
KabarJawa.com– Gunungkidul tidak lagi berdiri sebagai wilayah yang tertinggal seperti satu dekade lalu. Jalan-jalan kini membentang, akses terbuka dari berbagai penjuru, dan geliat ekonomi mulai terasa.
Namun di balik kemajuan itu, Sri Sultan Hamengkubuwono X melihat satu persoalan mendasar: pembangunan belum sepenuhnya menyentuh seluruh wilayah secara adil.
Di tengah derasnya arus investasi yang mengalir ke kawasan Pantai Selatan (Pansela), Sultan justru mengarahkan pandangannya ke desa-desa yang belum tersentuh geliat yang sama. Ia menegaskan bahwa masa depan Gunungkidul tidak boleh hanya bertumpu pada pesona pantai.
Pembangunan Gunungkidul
Dalam keterangannya di Taman Budaya Gunungkidul, Sultan menggambarkan perubahan signifikan yang terjadi dalam 10 hingga 15 tahun terakhir. Infrastruktur jalan yang dulu menjadi hambatan utama, kini perlahan teratasi.
Akses menuju Gunungkidul dari arah barat, utara, timur, hingga selatan kini semakin mudah. Mobilitas masyarakat meningkat, distribusi barang lebih lancar, dan peluang ekonomi mulai terbuka.
“Sekarang akses sudah lebih terbuka dari berbagai penjuru. Tantangannya adalah bagaimana pembangunan bisa merata, tidak hanya terfokus di kawasan pantai,” tegas Sultan.
Sultan tidak menampik pesatnya perkembangan kawasan Pansela. Deretan pantai eksotis yang membentang di selatan Gunungkidul menjadi magnet bagi investor. Hotel, restoran, hingga destinasi wisata baru bermunculan.
Namun di sisi lain, wilayah pedalaman dan desa-desa di luar jalur wisata masih bergerak lebih lambat.
Ketimpangan ini, menurut Sultan, berpotensi menciptakan kesenjangan ekonomi jika tidak segera diatasi. Ia menekankan bahwa pembangunan harus memberi ruang bagi seluruh masyarakat untuk tumbuh bersama.
“Pertumbuhan itu harus dirasakan semua wilayah, bukan hanya satu kawasan saja,” ujarnya.
Sebagai jawaban atas ketimpangan tersebut, Pemerintah Daerah DIY menggulirkan program Lumbung Mataraman. Program ini tidak sekadar proyek pertanian, tetapi dirancang sebagai gerakan ekonomi berbasis desa.
Melalui Lumbung Mataraman, masyarakat, terutama kelompok kurang mampu, mendapat kesempatan mengelola lahan produktif. Setiap kelompok bahkan disiapkan lahan awal sekitar satu hektare.
Tidak hanya bertani, masyarakat juga dapat mengembangkan usaha peternakan seperti ayam petelur dan ayam pedaging. Program ini semakin kuat dengan dukungan kerja sama bersama program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang membuka jalur distribusi hasil produksi.
Dengan sistem ini, hasil panen tidak berhenti di ladang. Produk langsung terserap pasar, menciptakan siklus ekonomi yang hidup di tingkat desa.
Menggerakkan Ekonomi dari Akar Rumput
Sultan menegaskan bahwa kekuatan utama program ini terletak pada dampaknya yang langsung menyentuh masyarakat.
Uang hasil produksi akan berputar di desa. Petani dan peternak mendapatkan penghasilan, daya beli meningkat, dan aktivitas ekonomi lokal tumbuh secara alami.
“Dengan begitu, perputaran ekonomi terjadi di desa. Ini yang ingin kita dorong,” jelas Sultan.
Ia juga menambahkan bahwa program ini akan terus dipercepat sebagai langkah konkret menghadirkan keadilan ekonomi.
Lebih jauh, Sultan memandang pemerataan pembangunan sebagai fondasi utama kemajuan jangka panjang. Ia ingin memastikan bahwa setiap warga, di mana pun mereka tinggal, memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang.
Pertumbuhan ekonomi yang tinggi, menurutnya, tidak akan berarti jika hanya dinikmati oleh sebagian wilayah.
Sebaliknya, pemerataan akan menciptakan kesejahteraan yang lebih kokoh dan berkelanjutan.
“Biarpun secara formal semua memberikan pertumbuhan ekonomi, yang penting masyarakat di seluruh Gunungkidul bisa merasakan manfaatnya,” ungkapnya.
Langkah Sri Sultan Hamengkubuwono X menjadi sinyal kuat bahwa arah pembangunan Gunungkidul tengah bergeser.
Dari yang semula bertumpu pada pariwisata pantai, kini mulai merambah ke sektor produktif berbasis masyarakat.
Lumbung Mataraman hadir sebagai simbol perubahan: bahwa desa bukan lagi objek pembangunan, melainkan subjek utama.
Jika program ini berjalan konsisten, Gunungkidul tidak hanya terkenal karena keindahan pantainya, tetapi juga karena kekuatan ekonomi desa yang mandiri dan merata. (ef linangkung)