjelang kirab diisi dengan prosesi Midodareni. Kegiatan ini diawali arak-arakan menuju Balai Kalurahan Ambarketawang, kemudian dilanjutkan tirakatan, doa bersama, pembacaan Yasin dan tahlil, uyon-uyon, macapat, hingga pertunjukan wayang kulit. Suasana malam Midodareni menjadi momentum untuk mempererat kebersamaan warga sekaligus menjaga tradisi kesenian Jawa.
3. Kirab Budaya
Keesokan harinya digelar kirab budaya yang menjadi acara paling dinantikan. Iring-iringan terdiri atas bregada prajurit, kelompok kesenian tradisional, gunungan hasil bumi, pembawa pusaka, hingga joli yang mengangkut pengantin bekakak. Ribuan warga serta wisatawan biasanya memadati sepanjang rute kirab menuju kawasan Cagar Alam Gunung Gamping.
4. Penyembelihan Simbolis
Sesampainya di lokasi, dilakukan prosesi penyembelihan simbolis terhadap pasangan bekakak. Ritual ini bukan dimaksudkan sebagai persembahan, melainkan lambang penghormatan kepada Ki dan Nyai Wirosuto sekaligus doa agar masyarakat dijauhkan dari bencana, diberikan keselamatan, dan memperoleh rezeki yang melimpah. Prosesi kemudian ditutup dengan doa bersama.
5. Sugengan Ageng
Tahapan terakhir adalah Sugengan Ageng atau kenduri bersama di kawasan Petilasan Keraton Ambarketawang. Dalam acara ini masyarakat menikmati hidangan bersama, membagikan sesaji, serta melepaskan burung merpati sebagai lambang perdamaian, persatuan, dan harapan akan kehidupan yang lebih baik.
Jadwal Kirab Saparan Bekakak 2026
Pemerintah Kalurahan Ambarketawang menetapkan tema “Merawat Tradisi, Merajut Harmoni” untuk penyelenggaraan Saparan Bekakak tahun 2026. Rangkaian kegiatan dimulai pada Kamis, 16 Juli 2026 dengan Malam Midodareni yang diisi tirakatan, doa bersama, serta prosesi adat.
Sementara puncak acara berlangsung pada Jumat, 17 Juli 2026. Kirab budaya dijadwalkan dimulai sekitar pukul 13.00 WIB, dilanjutkan dengan prosesi penyembelihan simbolis pengantin bekakak di kawasan Gunung Gamping.
Meski lahir dari sebuah peristiwa sejarah, makna Saparan Bekakak terus berkembang mengikuti perjalanan zaman. Saat ini, tradisi tersebut tidak hanya menjadi penghormatan kepada Ki dan Nyai Wirosuto, tetapi juga menjadi wujud rasa syukur kepada Tuhan atas hasil kehidupan yang diperoleh masyarakat.
Di sisi lain, upacara ini dimaknai sebagai doa bersama agar warga selalu dijauhkan dari musibah serta diberi keselamatan. Kirab Saparan Bekakak juga berfungsi sebagai media pelestarian budaya Jawa.
Keterlibatan seluruh lapisan masyarakat, mulai dari anak-anak hingga orang tua, menunjukkan bahwa tradisi ini bukan sekadar pertunjukan tahunan, melainkan bagian dari identitas budaya Ambarketawang yang terus dijaga.
Hingga sekarang, Saparan Bekakak menjadi salah satu agenda budaya terbesar di Sleman. Ribuan pengunjung datang setiap tahun untuk menyaksikan kemeriahan kirab sekaligus mengenal lebih dekat sejarah Ki dan Nyai Wirosuto yang menjadi inspirasi lahirnya tradisi berusia ratusan tahun ini.
Dengan memadukan nilai sejarah, spiritualitas, gotong royong, dan seni tradisional, Kirab Saparan Bekakak tetap bertahan sebagai warisan budaya yang memperkuat jati diri masyarakat Yogyakarta.