
KabarJawa.com – Suasana Malioboro pada Sabtu pagi kini terasa berbeda. Wisatawan yang biasanya hanya berjalan santai, berburu kuliner, atau berfoto di kawasan ikonik Yogyakarta itu kini diajak ikut belajar budaya Jawa langsung di ruang publik.
Lewat program Setu Sinau ing Malioboro, kawasan pedestrian Malioboro berubah menjadi ruang belajar budaya terbuka yang menghadirkan kelas seni dan tradisi Jawa secara interaktif.
Sejak pagi, suara gamelan terdengar bersahut-sahutan di tengah keramaian wisatawan. Di sudut lain, anak-anak tampak memainkan dolanan tradisional, sementara sejumlah pengunjung serius mencoba menulis aksara Jawa di atas lembar kertas.
Program ini dirancang dalam konsep street workshop atau kelas budaya singkat yang bisa diikuti siapa saja tanpa syarat khusus. Pengunjung cukup datang lalu bergabung dengan aktivitas budaya yang tersedia.
Enam Kelas Budaya Digelar Bersamaan
Dalam pelaksanaannya, Setu Sinau menghadirkan enam kelas budaya yang digelar paralel di kawasan Malioboro.
Kelas tersebut meliputi:
- Sinau Aksara Jawa
- Sinau Nggamel
- Sinau Ngadi Busana
- Sinau Njoged
- Sinau Nggambar
- Sinau Dolanan Anak
Seluruh kegiatan dipandu pelaku seni dan komunitas budaya Yogyakarta yang aktif melestarikan tradisi lokal. Pengunjung tidak hanya menyaksikan pertunjukan, tetapi juga langsung mencoba setiap aktivitas.
Beberapa wisatawan domestik terlihat antusias memainkan gamelan untuk pertama kalinya. Ada juga wisatawan muda yang sibuk merekam proses belajar aksara Jawa menggunakan telepon genggam mereka.
Di area lain, kelompok anak-anak tampak tertawa mengikuti permainan tradisional yang jarang ditemui di ruang publik perkotaan.
Malioboro Didorong Jadi Ruang Budaya Hidup
Kepala Seksi Bahasa dan Sastra Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta, Ismawati Retno, mengatakan program Setu Sinau menjadi bagian dari upaya mendekatkan budaya kepada masyarakat, terutama generasi muda.
“Aksara Jawa dan berbagai ekspresi budaya lainnya perlu dikenalkan dengan cara yang menarik agar tetap hidup dan relevan di tengah perkembangan zaman,” ujar Ismawati, Sabtu (9/5/2026).
Menurutnya, pendekatan belajar di ruang terbuka jauh lebih efektif menarik perhatian masyarakat dibanding metode konvensional.
Banyak pengunjung yang awalnya hanya berjalan santai atau olahraga pagi akhirnya berhenti untuk menonton lalu ikut belajar.
“Kegiatan ini hadir rutin setiap Sabtu pagi sebagai atraksi budaya khas Malioboro, yang diharapkan mampu memperkuat citra Malioboro sebagai ruang budaya yang tidak hanya menawarkan pengalaman wisata, namun juga pengetahuan dan keterlibatan langsung bagi setiap pengunjung,” katanya.
Program tersebut sekaligus memperlihatkan bagaimana ruang publik bisa bertransformasi menjadi sarana edukasi budaya yang inklusif.
Tidak ada batasan usia maupun latar belakang bagi peserta.
Pengunjung Antusias Belajar Aksara Jawa
Di kelas Sinau Aksara Jawa, sejumlah peserta terlihat berusaha memahami bentuk dan cara penulisan huruf tradisional Jawa. Meski terlihat rumit di awal, banyak peserta justru menikmati proses belajar tersebut.
Salah satu peserta, Normawati, warga Panggungharjo, Sewon, Bantul, mengaku tertarik mendalami aksara Jawa karena metode pembelajarannya terasa santai dan mudah dipahami.
“Belajar aksara Jawa cukup menantang, tetapi karena ada sistemnya jadi lebih mudah dipahami. Saya berharap semakin banyak orang ikut belajar di sini,” ujarnya.
Menurut Normawati, konsep belajar terbuka seperti ini efektif mengenalkan budaya kepada anak-anak dan generasi muda.
“Pembelajarannya menarik dan mudah dipahami. Anak-anak jadi lebih mengenal budaya, khususnya aksara Jawa,” katanya.
Wisata Malioboro Kini Tak Sekadar Belanja
Kehadiran Setu Sinau memperlihatkan perubahan wajah Malioboro yang kini tidak hanya identik dengan pusat belanja dan kuliner.
Kawasan tersebut mulai berkembang menjadi ruang interaksi budaya yang aktif dan edukatif.
Wisatawan tidak lagi sekadar datang untuk melihat suasana kota, tetapi juga ikut merasakan langsung praktik budaya Jawa di tengah ruang publik.