
KabarJawa.com – Aksi sejumlah warga yang membuka kembali jalur pendakian Gunung Merapi melalui kawasan Selo, Boyolali, viral di media sosial dan memicu perhatian publik.
Aktivitas tersebut menjadi sorotan karena pendakian menuju puncak Gunung Merapi hingga kini masih dilarang demi keselamatan, menyusul status aktivitas vulkanik yang belum sepenuhnya aman.
Menanggapi video viral tersebut, Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), Agus Budi Santosa, menjelaskan bahwa kewenangan terkait pembukaan maupun penutupan jalur pendakian berada di bawah Balai Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM).
Sementara itu, BPPTKG berfokus memberikan rekomendasi teknis berdasarkan hasil pemantauan aktivitas vulkanik.
“Untuk berkaitan dengan pendakian, kewenangan ada di TNGM. Kalau dari BPPTKG, rekomendasinya masih sama dengan rekomendasi yang disampaikan melalui MAGMA VAR,” kata Agus Budi Santosa.
Suplai Magma Masih Berlangsung
Agus menegaskan, hingga saat ini BPPTKG belum mengubah rekomendasi keselamatan karena aktivitas Gunung Merapi masih menunjukkan adanya suplai magma dari dalam tubuh gunung.
Kondisi tersebut berpotensi memicu terjadinya guguran lava maupun awan panas guguran yang sewaktu-waktu dapat terjadi.
Berdasarkan rekomendasi resmi BPPTKG, potensi bahaya Gunung Merapi saat ini dipetakan di beberapa sektor:
-
Sektor Selatan hingga Barat Daya: Guguran lava dan awan panas berpotensi meluncur melalui Sungai Boyong sejauh maksimal 5 kilometer, serta Sungai Bedog, Krasak, dan Bebeng hingga 7 kilometer.
-
Sektor Tenggara: Potensi bahaya meliputi Sungai Woro sejauh maksimal 3 kilometer dan Sungai Gendol hingga 5 kilometer.
Selain ancaman guguran lava dan awan panas, BPPTKG mengingatkan adanya risiko lontaran material vulkanik yang dapat mencapai radius 3 kilometer dari puncak apabila terjadi letusan eksplosif.
Imbauan Patuhi Rekomendasi Resmi
Mengingat aktivitas vulkanik yang belum stabil, BPPTKG meminta masyarakat agar tidak melakukan aktivitas apa pun di daerah yang masuk dalam kawasan potensi bahaya, termasuk melakukan pendakian menuju puncak.
Masyarakat juga diminta meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman lahar dingin dan awan panas guguran, terutama saat hujan mengguyur kawasan puncak.
Curah hujan tinggi dapat membawa material vulkanik melalui aliran sungai ke wilayah hilir. Selain itu, potensi gangguan akibat hujan abu vulkanik juga perlu diantisipasi.
BPPTKG memastikan akan terus melakukan pemantauan intensif selama 24 jam. Apabila terjadi perubahan aktivitas yang signifikan, pihak otoritas akan segera mengevaluasi dan meninjau kembali tingkat aktivitas Gunung Merapi.
Sebagai informasi, pendakian menuju puncak Gunung Merapi telah ditutup selama sekitar delapan tahun terakhir demi keselamatan bersama akibat tingginya aktivitas vulkanik.
Masyarakat diimbau untuk tidak mudah terpengaruh oleh informasi yang beredar di media sosial mengenai pembukaan jalur pendakian ilegal dan tetap mematuhi arahan resmi dari otoritas yang berwenang.