
KabarJawa.com— Sebuah video viral di media sosial mengguncang dunia maya dan menyorot wajah pariwisata Gunungkidul.
Video berdurasi sekitar satu menit di akun TikTok @JodileeNormaWarwick menampilkan momen pembeli dan pedagang di kawasan Pantai Ngrenehan, Kapanewon Saptosari.
Dalam video tersebut, wisatawan mengaku telah membayar belanjaan, sementara pedagang bersikeras belum menerima uang.
Namun, drama itu berakhir damai. Setelah wisatawan menunjukkan rekaman pembayaran, pedagang yang semula mengaku belum menerima uang langsung meminta maaf dan mengembalikan uang Rp100.000.
Cuplikan sederhana ini justru memantik perhatian publik, warganet melontarkan ribuan komentar, pro dan kontra. Tak sedikit netizen mengaku pernah mengalami hal serupa di kawasan wisata pantai.
Klarifikasi dan Pembinaan Terkait Video Pedagang Pantai Ngrenehan
Kepala Bidang Destinasi Wisata Dinas Pariwisata Gunungkidul, Priyanta, membenarkan bahwa peristiwa tersebut benar terjadi di kawasan Pantai Ngrenehan pada Sabtu (8/11/2025).
Ia menegaskan, kejadian itu murni akibat kelalaian pedagang yang lupa bahwa transaksi telah berlangsung.
“Informasinya sesuai video. Pedagang sempat lupa kalau pembayaran sudah dilakukan. Setelah ditunjukkan rekamannya, pedagang langsung mengembalikan uangnya,” ujar Priyanta, Senin (10/11/2025).
Priyanta mengungkapkan, meski peristiwa itu telah diselesaikan secara damai di lokasi, Dispar Gunungkidul tetap menyesalkan kejadian tersebut karena berpotensi merusak citra pariwisata yang sedang mereka bangun.
“Kami sudah turun langsung dan memberikan pembinaan. Sekecil apa pun insiden seperti ini bisa mengurangi kepercayaan wisatawan. Gunungkidul saat ini tengah berjuang memperkuat citra sebagai destinasi unggulan di DIY,” tegasnya.
Pokdarwis Perlu Perkuat Pengawasan
Dinas Pariwisata kini berkoordinasi dengan pengelola pantai dan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) setempat. Langkah ini memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Priyanta menegaskan pentingnya pembinaan rutin bagi pelaku usaha wisata, terutama pedagang di kawasan pantai.
“Kami menekankan pentingnya kejujuran dan keramahan dalam setiap transaksi. Satu pengalaman kecil bisa berdampak besar bagi citra pariwisata daerah,” katanya.
Selain pembinaan, pihaknya juga tengah menyiapkan program pendampingan dan pelatihan etika pelayanan wisata agar para pedagang lebih profesional dan mampu menjaga reputasi destinasi.
Kepala Dinas Pariwisata Gunungkidul, Oneng Windu, juga angkat bicara. Ia menegaskan bahwa pihaknya telah meminta seluruh pengelola kawasan wisata dan Pokdarwis untuk lebih aktif melakukan pendampingan terhadap para pedagang.
“Kami menegaskan agar seluruh pelaku wisata menjaga etika bertransaksi dan berinteraksi dengan wisatawan. Kejadian kecil seperti ini bisa berdampak besar terhadap persepsi publik, apalagi di era media sosial,” ujar Oneng.
Oneng menambahkan, Dinas Pariwisata akan berkoordinasi dengan pihak kalurahan dan aparat setempat untuk memperkuat sistem pengawasan.
Tak hanya itu, papan imbauan berisi panduan transaksi dan nomor kontak layanan pengaduan akan dipasang di titik-titik strategis kawasan wisata.
“Kami ingin agar setiap kawasan memiliki sistem pengawasan yang responsif. Wisatawan harus tahu ke mana melapor jika ada persoalan di lapangan, agar masalah segera terselesaikan tanpa menimbulkan kesalahpahaman,” jelasnya.
Video pedagang Pantai Ngrenehan ini menjadi peringatan penting bagi seluruh pelaku pariwisata di Gunungkidul.
Oneng menegaskan, reputasi daerah tidak hanya berasal dari keindahan alam, tetapi juga dari perilaku dan integritas masyarakat yang mengelolanya.
“Citra baik pariwisata tidak bisa dibangun hanya lewat promosi, tetapi lewat kejujuran dan pelayanan. Kami berharap peristiwa ini menjadi pembelajaran bersama agar layanan wisata Gunungkidul semakin profesional,” pungkasnya. (ef linangkung)