Tradisi Nyumet Mercon di Masjid Agung Semarang: Perpaduan Sejarah, Budaya, dan Ramadan

Bagikan :
Tradisi Nyumet Mercon di Masjid Agung Semarang Perpaduan Sejarah, Budaya, dan Ramadan
Tradisi Nyumet Mercon di Masjid Agung Semarang Perpaduan Sejarah, Budaya, dan Ramadan (Sumber gambar : ilustrasi: pinterest/Dasomsomsom)

Kabarjawa – Semarang kembali menghadirkan tradisi yang begitu dinanti saat Ramadan, yaitu nyumet mercon di Masjid Agung Semarang.

Tradisi ini bukan sekadar penyalaan kembang api, tetapi juga bagian dari sejarah dan budaya yang telah berlangsung sejak lama.

Setiap tahunnya, ribuan warga Semarang dan sekitarnya berkumpul untuk menyaksikan kemeriahan tradisi ini yang kini dikemas dengan arak-arakan khas yang semakin menarik perhatian masyarakat.

Sejarah Tradisi Nyumet Mercon

Tradisi penyalaan mercon ini memiliki akar sejarah yang kuat. Dahulu, tanda berbuka puasa di Semarang dilakukan dengan bom udara.

Namun, sejak diberlakukannya Peraturan Wali Kota (Perwali) pada tahun 1983, penggunaan bom udara dilarang karena alasan keamanan. Sebagai gantinya, menara Masjid Agung Semarang dibangun dan sirine digunakan sebagai penanda waktu berbuka puasa.

Seiring berjalannya waktu, tradisi ini berkembang dengan tambahan elemen budaya yang lebih menarik. Saat pandemi, Masjid Agung Semarang kembali menggali sejarah ini dan menghadirkan inovasi baru berupa arak-arakan menuju Aloon-aloon Semarang.

Perubahan ini bertujuan untuk menjaga semangat kebersamaan dan memperkuat identitas budaya lokal.

Baca juga  Inovasi Stairlift di Candi Borobudur: Akses Baru untuk Lansia dan Penyandang Disabilitas ke Puncak Warisan Dunia

Prosesi Arak-Arakan dan Nyumet Mercon

Setiap Sabtu dan Minggu selama bulan Ramadan, prosesi ini dimulai dari Masjid Agung Semarang. Pasukan yang mengenakan pakaian adat berbaris rapi sambil memainkan qasidah, membawa tongkat, serta banner bertuliskan “Marhaban Ya Ramadan!”.

Mereka kemudian berjalan menuju Aloon-aloon Semarang, disambut antusias oleh masyarakat yang tengah menunggu waktu berbuka puasa.

Sesampainya di lapangan, peserta arak-arakan menyiapkan kembang api untuk dinyalakan tepat saat sirine berbunyi.

Begitu tanda berbuka puasa terdengar, langit Semarang berubah menjadi pemandangan yang penuh warna dari letupan kembang api yang meriah. Momen ini menjadi daya tarik tersendiri dan sering kali diabadikan oleh pengunjung.

Budaya yang Terus Dilestarikan

Tradisi nyumet mercon bukan hanya sekadar hiburan, tetapi juga menjadi warisan budaya yang terus dijaga. Acara ini melibatkan banyak pihak, mulai dari pengurus masjid, santri dari pondok pesantren, hingga masyarakat umum yang berpartisipasi dengan penuh semangat.

Arak-arakan yang diadakan setiap akhir pekan memberikan sentuhan budaya yang lebih kental dibandingkan hari-hari biasa.

Baca juga  Libur Lebaran Diperpanjang, Cek Jadwal Libur dan Cuti Bersama Lebaran 2025 Terbaru

Hal ini menjadi faktor utama yang membuat tradisi ini semakin menarik dari tahun ke tahun. Dengan tetap menjaga nilai sejarahnya, inovasi dalam prosesi ini membuatnya semakin relevan dan diminati oleh generasi muda.

Tradisi nyumet mercon di Masjid Agung Semarang bukan hanya sekadar perayaan Ramadan, tetapi juga simbol dari perjalanan sejarah dan budaya yang terus dijaga.

Dari penggunaan bom udara hingga transformasi menjadi sirine dan arak-arakan, tradisi ini terus berkembang tanpa meninggalkan akar sejarahnya.

Semangat masyarakat dalam melestarikan warisan budaya ini membuktikan bahwa Ramadan di Semarang bukan hanya tentang ibadah, tetapi juga kebersamaan dan identitas lokal yang kaya akan nilai sejarah.(Kabarjawa)

Berita Terbaru

Universitas Ngudi Waluyo memiliki 24 program studi dari D3 hingga S2, mencakup bidang kesehatan, bisnis, hukum, dan pendidikan.
Berapakah Jumlah Program Studi yang Ada di Universitas Ngudi Waluyo Saat ini?
Nomor punggung Pelé yang paling ikonik adalah 10. Simak sejarah angka tersebut dan tiga gelar Piala Dunia Brasil.
Apa Nomor Punggung Paling Ikonik Pele di Panggung Piala Dunia?
KKB-Papua
Penembakan Pegawai Dinas Pertanian Jayawijaya, 3 Orang Tewas di Pedalaman Papua
All You Can Eat Steamboat & Grill hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo dengan panorama Menoreh dan pilihan paket menarik.
All You Can Eat Steamboat & Grill Hadir di Novotel & ibis YIA Kulon Progo: Kuliner dengan Panorama Menoreh
Jadwal one way Puncak 12-13 September 2026 berlaku situasional. Ganjil genap ditiadakan, cek jam arah naik dan turun.
Jadwal One Way Jalur Puncak12-13 September 2026: Ganjil Genap Ditiadakan, Satu Arah Situasional

Terpopuler

Nama kepala sekolah dan guru SD Pekalongan yang viral belum diumumkan. Disdikbud membenarkan kasus dan menjatuhkan sanksi. (Foto ilustrasi Pixabay/geralt)
Siapa Kepala Sekolah dan Guru SD Pekalongan Viral Video Asusila yang Dicopot Disdikbud?
Video kasir Indomaret viral 7 menit ramai di media sosial. Simak fakta soal isi video, Lylia, dan klaim akun media sosialnya. (Foto ilustrasi: Pixabay/lolo_btl)
Video Kasir Indomaret Viral 7 Menit Isinya Apa dan Nama Akun IG serta TikTok Lylia yang Disebut-sebut Pemeran Video
pemeliharaan jaringan listrik
Jadwal Pemadaman Listrik Surabaya Hari Ini, Cara Cek Info Real Time & Akurat
Roberto Carlos masih hidup pada Agustus 2026. Simak kondisi kesehatan, karier, dan perannya sebagai pemegang saham Fursan Hispania. (Foto: instagram/oficialrc3)
Apakah Roberto Carlos Masih Hidup Agustus 2026? Ini Kondisi Terbaru Legenda Brasil dan Real Madrid
Lokasi Tilang Operasi Patuh Progo 2026 Jogja
Titik Lokasi Rawan Tilang di Jogja, Operasi Patuh Progo 2026: ETLE Sleman, Bantul dan Sekitarnya