
KabarJawa.com– Pengamat politik dan filsuf nasional, Rocky Gerung, kembali mengguncang ruang publik dengan pernyataan tajam yang membakar semangat ratusan intelektual muda di Yogyakarta.
Ia hadir dalam gelaran Public Lecture Series 002 oleh organisasi Pandu Negeri. Rocky menegaskan bahwa Yogyakarta harus tetap menjadi benteng terakhir akal sehat dan menolak keras upaya menjadikan sebagai Kandang Gajah bagi para pemburu kekuasaan pragmatis.
Ia menyampaikan pernyataan tersebut secara lantang di kawasan Embung Giwangan, di hadapan mahasiswa, aktivis, akademisi, dan komunitas intelektual.
Dalam kegiatan ini, Rocky membangun argumentasi secara sistematis, menyulut kesadaran kolektif audiens tentang pentingnya menjaga marwah intelektual Yogyakarta sebagai kota pendidikan.
Rocky Gerung dalam Public Lecture Series 002 di Yogyakarta
Ia menyebut Yogyakarta sebagai daerah yang memiliki imunitas terhadap pendangkalan intelektual. Kota ini sejak lama melahirkan tradisi berpikir kritis yang tidak mudah dijinakkan oleh arus kekuasaan.
Ia menegaskan bahwa Jogja merupakan Community of Thought atau Komunitas Berpikir yang hidup dan bergerak secara organik. Menurutnya, masyarakat intelektual di kota ini tidak sekadar memproduksi wacana, tetapi juga merawat nalar kritis sebagai fondasi demokrasi.
“Jogja ini adalah tempat orang datang untuk bertengkar secara akademis. Kita mempertahankan perdebatan sebagai tradisi ilmiah. Jangan sampai ruang ini dirampas oleh makhluk-makhluk pragmatis dan rakus yang ingin merampas hak generasi,” tegas Rocky. Ia mengingatkan bahwa demokrasi tidak boleh hanya bertumpu pada elektabilitas. Ia menolak keras desain politik yang hanya mengandalkan popularitas dan survei tanpa memperhitungkan kualitas intelektual serta integritas moral.
Rocky melontarkan metafora Kandang Gajah untuk menggambarkan ancaman dominasi kekuatan besar atau elite politik yang berupaya menjinakkan nalar kritis masyarakat Yogyakarta demi kepentingan kekuasaan sesaat.
Ia menggambarkan kandang sebagai ruang sempit yang membatasi gerak, membungkam kritik, dan memelihara kepatuhan tanpa daya pikir.
Menurutnya, jika Yogyakarta membiarkan intervensi pragmatisme politik masuk tanpa perlawanan intelektual, maka kota ini akan kehilangan identitasnya sebagai pusat peradaban gagasan.
Ia mengajak mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi penonton dalam dinamika politik nasional. Ia mendorong generasi muda untuk mengorganisasi diskursus, memperluas ruang debat, dan memperkuat tradisi literasi sebagai bentuk perlawanan terhadap banalitas kekuasaan.
Seruan Perlawanan Intelektual
Acara yang dipandu oleh Aryo Seno Bagaskoro tersebut berlangsung dinamis. Peserta aktif mengajukan pertanyaan kritis seputar masa depan demokrasi, peran kampus, dan tantangan politik identitas.
Rocky merespons setiap pertanyaan dengan argumentasi tajam, sekaligus menyuntikkan optimisme bahwa perubahan selalu lahir dari keberanian berpikir.
Ia menekankan bahwa kampus tidak boleh berubah menjadi ruang kompromi politik praktis. Ia meminta mahasiswa menjaga independensi akademik dan memperkuat solidaritas antarkomunitas intelektual.
Pada akhir sesi, penyelenggara menyampaikan harapan agar spirit Anti-Kandang Gajah terus menyebar ke berbagai kampus di seluruh Indonesia.
Mereka menargetkan Yogyakarta menjadi episentrum perlawanan intelektual terhadap pragmatisme politik yang semakin menguat.
Rocky menutup kuliah publik tersebut dengan pesan lugas, generasi muda harus mempertahankan akal sehat sebagai instrumen utama demokrasi.
Ia mengingatkan bahwa kekuasaan selalu berupaya mencari legitimasi, tetapi hanya nalar kritis yang mampu menjaga arah bangsa tetap rasional.
Dengan semangat yang membuncah dari Embung Giwangan, Yogyakarta kembali menegaskan posisinya bukan sekadar kota pelajar, melainkan benteng terakhir akal sehat yang berdiri tegak menghadapi tekanan politik pragmatis. (ef linangkung)