
KabarJawa.com— Suasana Gedhong Wilis di Kompleks Kepatihan terasa berbeda pada Jumat pagi ketika Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengku Buwono X, menerima jajaran direksi PT Hotel Indonesia Natour (HIN).
Pertemuan itu menghadirkan percakapan yang mengalir intens mengenai masa depan salah satu bangunan paling ikonis di Malioboro: Grand Hotel De Djokja, hotel tertua di Daerah Istimewa Yogyakarta yang sedang menjalani renovasi besar-besaran.
Jajaran PT HIN hadir lengkap. Direktur Utama PT HIN, Christine Hutabarat, memimpin rombongan yang terdiri atas Division Head Customer Experience, Eva Prudance; GH Project Management, I Putu Mirayana; Division Head Project Management, Dwi Meisa Fitri; Director of Room GHDD, Kurniawan Tri Cahyo; serta Marketing Communication Manager Grand Hotel De Djokja, Maria Perwitasari.
Mereka datang membawa laporan komprehensif mengenai progres renovasi, rencana pengembangan fasilitas, serta kesiapan hotel menghadapi pembukaan kembali.
Progres Renovasi Grand Hotel De Djokja
Maria Perwitasari memaparkan bahwa audiensi ini berlangsung sebagai bentuk penghormatan sekaligus penyampaian perkembangan terbaru renovasi hotel yang dulunya bernama Grand Inna Malioboro.
Ia menegaskan bahwa Grand Hotel De Djokja sedang memasuki fase penyelesaian.
“Kami datang untuk sowan kepada Ngarsa Dalem dan memperkenalkan Grand Hotel De Djokja sebagai hotel yang saat ini sedang kami renovasi. Kami juga menyampaikan bahwa pembangunan hampir selesai dan kami segera membuka kembali hotel ini,” ujar Maria.
Maria menjelaskan bahwa proses renovasi dilakukan dengan pendekatan pelestarian cagar budaya. PT HIN memilih untuk mengembalikan bangunan utama sesuai bentuk ketika pertama kali berdiri pada 1911.
“Kami sudah mengembalikan beberapa bagian hotel ke bentuk awal, seperti saat pertama kali berdiri di tahun 1911. Kami memastikan bangunan utama kembali ke karakter aslinya sebagai bangunan cagar budaya. Jadi bentuknya sekarang sudah sesuai dengan wajah lamanya,” jelasnya.
Selain restorasi bangunan bersejarah, PT HIN juga menjelaskan rencana pengembangan fasilitas pendukung, terutama pembangunan area parkir baru yang terpisah dari bangunan utama hotel.
Langkah ini meningkatkan kenyamanan tamu sekaligus menyesuaikan kebutuhan kawasan Malioboro yang semakin padat.
“Kami menyiapkan beberapa area baru, termasuk area parkir bertingkat yang terpisah dari bangunan hotel. Area ini kami kembangkan untuk memudahkan tamu ketika berada di Grand Hotel De Djokja,” tambah Maria.
Rencana tersebut menjadi isu penting mengingat kawasan Malioboro akan menjalani penataan jalur pedestrian secara besar-besaran pada 2026.
Pentingnya Ketelitian dan Kehalusan Detail
Dalam audiensi tersebut, Sri Sultan Hamengku Buwono X memberikan sejumlah masukan yang berfokus pada kualitas renovasi.
Sultan meminta agar PT HIN tidak terjebak pada target waktu dan tetap mengutamakan ketelitian.
“Ngarsa Dalem berpesan agar kami tidak terburu-buru dalam menyelesaikan renovasi. Beliau ingin prosesnya memastikan hasil akhir yang detail, rapi, dan berkualitas, karena bangunan ini merupakan cagar budaya,” ungkap Maria.
Sultan juga menyoroti pentingnya sinergi perbaikan hotel dengan penataan kawasan Malioboro, khususnya terkait akses parkir.
Menurutnya, perbaikan parkir hotel harus mendukung rencana besar penataan pedestrian di tahun 2026.
“Ngarsa Dalem mendukung penuh rencana Grand Hotel De Djokja, terutama terkait pembangunan area parkir yang lebih baik. Ini penting agar penataan pedestrian Malioboro bisa berjalan selaras,” ujar Maria.
Maria menambahkan Renovasi Grand Hotel De Djokja bukan sekadar proyek pembaruan fisik, tetapi juga langkah menghidupkan kembali jejak sejarah Yogyakarta.
PT HIN berkomitmen menghadirkan hotel yang tidak hanya megah secara arsitektur, tetapi juga pandai menjaga warisan budaya yang melekat padanya lebih dari satu abad.
“Di bawah dukungan dan arahan Ngarsa Dalem, Grand Hotel De Djokja bersiap memasuki era baru tanpa meninggalkan jejak masa lalunya yang agung,” tuturnya. (ef linangkung)