
Kabarjawa – Semarang kembali menghadirkan tradisi yang begitu dinanti saat Ramadan, yaitu nyumet mercon di Masjid Agung Semarang.
Tradisi ini bukan sekadar penyalaan kembang api, tetapi juga bagian dari sejarah dan budaya yang telah berlangsung sejak lama.
Setiap tahunnya, ribuan warga Semarang dan sekitarnya berkumpul untuk menyaksikan kemeriahan tradisi ini yang kini dikemas dengan arak-arakan khas yang semakin menarik perhatian masyarakat.
Sejarah Tradisi Nyumet Mercon
Tradisi penyalaan mercon ini memiliki akar sejarah yang kuat. Dahulu, tanda berbuka puasa di Semarang dilakukan dengan bom udara.
Namun, sejak diberlakukannya Peraturan Wali Kota (Perwali) pada tahun 1983, penggunaan bom udara dilarang karena alasan keamanan. Sebagai gantinya, menara Masjid Agung Semarang dibangun dan sirine digunakan sebagai penanda waktu berbuka puasa.
Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berkembang dengan tambahan elemen budaya yang lebih menarik. Saat pandemi, Masjid Agung Semarang kembali menggali sejarah ini dan menghadirkan inovasi baru berupa arak-arakan menuju Aloon-aloon Semarang.
Perubahan ini bertujuan untuk menjaga semangat kebersamaan dan memperkuat identitas budaya lokal.
Prosesi Arak-Arakan dan Nyumet Mercon
Setiap Sabtu dan Minggu selama bulan Ramadan, prosesi ini dimulai dari Masjid Agung Semarang. Pasukan yang mengenakan pakaian adat berbaris rapi sambil memainkan qasidah, membawa tongkat, serta banner bertuliskan “Marhaban Ya Ramadan!”.
Mereka kemudian berjalan menuju Aloon-aloon Semarang, disambut antusias oleh masyarakat yang tengah menunggu waktu berbuka puasa.
Sesampainya di lapangan, peserta arak-arakan menyiapkan kembang api untuk dinyalakan tepat saat sirine berbunyi.
Begitu tanda berbuka puasa terdengar, langit Semarang berubah menjadi pemandangan yang penuh warna dari letupan kembang api yang meriah. Momen ini menjadi daya tarik tersendiri dan sering kali diabadikan oleh pengunjung.
Budaya yang Terus Dilestarikan
Tradisi nyumet mercon bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi warisan budaya yang terus dijaga. Acara ini melibatkan banyak pihak, mulai dari pengurus masjid, santri dari pondok pesantren, hingga masyarakat umum yang berpartisipasi dengan penuh semangat.
Arak-arakan yang diadakan setiap akhir pekan memberikan sentuhan budaya yang lebih kental dibandingkan hari-hari biasa.
Hal ini menjadi faktor utama yang membuat tradisi ini semakin menarik dari tahun ke tahun. Dengan tetap menjaga nilai sejarahnya, inovasi dalam prosesi ini membuatnya semakin relevan dan diminati oleh generasi muda.
Tradisi nyumet mercon di Masjid Agung Semarang bukan hanya sekadar perayaan Ramadan, tetapi juga simbol dari perjalanan sejarah dan budaya yang terus dijaga.
Dari penggunaan bom udara hingga transformasi menjadi sirine dan arak-arakan, tradisi ini terus berkembang tanpa meninggalkan akar sejarahnya.
Semangat masyarakat dalam melestarikan warisan budaya ini membuktikan bahwa Ramadan di Semarang bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga kebersamaan dan identitas lokal yang kaya akan nilai sejarah.(Kabarjawa)