
KabarJawa.com – Peristiwa tanah bergerak terjadi di Perumahan Taman Semesta Asri, Padukuhan Guwo, Kalurahan Triwidadi, Kapanewon Pajangan, Kabupaten Bantul, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada akhir Februari 2026.
Pergerakan tanah menyebabkan puluhan rumah mengalami kerusakan dan memicu kekhawatiran warga terhadap potensi longsor susulan.
Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bantul mencatat sebanyak 20 rumah terdampak dalam kejadian tersebut. Sebagian besar bangunan mengalami kerusakan berat akibat pergeseran tanah yang terjadi di kawasan perbukitan tersebut.
Petugas BPBD bersama tim terkait telah melakukan pengecekan di lokasi untuk menilai kondisi tanah serta potensi bahaya lanjutan.
Hujan Deras Picu Pergeseran Tanah
Pergerakan tanah terjadi setelah hujan deras mengguyur wilayah Pajangan pada 26 Februari 2026. Tanah di kawasan perumahan tersebut dilaporkan turun hingga beberapa meter.
Kepala Bidang Kedaruratan, Logistik, dan Peralatan BPBD Bantul, Antoni Hutagaol, menyampaikan bahwa dampak kejadian cukup luas.
Sebanyak 20 rumah mengalami kerusakan, dengan rincian 19 rumah mengalami kerusakan berat dan satu rumah roboh sehingga tidak dapat dihuni.
“Penurunan tanah terjadi sekitar kurang lebih 2,5 meter. Total ada delapan kepala keluarga dengan 22 jiwa yang terdampak,” kata Antoni, Sabtu (7/3/2026).
Petugas yang melakukan peninjauan juga menemukan retakan tanah di sejumlah titik kawasan perumahan.
Area tanah yang mengalami pergerakan diperkirakan mencapai sekitar satu hektare.
Warga Diminta Menjauh dari Retakan Tanah
BPBD Bantul mengimbau warga agar tidak mendekati area retakan tanah karena dikhawatirkan terjadi pergerakan lanjutan.
Pemerintah daerah juga telah mengajukan permohonan kajian kepada Badan Geologi untuk mengetahui penyebab pasti kejadian tersebut.
Kajian tersebut diharapkan dapat memberikan rekomendasi teknis terkait langkah penanganan kawasan yang terdampak.
Sementara itu, pihak pengembang perumahan melakukan langkah darurat dengan mengerahkan alat berat untuk membuka saluran air di sekitar lokasi.
Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi genangan air yang diduga meningkatkan tekanan di dalam tanah dan memicu pergeseran lapisan tanah.
Tanah Kembali Mengalami Penurunan
Kondisi di lokasi masih menjadi perhatian karena tanah kembali mengalami penurunan pada pekan ini.
Panewu Pajangan, Anjar Arintaka Putra, mengatakan bahwa tanah di Perumahan Taman Semesta Asri telah bergerak dua kali dalam waktu yang berdekatan.
Selain kejadian besar pada akhir Februari, pada pekan ini tanah kembali turun sekitar lima hingga 10 sentimeter.
“Yang kami khawatirkan nanti kalau turunnya berdampak ke rumah yang di bawah. Itu bisa berakibat fatal kalau longsornya semua,” ujar Anjar.
Menurutnya, kondisi tersebut perlu diwaspadai karena sebagian rumah berada pada lereng yang bertingkat.
Jika tanah di bagian atas kembali bergerak, bangunan yang berada di bagian bawah berpotensi ikut terdampak.
Warga Tetap Bertahan di Rumah
Meskipun retakan tanah masih terlihat di sekitar kawasan perumahan, sebagian warga memilih tetap tinggal di lokasi.
Warga beralasan ingin memantau kondisi tanah secara langsung agar dapat segera melapor apabila terjadi pergerakan baru.
“Sampai sekarang belum ada penanganan. Kami hanya menyampaikan kepada warga masyarakat yang menempati di situ untuk setiap saat waspada,” kata Anjar.
Sebagian warga mengaku masih merasa khawatir setiap kali hujan turun karena retakan tanah di sekitar rumah mereka belum sepenuhnya stabil.
Karakter Tanah Kapur Dinilai Rentan Bergerak
Menurut Anjar, kondisi geologi wilayah Pajangan memang memiliki kerentanan terhadap pergerakan tanah.
Struktur tanah di kawasan tersebut didominasi oleh tanah kapur yang mudah berubah kondisi tergantung cuaca.
Pada musim kemarau, tanah kapur cenderung mengering dan retak. Sementara saat musim hujan, air mudah meresap dan dapat melarutkan bagian tanah sehingga struktur tanah menjadi lebih lemah.
“Tanahnya itu tanah kapur. Kalau musim kering jadi pecah-pecah, kalau hujan ya larut seperti itu,” jelasnya.
Ia juga menilai pembangunan perumahan di kawasan tersebut seharusnya memperhatikan kondisi geologi sejak tahap perencanaan.
Pemasangan talut atau struktur penahan tanah dinilai penting untuk memperkuat lereng dan mengurangi risiko pergerakan tanah.
Peristiwa Serupa Pernah Terjadi di Bantul
Pergerakan tanah bukan kali pertama terjadi di wilayah Bantul. Pada akhir Februari 2026, peristiwa serupa juga dilaporkan terjadi di Dusun Jambon, Kalurahan Argosari, Kapanewon Sedayu.
Hujan deras yang berlangsung cukup lama menyebabkan tanah bergerak sepanjang sekitar 300 meter.
Peristiwa tersebut merusak empat rumah warga, satu masjid, dan satu pendopo pertemuan.
Dua kepala keluarga dilaporkan terdampak dalam kejadian tersebut, dan sebagian warga sempat mengungsi ke rumah kerabat.
Petugas dari FPRB Argosari, Bhabinkamtibmas, serta warga setempat melakukan penanganan awal di lokasi kejadian.
Pemerintah Minta Warga Tetap Waspada
Pemerintah daerah terus memantau perkembangan kondisi tanah di Perumahan Taman Semesta Asri sambil menunggu hasil kajian geologi yang lebih mendalam.
Warga diminta untuk meningkatkan kewaspadaan, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi.
Selain itu, masyarakat diimbau segera melapor kepada pihak berwenang apabila melihat tanda-tanda pergerakan tanah seperti retakan baru atau perubahan kondisi lereng.