
KabarJawa.com – Universitas Atma Jaya Yogyakarta (UAJY) bersama Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Daerah Istimewa Yogyakarta mengajak perempuan menjadi motor penggerak pengelolaan sampah organik rumah tangga. Melalui talkshow bertajuk “Tuntas Sampah di Dapur”, ratusan peserta diperkenalkan dengan teknologi biokatalit yang memungkinkan limbah dapur diolah menjadi media tanam secara cepat, praktis, dan ramah lingkungan.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun ke-102 WKRI dan berlangsung di Aula Gereja Santo Petrus dan Paulus Babadan, Wedomartani, Ngemplak, Sleman, Minggu (21/6/2026). Sebanyak 250 peserta mengikuti acara yang terdiri atas Presidium WKRI DPD DIY, perwakilan DPC kabupaten/kota se-DIY, utusan ranting, hingga tamu undangan.
Perempuan Dinilai Berperan Penting Mengurangi Sampah Rumah Tangga
Ketua Presidium WKRI DPD DIY, Dra. Restituta Sri Widiastuti, S.E., Akt., CA, menilai perempuan memiliki posisi strategis dalam mengurangi timbulan sampah karena rumah tangga menjadi sumber terbesar sampah, terutama limbah organik dari dapur.
Menurutnya, upaya menjaga lingkungan dapat dimulai dari kebiasaan sederhana yang dilakukan setiap keluarga.
“Ini merupakan wujud nyata semangat Wanita Katolik Republik Indonesia untuk merawat ciptaan Tuhan sekaligus menjaga kesehatan keluarga. Kita dipanggil menjadi agen perubahan dengan memulai pengelolaan sampah dari rumah tangga,” ujarnya saat membuka kegiatan.
Perempuan yang akrab disapa Bu Tuta tersebut menjelaskan bahwa sampah organik dapur sering dianggap persoalan kecil. Padahal, apabila tidak ditangani dengan baik, limbah tersebut berpotensi mencemari lingkungan sekaligus menghasilkan gas metana yang menjadi salah satu penyebab pemanasan global.
Karena itu, menurutnya, perubahan perilaku dalam mengelola sampah perlu dimulai dari keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat.
Tema “Tuntas Sampah di Dapur” Diangkat karena Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari
Ketua Panitia HUT ke-102 WKRI DIY, Dra. Vincentia Lies Ratnawati, mengatakan pemilihan tema talkshow didasarkan pada aktivitas sehari-hari yang tidak lepas dari produksi sampah rumah tangga, khususnya di dapur.
Ia berharap kegiatan tersebut tidak berhenti pada penyampaian teori, tetapi mampu mendorong peserta menerapkan praktik pengelolaan sampah secara langsung di rumah masing-masing.
“Setiap hari kita menghasilkan sampah rumah tangga. Karena itu kita juga harus bertanggung jawab mengelolanya hingga tuntas. Harapan kami, setelah mengikuti kegiatan ini para ibu tidak hanya memahami teorinya, tetapi juga langsung mempraktikkannya di rumah,” katanya.
Urgensi pengelolaan sampah dari tingkat keluarga juga didukung data Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Sleman yang menunjukkan sekitar 70 hingga 80 persen sampah yang masuk ke tempat pembuangan berasal dari rumah tangga. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa perubahan perilaku masyarakat di tingkat keluarga dapat memberikan kontribusi besar terhadap pengurangan volume sampah secara keseluruhan.
Dosen UAJY Kenalkan Teknologi Biokatalit untuk Mengolah Sampah Organik
Dalam kesempatan tersebut, dosen Fakultas Teknobiologi UAJY sekaligus anggota Tim Laudato Si’ UAJY, Tim Komisi Keadilan, Perdamaian, dan Kelestarian Ciptaan (KKPKC) Kevikepan Yogyakarta Timur, serta Tim Pendamping Paroki Hijau Kevikepan Yogyakarta Timur dan Barat, Patrisius Kianto Atmodjo, M.Si., menjadi narasumber utama.
Ia mengajak peserta menerapkan semangat ensiklik Laudato Si’ melalui langkah sederhana yang dapat dimulai dari rumah dengan mengelola sampah organik secara mandiri.
Kianto memperkenalkan metode biokatalit, yakni konsorsium bakteri yang mampu mempercepat proses penguraian bahan organik. Dengan metode tersebut, sisa sayuran, kulit buah, maupun limbah dapur lainnya dapat langsung dimanfaatkan sebagai media tanam tanpa harus melalui proses pengomposan yang memerlukan waktu lebih lama.
“Metode biokatalit memungkinkan sampah organik langsung dimanfaatkan sebagai media tanam sehingga lebih cepat, lebih hemat, dan lebih praktis dibandingkan metode pengomposan konvensional maupun pembuatan ekoenzim,” jelasnya.
Menurut Kianto, penerapan metode tersebut secara konsisten di setiap rumah tangga berpotensi mengurangi secara signifikan jumlah sampah organik yang dikirim ke tempat pembuangan akhir.
Peserta Antusias Ingin Menerapkan Metode Biokatalit
Pemaparan mengenai teknologi biokatalit mendapat respons positif dari peserta. Banyak anggota WKRI menyampaikan ketertarikannya untuk segera menerapkan metode tersebut di rumah sekaligus menanyakan cara memperoleh biokatalit.
Menanggapi antusiasme itu, Kianto menjelaskan bahwa biokatalit dapat diperoleh melalui Fakultas Teknobiologi UAJY. Ia juga menegaskan pentingnya pendampingan kepada masyarakat agar proses penerapan berjalan dengan baik.
“Pendampingan penting agar peserta yang mengalami kendala tidak berhenti di tengah jalan, tetapi dapat menemukan solusi hingga berhasil menerapkannya,” katanya.
WKRI DIY Diharapkan Menjadi Pelopor Pelestarian Lingkungan
Pastor Paroki Santo Petrus dan Paulus Babadan, Romo Antonius Saptana Hadi, Pr., turut memberikan apresiasi terhadap inisiatif WKRI DIY dalam meningkatkan kepedulian masyarakat terhadap pengelolaan sampah rumah tangga.
Menurutnya, gerakan memilah dan mengolah sampah merupakan bentuk nyata tanggung jawab bersama dalam menjaga kelestarian lingkungan.
“WKRI perlu menjadi pelopor dalam merawat bumi dengan mengolah dan memilah sampah hingga tuntas. Inilah bentuk nyata tanggung jawab kita terhadap alam ciptaan Tuhan,” ujarnya.
Melalui kolaborasi antara UAJY dan WKRI DIY, para anggota diharapkan mampu menjadi agen perubahan di lingkungan keluarga maupun masyarakat. Pemanfaatan teknologi biokatalit tidak hanya ditujukan untuk mengurangi volume sampah organik rumah tangga, tetapi juga membangun budaya hidup berkelanjutan yang sejalan dengan semangat Laudato Si’ serta nilai Hamemayu Hayuning Bawana dalam menjaga bumi sebagai rumah bersama bagi generasi sekarang maupun mendatang.