
KabarJawa.com – Pemerintah Kabupaten Gunungkidul menggelar tradisi Padusan di Pantai Sundak, pesisir selatan Kabupaten Gunungkidul, menjelang bulan suci Ramadan.
Ribuan warga hadir sejak pagi untuk mengikuti rangkaian ritual yang dipusatkan di kawasan pantai tersebut.
Peserta memadati area pesisir dengan mengenakan busana adat maupun pakaian muslim. Kegiatan berlangsung tertib dengan rangkaian doa dan kidung Jawa yang mengiringi prosesi.
Menghidupkan Kembali Tradisi Leluhur
Bupati Gunungkidul, Endah Subekti Kuntariningsih, menyatakan bahwa pemerintah daerah secara sadar menggali kembali adat dan tradisi budaya Jawa yang telah lama mengakar di masyarakat.
“Setiap menjelang puasa Ramadan, leluhur kita selalu menggelar padusan bersama. Dulu masyarakat melakukannya di telaga atau kali. Namun, seiring perkembangan zaman dan hadirnya kamar mandi di rumah, tradisi itu bergeser dan dilakukan secara pribadi,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa Kepala Dinas Kebudayaan bersama Kepala Dinas Pariwisata menginisiasi gagasan untuk menghidupkan kembali padusan secara kolektif. Pemerintah kemudian menetapkan Pantai Sundak sebagai lokasi pelaksanaan ritual budaya tersebut.
Menurut Endah, istilah padusan berasal dari kata dasar “adus” yang berarti mandi. Ia menegaskan bahwa makna mandi dalam tradisi ini tidak hanya membersihkan tubuh, tetapi juga menyucikan diri secara lahir dan batin.
“Tujuan padusan adalah membersihkan raga dari ujung rambut hingga ujung kaki, sekaligus membersihkan hati dan pikiran dari rasa benci, iri, dan dengki. Kita menghapus segala hal negatif untuk menyambut bulan suci Ramadan dengan jiwa yang bersih,” tegasnya.
Pemilihan Lokasi dan Rangkaian Ritual
Pemilihan Pantai Sundak, menurut Endah, melalui pertimbangan bersama. Ia menyebut seluruh pantai di Gunungkidul memiliki nilai sakral, namun Pantai Sundak belum pernah digunakan sebagai pusat kegiatan ritual budaya serupa.
“Semua pantai di Gunungkidul sakral. Tetapi Pantai Sundak belum pernah kita gunakan untuk event ritual budaya. Kita berdiskusi bersama dan akhirnya menunjuk Sundak,” jelasnya.
Ia juga menyinggung kondisi lingkungan pantai yang dinilai terjaga. Vegetasi pesisir tumbuh dengan baik, pedagang tertata, serta kawasan relatif bersih. Pemerintah daerah ingin mengedukasi masyarakat bahwa pantai merupakan ruang publik yang harus dirawat bersama dan ramah terhadap wisatawan.
Di lokasi kegiatan, panitia memanfaatkan sebuah joglo yang berdiri di tepi pantai sebagai tempat doa bersama sebelum prosesi padusan dimulai. Pemerintah Kabupaten Gunungkidul turut menggandeng abdi dalem Keraton Yogyakarta yang berdomisili di Gunungkidul untuk menggelar kenduri sebelum ritual berlangsung.
Setelah doa dan kenduri selesai, peserta bergerak menuju bibir pantai untuk melaksanakan padusan. Mereka melakukan mandi bersama sebagai simbol penyucian diri dalam menyambut Ramadan.
Panitia juga menyiapkan fasilitas tambahan bagi peserta yang tidak ingin mandi langsung di laut. Pemerintah memasang pipa paralon dengan lebih dari 20 lubang sebagai pancuran air di darat.
Fasilitas tersebut disediakan agar masyarakat tetap dapat mengikuti ritual dengan pilihan yang dianggap lebih aman dan nyaman.
Dimensi Budaya dan Toleransi
Endah menyampaikan bahwa tradisi puasa telah dikenal sejak masa leluhur. Pemerintah mengemas padusan sebagai ritual kebudayaan yang sekaligus memiliki dimensi keagamaan.
Ia juga menyoroti momentum pelaksanaan padusan yang berdekatan dengan perayaan Tahun Baru Imlek serta rangkaian hari besar keagamaan lain seperti Rabu Abu, Kamis Putih, dan Jumat Agung.
“Spirit Pancasila mengajarkan kita untuk saling tepa selira dan menghormati perbedaan. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia menjamin setiap warga negara memeluk agama dan kepercayaannya serta beribadah menurut keyakinan masing-masing,” tegasnya.
Kegiatan tersebut, menurut pemerintah daerah, tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga bagian dari upaya memperkuat harmoni sosial di wilayah Gunungkidul.
Ritual ditutup dengan prosesi mandi dan keramas bersama di kawasan pantai. Setelah kegiatan selesai, peserta meninggalkan lokasi secara tertib.
Tradisi Padusan di Pantai Sundak menjadi salah satu agenda menjelang Ramadan yang difasilitasi Pemerintah Kabupaten Gunungkidul. Pemerintah daerah menyatakan akan terus mengevaluasi pelaksanaan kegiatan budaya tersebut pada tahun-tahun berikutnya.