
KabarJawa.com– Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) RI melalui Program Kemaslahatan memberi bantuan mobil layanan dakwah ke Pondok Pesantren (Ponpes) Modern Muhammadiyah Daarul Khoir, Kapanewon Nglipar, Kamis (18/9/2025).
Ratusan santri menyambut dengan takbir menggema saat satu unit dari RI tiba di komplek pesantren. Sementara itu, Wakil Bupati Gunungkidul, Joko Parwoto, menyaksikan penyerahan bantuan ini.
Mobil Dakwah untuk Ponpes Daarul Khoir
Anggota Badan Pelaksana BPKH, Prof. Dr. H. M. Arief Mufraini menegaskan bahwa bantuan dari Program Kemaslahatan ini bukan sekadar bentuk kepedulian, tetapi juga tanggung jawab moral dan sosial.
“Gunakan bantuan ini sebaik-baiknya. Jangan lupakan pertanggungjawaban, karena di balik fasilitas ini ada amanat umat yang harus dijaga,” tegas Arief.
Bantuan mobil layanan dakwah untuk Pondok Pesantren Daarul Khoir bukan hanya penguatan sarana, tetapi juga simbol harapan baru bagi pengembangan pendidikan Islam di Gunungkidul.
Dengan fasilitas ini, pesantren akan menjangkau masyarakat lebih luas, menghidupkan dakwah di pelosok desa, dan mencetak santri yang siap menjadi pemimpin bangsa.
Apresiasi Wabup
Wakil Bupati Joko Parwoto menyampaikan rasa syukur sekaligus apresiasi tinggi kepada BPKH RI.
“Bantuan ini bukan sekadar kendaraan, melainkan wujud nyata dukungan terhadap penguatan sarana dakwah dan pendidikan Islam di Gunungkidul,” ujar Joko.
Joko menegaskan bahwa pesantren tidak hanya berfungsi sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi juga sebagai benteng moral bangsa.
Ia menekankan peran pesantren yang strategis dalam mencetak generasi berkarakter, berakhlak mulia, dan menguasai ilmu pengetahuan.
“Pesantren bukan sekadar tempat menimba ilmu agama, tetapi juga pusat pembentukan karakter dan pemberdayaan masyarakat. Bantuan mobil operasional ini akan sangat berarti untuk memperlancar aktivitas dakwah dan mendidik santri menjadi generasi unggul,” imbuhnya.
Pimpinan Ponpes Daarul Khoir, Muhammad Arif Darmawan, menyambut bantuan ini dengan penuh rasa syukur. Dengan mata berbinar, ia menceritakan bagaimana mobil dakwah telah menjadi kebutuhan mendesak bagi pondok yang kini menaungi sekitar 400 santri.
“Pesantren ini lahir dari hasil musyawarah para pimpinan cabang Muhammadiyah di Kapanewon Nglipar. Kami sadar, dakwah membutuhkan sarana memadai. Karena itu, kami mengajukan permohonan mobil operasional dakwah, dan alhamdulillah Allah mengabulkan lewat BPKH RI,” ungkap Arif.
Ia meyakini bahwa mobil tersebut akan menjadi alat penting untuk menjangkau masyarakat lebih luas, menghidupkan kajian, serta memperkuat pengabdian pesantren kepada umat.
Dari pihak Lazismu, Gunawan Hidayat, yang menjabat sebagai Sekretaris Badan Pengurus Pusat, turut memberikan penekanan. Ia mengingatkan bahwa bantuan ini bukan hadiah tanpa tanggung jawab, melainkan amanat besar yang mereka perlu jaga dengan penuh keikhlasan dan transparansi.
“Mobil dakwah ini tidak boleh hanya dipajang sebagai simbol. Ia harus benar-benar digunakan untuk kegiatan pesantren. Ponpes juga dituntut akuntabel, karena nanti ada sampling audit BPK. Jika ada kendala, kami berharap pihak pengasuh bisa terus berkomunikasi dengan baik,” jelas Gunawan. (ef linangkung)